JEJAK LUKA DAN DOSA PARTAI ISLAM

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS: Al-Ankabut: 2-3)

 

Berpolitik membawa nama agama memang menarik. Karena dengan identitas tersebut diharapkan penganut agama bersangkutan akan lebih mudah percaya dan menjadi pemilih setia.

Apalagi ditambah kesadaran umat yang sedang-sedang saja. Mereka terkadang tak menggunakan analisis kritis dalam melihat realitas. Dengan kemampuan retorika yang agak mumpuni dari politisi penjual agama, mereka dapat menarik simpati ummat.

Meskipun masyarakat kecewa dengan kebijakan impor cabe, impor beras, kenaikan BBM dan berbagai kebijakan Mazhab Neolib lainnya, tapi masyarakat kurang bisa menarik garis hubungan antara impor tersebut dengan partai agama, dalam hal ini partai Islam yang ikut kembali berkompetisi di pemilu 2014.

Masyarakat belum mampu membaca dengan baik bahwa kebijakan anti rakyat tersebut hadir karena penguasa ditopang oleh partai koalisi yang termasuk di dalamnya ada partai Islam. Meskipun sangat gamblang dimana hampir semua ketua partai Islam mendapat jatah menteri di kabinet SBY.

Politisi partai Islam seperti membenarkan dan menangkap peluang dari ungkapan Abdul Karim Soroush (dalam Eko Prasetyo, Islam Agama Perlawanan, 2006, hal 80) bahwa “Salah satu penyakit teoritis di dunia Islam yang paling berat, pada umumnya adalah bahwa orang lebih memahami Islam sebagai identitas daripada sebagai kebenaran” .

Foto: hizbut-tahrir.or.id

Foto: hizbut-tahrir.or.id

DINAMIKA PARTAI ISLAM

Sejarah mencatat bagaimana Muhaimin yang kini Ketua Umum PKB pernah mengkhianati Gusdur yang merupakan pendiri PKB. Makanya wajar kalau di momentum Pemilu Legislatif (PILEG) kemarin ada yang memberi nasehat kepada Rhoma Irama dengan kalimat ” klo Gusdur saja Muhaimin berani tipu, apalagi sampean”. Dan hal tersebut semakin terbukti, ketika pasca PILEG nama Rhoma Irama semakin jarang disebut lagi sebagai capres PKB, bahkan muncul berita Muhaimin akan diusung oleh PKB sebagai cawapres. Lebih tajam, peneliti LIPI, Prof Ikrar Nusa Bakti, di salah satu stasiun TV swasta berani mengatakan bahwa sikap Muhaimin terkait Rhoma itu “licik”. (sumber)
Partai Islam seperti PKS juga tak lepas dari konflik parah. Para pendirinya berkelahi satu sama lain. (Lihat).  Bahkan yang paling menyedihkan karena presiden partai tersebut telah menjadi tersangka KPK. Termasuk masalah Fathanah tentang skandal seksnya dan permintaan uang mahar kepada calon Gubernur Sul-Sel, Ilham Arif Sirajuddin sebanyak 8 M yang sedang disidangkan saat ini. Umat Islam harusnya mempertanyakan apa landasan hadist atau ayat yang membuat PKS berani memasang tarif tertentu kepada politisi yang minta dukungan pada pilkada dan momentum politik lainnya.

PPP saat ini dirundung isu penggulingan ketua umumnya, Suryadharma Ali (SDA) karena ikut kampanye partai Gerindra di detik-detik pelaksanaan PILEG kemarin. Sikap tersebut membuat caleg Gerindra dengan mudah meyakinkan masyarakat (akar rumput) bahwa pilihlah kami caleg dari Gerindra, tidak usah pilih caleg PPP karena ketua umumnya sudah mendukung Gerindra.

Bahkan salah satu pengurus PPP berani mengatakan bahwa ketua umumnya telah menyerahkan leher kepada Gerindra dan akan memberi sanksi tegas kepada SDA. Selanjutnya, SDA dianggap otoriter karena memecat pengurus seenaknya, serta dianggap menempatkan dirinya lebih tinggi dari konstitusi partai, makanya statemennya mendukung Prabowo dibatalkan dalam rapat harian pengurus PPP.  (lihat)

Partai Islam lain, PBB juga memperlihatkan hasil yang tak menggembirakan karena untuk perhitungan sementara tidak mencapai 3,5% sebagai syarat masuk parlemen (parliamentary threshold).

Adapun PAN, Ketua Dewan Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PAN Amien Rais pernah menyerang Jokowi dengan mengatakan bahwa Jokowi populer dimata rakyat karena strategi pencitraan, tapi disisi yang lain ia juga pernah mengusulkan bahwa cawapres terbaik Jokowi adalah Hatta Rajasa yang juga ketua Umum PAN.(sumber)

Foto: harapandansemangat.blogspot.com

Foto: harapandansemangat.blogspot.com

Lebih jauh, terkait perilaku politisi partai Islam, Muhaimin Iskandar (Ketum PKB) dalam acara Mata Najwa spesial (9 April 2014)  merespon pertanyaan kemungkinan koalisi parpol Islam dengan jawaban bahwa PKB kapok koalisi dengan partai Islam. Karena katanya, dulu Gusdur didukung oleh poros tengah (poros Islam) untuk jadi presiden, tapi di tengah jalan diturunkan.

Politisi partai Islam waktu itu tak menjelaskan dengan jelas apa kejahatan konstitusional atau apa hadist dan ayat yang Gusdur langgar sehingga dia harus tercatat dalam sejarah sebagai presiden yang di impachment.

MENJADI PEMILIH KRITIS

Para pemilih partai Islam harus kritis mempertanyakan apa yang mereka dapatkan atas dukungan terhadap partai Islam. Bisakah aroma surga dihadirkan, misalnya kesejahteraan dan keamanan hadir saat ini. Kalau menjanjikan idealitas surga hanya di akhirat, sedangkan di dunia harus hidup dengan penuh derita, maka kehadiran partai Islam kehilangan signifikansinya.

Pragmatisme partai Islam yang sangat tinggi, juga bisa terlihat dari hilangnya sosok kharismatik dalam tubuh mereka. Tidak ada tokoh mereka yang pernah membuat gebrakan yang tertanam dalam ingatan masyarakat Indonesia yang mayoritas pengikut Muhammad. Tak ada politisi partai Islam yang mampu menjadi penyambung lidah umat. Partai Islam juga tak memiliki program pembeda dengan partai non agama.

Yang parah karena hanya elit partai Islam yang mendapatkan manfaat dari kekuasaan yang diraih. Mereka rapat di tempat mewah, serta dapat menikah beberapa kali padahal masih banyak pemuda muslim tak dapat menikah karena terkendala biaya. Politisi partai  Islam tidur nyenyak dengan perut kenyang sedangkan umat yang memilihnya tidur dalam kondisi kelaparan.

Selanjutnya, kekerasan atas nama agama, termasuk persoalan terorisme ikut memperburuk citra partai Islam. Masyarakat menangkap bahwa partai berbasis Islam tak mampu melakukan apa-apa pada setiap konflik yang mengatasnamakan Islam. Jadi keberadaan mereka antara ada dan tiada. Ada benderanya, ada kantornya, adapengurusnya, tapi tak kelihatan fungsinya. Politisi partai Islam seolah lupa bahwa jika tidak menjalankan amanat, mereka tidak hanya mengkhianati rakyat, tapi juga mengkhianatiTuhan.

Foto: www.suaranews.com

Foto: www.suaranews.com

Kalau klaim prinsip dasar politisi partai Islam adalah berpolitik untuk amar makruf nahi mungkar, maka dimana para politisi partai Islam dalam berbagai kebijakan yang merugikan masyarakat, dimana politisi partai Islam saat Undang-Undang (UU) pro asing dibuat. Apakah mereka tidur saat rapat atau mereka bagian perumus UU tersebut. Para politisi partai Islam seolah lupa dengan ucapan Muhammad SAW bahwa “Sesungguhnya yang termasuk jihad besar ialah berkata benar kepada penguasa yang zalim”.

Posisi partai Islam yang tak mencapai target dan tidak ada yang naik podium atau masuk tiga besar pada PILEG  kemarin, menjadi saksi bahwa masyarakat sedang memberi sanksi kepada para politisi partai Islam. Pada titik itu tujuan pemilu tercapai yakni sebagai momentum penghakiman kepada para politisi.

Momentum Pemilihan Presiden (PILPRES) 2014 akan menguji keislaman para politisi partai Islam. Momentum tersebut akan menjadi evaluasi apakah mereka benar-benar telah melakukan tobat nasional atau janji tobat hanya strategi marketing politik.

Para politisi partai Islam saat ini harus belajar banyak pada H.O.S Cokroaminoto, KH. Hasyim Asy’ari, Haji Agus Salim, Mohammad Natsir, Ki Bagus Hadikusumo, dkk, dimana mereka berjuang me-Muhammad-kan diri sebelum tampil menjadi elit partai Islam. Hal tersebut terlihat pada sikap mereka yang mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan diri dan kelompok, termasuk konsistensi mereka untuk hidup sederhana dalam perjuangan. Bagi mereka, Islam tak sekedar dagangan politik, tapi harus menjadi aturan main dalam bersikap.

Dalam merespon berbagai kritik, para politisi partai Islam harus berjuang keras untuk membangun modal intelektual dan modal sosial dengan dibingkai keimanan yang kuat. Tak boleh lagi mereka cuci tangan atas berbagai kritik serta mau lolos dari salah dan dosa dengan menebar isu ada konspirasi kepada ummat Islam.

Foto: pemilu.okezone.com

Foto: pemilu.okezone.com

Tulisan ini tak bermaksud mengatakan bahwa partai non agama lebih suci, karena buktinya kader partai non agama jauh lebih banyak yang berumah di neraka kecil ala Indonesia (rutan KPK). Termasuk sejarah mencatat secara ketat bahwa Soeharto mengendalikan Indonesia selama 32 tahun dan melaksanakan berbagai kekejaman, karena tubuh kekuasaannya dirawat dan dijaga oleh partai non agama.

Memberi analisis kritis kepada partai Islam bukan berarti kita melupakan dosa partai non agama. Hanya yang berbeda mereka tak menjual nama Tuhan untuk meyakinkan pemilih.

***

Penulis dibesarkan oleh seorang ibu yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan sebagai Guru Agama Islam. Seandainya beliau masih hidup, pasti akan sangat bersedih melihat apa yang diajarkannya kepada siswanya tentang kemuliaan Islam tak sesuai dengan perilaku orang-orang yang mengaku politisi partai Islam.

“Tidak ada seorang hamba pun yang diamanahi untuk memimpin rakyat oleh Allah,

lalu ia mati dan pada saat mati ia berkhianat pada rakyatnya,

kecuali Allah Swt. mengharamkan surga baginya” 

(HR Muslim)

 

Semoga sikap politisi partai Islam tak semakin mempermalukan ajaran Muhammad.

Salam

Wujudkan Republik Manusia, Tolak Republik Binatang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *