Jokowi: Pemimpin Baru untuk Dunia Baru

Kinerja Jokowi sebagai orang nomor satu di negeri ini, belum memberikan kepuasan yang maksimal di beberapa hati masyarakat, bahkan sebagian kebijakannya meninggalkan kritik bahkan perlawanan dari beberapa elemen strategis di bansga ini. Tapi, Jokowi sebagai simbol tuan rumah KAA memberikan kepuasan yang besar, bukan hanya untuk rakyat Indonesia, tapi juga masyarakat di Asia dan Afrika, bahkan masyarakat di dunia yang rindu akan pembumian nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran.

Jokowi mampu membuktikan bahwa Indonesia bukan sekedar event organizer acara internasioanal yang bisa mempersiapkan hal tekhnis dengan rapi. Jokowi berhasil menghidupkan kembali jiwa Soekarno dalam forum Konferensi Asia Afrika (KAA). Jokowi melompati pidato gaya negara berkembang termasuk Indonesia yang terkenal santun, tapi sebenarnya lebih merupakan ekspresi ketakutan kepada negara super power.

Jokowi sebagai tuan rumah dapat meyakinkan semua peserta bahwa perlu ada langkah revolusioner untuk menciptakan keadilan di muka bumi. Jokowi mengajak peserta untuk berani melawan mitos bahwa ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh tiga lembaga, IMF, WB, IDB. Jokowi berteriak kepada semua pimpinan negara Asia-Afrika bahwa PBB harus dipaksa untuk melakukan reformasi agar sesuai dengan tuntutan zaman. Jokowi secara lantang meyakinkan para elit Asia Afrika bahwa masa depan dunia ada di tanah mereka.

Foto: news.liputan6.com

Foto: news.liputan6.com

Sikap politik internasional Jokowi tersebut mengembalikan karakter asli Indonesia di dunia internasional. Bahwa Indonesia bukanlah hanya penggembira dalam tiap forum internasional. Indonesia bukanlah juru bicara dari negara super power kepada negara berkembang, tapi Indonesia adalah pemimpin negara-negara kaum tertindas dalam berbagai bentuknya untuk bersama memerdekakan dirinya 100%.

Jokowi di forum KAA berhasil meyakinkan siapa pun bahwa dia memang anak ideologis Soekarno yang asli. Jokowi mampu mempertontonkan bahwa ia sangat lembut ke dalam negerinya, tapi sangat keras ke luar, sebagaimana yang diteladankan Soekarno. Jokowi berani membakar kapal asing, mengeksekusi mati bandar narkoba, dan mengutuk secara terbuka pihak yang sok berkuasa atas negara-negara berkembang.

Jokowi berhasil membangun optimisme semua peserta KAA bahwa forum tersebut bukan sekedar ceremony dan formalitas. KAA bukan hanya acara reuni yang hedonistik. KAA bukan hanya acara foto-foto dan selfie tingkat internasional. KAA bukan sekedar agenda cipika-cipiki elit Asia dan Afrika. Tapi KAA adalah forum pemberontakan atas segala bentuk penindasan di atas bumi. KAA adalah forum perlawanan atas arogansi beberapa negara maju atas negara berkembang. KAA adalah forum orasi dan bersikap para pemimpin negara-negara di Asia Afrika untuk menekan dan menyadarkan para pihak yang menzalimi mereka berpuluh-puluh tahun lamanya.

Jokowi begitu giat menumbuhkan semangat peserta bahwa KAA harus mampu memperkecil jurang negara kaya dan miskin, mengurangi gejala intoleransi suku dan agama, serta menghilangkan potensi negara gagal diantara anggota-anggotanya.

Kita bersepakat dengan Jokowi dan pendiri KAA, bahwa kita lelah dengan dunia yang kekanak-kanakan. Dunia yang didominasi oleh ego kelompok, dendam, dan perkelahian. Kita merindukan dunia yang dewasa, ketika ketinggian akal digunakan untuk kemaslahatan bersama seluruh isi bumi. Kita menantikan ada interaksi semua aktor di panggung global secara adil.

Foto: tekno.kompas.com

Foto: tekno.kompas.com

Jokowi berhasil membantah mitos bahwa pemimpin negara dunia ketiga, jangankan melawan pemimpin negara adikuasa, berpikir untuk melawannya saja tak berani. Jokowi menampilkan bahwa jangankan memikirkan, ia bahkan berani mengkritik dan memberi ultimatum kepada negara adikuasa untuk berlaku adil kepada semua negara.

Selanjutnya, ruang spesial Palestina untuk dibahas secara serius dan cepat di forum KAA merupakan langkah yang sangat bernyali. Sebagaimana dipahami bahwa kasus Palestina-Israel telah melibatkan negara yang mengaku super power. Olehnya itu, banyak negara yang seolah lupa untuk memasukkan Palestina sebagai isu yang wajib diperjuangkan. Sikap tersebut bukan karena tak tahu, tapi mengambil sikap cari aman atas negara Israel dan super power yang bermain di belakang konflik tersebut.

Pidato Jokowi mencerminkan semangat tuan rumah yang nyata. Jokowi mampu menghidupkan kembali ruh KAA yang sempat mati suri beberapa tahun lamanya. Kemenangan pidato Jokowi terlihat dari banyak apresiasi positif dari beberapa kepala negara anggota KAA, serta respon dari petinggi negeri ini seperti, Ketua MPR, Ketua DPR, dan lainnya yang merasa kagum dan bangga dengan pidato tersebut.

Jokowi berhasil memberi arah forum KAA agar sikap politik global yang diambil oleh elit dari negera KAA tidak seperti yang dipaparkan oleh Richard W.Mansbach dan Kirsten L.Rafferty dalam bukunya Pengantar Politik Global (2012) bahwa politik global adalah sebuah sistem kompleksitas yang terorganisir dimana nasib jutaan orang sering tergantung pada keputusan keliru segelintir pemimpin.

Selamat datang pemimpin baru untuk dunia baru.

A. Zulkarnain

Penggiat di Republik Manusia Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *