Jokowi Dikutuk Seperti Bandit dan Dipuja Seperti Dewa

Sungguh menyakitkan mendapat fakta ini: Joko Widodo, walikota Solo,
menjadi fenomenal karena ia melakukan yang memang semestinya
dilakukan seorang kepala daerah.
Fakta ini menyakitkan karena mengandung makna bahwa
umumnya kepala daerah lain tak melakukan yang semestinya mereka lakukan
(EEP Saefullah, dalam Epilog Buku, Jokowi: dari jualan kursi hingga dua kali mendapat kursi)

Dalam Buku Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang di tulis oleh Cindy Adams, di ceritakan bahwa Soekarno merasa dikutuk seperti bandit dan puja seperti dewa. Yah itulah resiko seorang pejuang, semakin banyak yang mencintainya maka semakin banyak pula yang akan membencinya. Realitas tersebut di alami oleh siapapun yang ingin menggerakan realitas menuju idealitas, termasuk para nabi-nabi.

foto: deviantart.com

foto: deviantart.com

Pertarungan untuk merebut posisi tertinggi di provinsi yang menjadi manifestasi puncak dari negeri ini (DKI) semakin seru. Berbagai jurus dimunculkan. Ilmu marketing politik menjadi begitu seksi menampakkan kandidat yang paling agung, yang paling mulia dan yang paling suci.

Menurut penulis, sangat sederhana cara menilai kandidat mana yang terbaik, yaitu melihat latar belakang masing-masing kandidat. Karena sunguh, keberpihakan pada kebenaran, kesetiaan pada rakyat dan perjuangan terhadap keadilan itu bukan sebuah sulap. Semua itu butuh proses yang panjang. Keberpihakan pada nilai agung tersebut sangat di tentukan pada kualitas intelektual dan spiritualitas sejati seseorang. Intelektual disini bukan hanya diliat pada gelar formal tapi menyatunya ilmu dan perbuatan, kemudian spiritual disini bukan hanya di lihat pada seberapa sering kita memakai ayat dan hadist dalam berpidato, tapi seberapa konsisten kita pada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan serta kesiapan menerima apapun resiko perjuangan.

Dengan segala kerendahan hati, penulis berkesimpulan bahwa Bapak Joko Widodo adalah figur yang mencapai kualitas tersebut. Sekitar 7 tahun menjadi walikota di Solo, bahkan menang telak 91% pada Pilkada Solo 2010, cukup untuk menilai beliau, apakah idealismenya hanya idealisme kampanye atau itu adalah karakter atau kualitas Ruh dari seorang Jokowi.

Jadi seseorang akan berbuat baik dan akan berjuang untuk keadilan, tidak bisa di ukur pada apa yang diungkapkan pada saat berkampanye, tapi harus di lihat pada apa yang dilakukannya beberapa tahun sebelumnya. Karena visi misi itu umumnya dibuat oleh para ahli termasuk para ahli marketing politik yang sewa dengan bayaran yang cukup mahal. Olehnya itu visi misi adalah ukuran nomor dua untuk menentukan pilihan. Yang paling utama adalah latar belakang dari seorang kandidat.

(foto: http://jakarta-baru.blogspot.com)

(foto: http://jakarta-baru.blogspot.com)

Harusnya kita bisa belajar dari banyak pengalaman bahwa begitu banyak janji yang sudah kita dapatkan, tapi tak kunjung membuat kita berubah pada kondisi yang lebih baik. Olehnya itu yang di ukur adalah kinerja. Jadi apakah dia merakyat atau tidak, yang di ukur adalah aktivitas keseharian dari kandidat jauh sebelum momentum kampanye.

Jangan kita memilih kandidat yang dekat dengan rakyat pada saat menjelang pemilu, karena pasti itu semua adalah rekayasa negatif. Itu seperti acting para artis dalam sinetron. Kedekatan dengan rakyat harusnya adalah karakter, tidak ada hubungannya dengan masuk TV dan tidak masuk TV, tidak ada hubungannya ada momentum kampanye atau tidak.

Kesuksesan Jokowi di Solo adalah sangat cukup menjadi saksi atas idealisme beliau. Misalnya:

    • Sukses merelokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) tanpa penggusuran dan kerusuhan.

Itu tak dapat dipisahkan dari cara pandang Jokowi tentang kaum miskin. Jokowi jauh berbeda dengan cara pandang para ekonom neolib dan pejabat pada umumnya, bahwa orang miskin adalah sampah masyarakat yang selalu mengganggu proses pembangunan suatu bangsa.

Bagi Jokowi kaum miskn, termasuk PKL adalah manusia yang punya Ruh Tuhan dalam dirinya. PKL adalah rakyat yang juga punya hak sebagai manusia dan hak sebagai warga Negara. Olehnya itu semua masyarakat apakah dia kaya, sedang mampun miskin semua harus di layani oleh pemerintah. Sungguh cara pandang seperti itu yang mahal di negeri ini. Padahal cara pandang seperti itulah yang di ajarkan oleh para pendiri negeri ini, bahkan cara pandang tersebutlah di ajarkan oleh para nabi-nabi.

    • Berhasil menjaga solo sebagai kota bersih Korupsi ke-3.

Jokowi berhasil membuat terobosan terhadap perbaikan kinerja birokrasi di Solo. Sebagaimana hasil penilaian tim survey Transparency International Indonesia tahun 2010, bahwa kota Solo masuk peringkat ke-3 (IPK 6.00). Sebagaimana yang pernah di ungkapkannya bahwa “kalau orang lain banyak yang pesismis dengan pemberantas korupsi, saya adalah orang optimis. Berantas korupsi itu mudah asal sadar tekad dari para pemimpin.” Beliau selanjutnya mengatakan bahwa ” berantas korupsi itu tergantung komitmen pemimpinnya, maka bawahan akan ikut. Sebab, kalau pemimpinnya bersih dan anak buah kotor maka tinggal ganti saja bawahannya”

    • Berhasil mengangkat mobil “Kiat Esemka” dan membangkitkan industri otomotif dalam negeri.

Kesetiaan Jokowi pada ucapanya di buktikan dengan mengganti mobil dinasnya,dengan mobil rakitan siswa SMK Negeri 2 Solo. Kebijakan tersebut menggetarkan dan membesarkan jiwa seluruh siswa SMK dari ujung utara Sumatera sampai ujung timur Papua.

    • Berhasil menata pasar tradisional

Pasar tradisional yang selalu identik dengan kumuh dan bau bisa di ubah menjadi pasar yang bersih dan indah. Ada 12 pasar tradisional di kota Solo yang ditata dan dibangun ulang menjadi pasar yang megah ala Eropa dan Cina.

Fakta tersebut adalah visi misi sejati beliau untuk Jakarta. Karena kebenaran tidak bisa diukur pada banyaknya iklan politik di TV , surat Kabar, dan banyaknya spanduk di sudut jalan.

Penulis yakin bahwa di setiap zaman Tuhan selalu mengirim manusia besar yang akan berjuang memperbaiki keadaan. Dia hidup ditengah rakyatnya dan siap menerima resiko apapun dari perjuangannya. Yah, untuk Indonesia dan DKI (khususnya), itulah seorang Jokowi

Ditengah lorong yang gelap yang terasa panjang,
Jokowi (dan tokoh-tokoh seperti dia) menunjukkan kepada kita
bahwa nun di sana ada seberkas sinar yang akan menyudahi gulita
dan mengggantinya dengan bederang
(Zainuddin HM, penulis buku Jokowi: dari jualan kursi hingga dua kali mendapat kursi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *