Jangan Lihat Agama Dirut KAI & Wagub DKI, cukup rasakan layanannya

Tak perlu galau dengan agama Dirut Kereta Api Indonesia (KAI) dan Wagub DKI, cukup rasakan pelayanan dan terobosannya. Sambil meyakinkan diri,  mari berlomba berkarya untuk NKRI. Bukan sebaliknya.

Dalam bermasyarakat dan bernegara tak perlu fokus pada agama apa seseorang, tapi cukup mencermati apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Apakah mereka bisa bekerja dengan baik atau tidak. Apakah mereka memiliki jejak karya sosial atau tidak.

Bukankah para jamaah haji tak pernah bertanya apa agama pilot yang membawanya ke Mekkah. Mereka hanya mau tahu bahwa bisa sampai ke tanah suci dengan selamat. Para jamaah umroh tak mau pusing dengan siapa dan apa agama pembuat pesawat Boeing yang mereka tumpangi untuk bergerak menuju rumah Tuhan. Yang penting pesawat tersebut merupakan pesawat yang dianggap aman dan nyaman digunakan.

Kita juga tak pernah mau pusing siapa dan apa agama pencipta Microsoft, Facebook, Twitter, Path, dan lainnya. Intinya, apakah sesuatu itu berguna atau tidak. Begitu pun  harusnya kita membaca Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pak Ahok dan DIRUT Kereta Api Indonesia (KAI), Pak Ignatius Jonan.

Pelayanan kereta saat ini semakin mengarah ke standar pelayanan kereta Eropa. Senyuman semakin mudah ditemukan pada wajah penjual tiket dan satpam di stasiun kereta. Begitu halnya kebersihan, full AC, dll, semakin bergerak menyempurna. Satu hal yang menarik juga dari Pak Ignatius Jonan, disaat momen mudik lebaran, ia sekitar setengah bulan tidak pernah pulang ke rumah, dan memilih hidup di kereta karena sibuk memantau langsung arus mudik dan balik. (Lihat). Tentu pertanyaan kritis harus tetap diberikan kepada Pak Jonan terhadap agenda pembersihan kaum miskin yang selama menempel di pinggir rel dan stasiun kereta api untuk bertahan hidup. Bagaimana mendialogkan agenda peningkatan layanan publik dan di sisi lain, tetap memberi pemuliaan kepada kaum proletar.  Karena membela dan melindungi kaum miskin bukan hanya perintah Undang-Undang, tapi perintah suci dari Tuhan. Jejak para nabi di bumi menjelaskan itu.

Foto: bisniskeuangan.kompas.com

Foto: bisniskeuangan.kompas.com

Terobosan Pak Ahok, tentu bersama temannya yang bernama Pak Jokowi, misalnya, pemasangan CCTV di Kelurahan dan Kecamatan, mewajibkan PNS DKI masuk kantor pukul 07.30 WIB teng, PNS dilarang main ke luar kantor saat jam kerja, PNS di DKI Jakarta diminta tak takut bersuara, juga birokrat diminta tak sungkan temui warga. (sumber). Selanjutnya, perombakan besar-besaran pejabat di Pemprov DKI, yakni ada lebih dari 2.000 pejabat yang akan dirombak dan dilantik secara bersamaan pada September mendatang. (sumber). Terobosan tersebut merupakan pertama kali dilakukan di Indonesia.

Ahok juga tercatat memiliki nyali melawan mafia tempat hiburan malam serta memarahi PNS nakal. Ahok juga meminta agar video rapat yang dia lakukan dimasukkan di Youtube, tanpa perlu ada proses editing. Langkah tersebut diambil agar masyarakat bisa tahu apa yang sedang dilakukan oleh orang yang telah dipilihnya saat pilkada.

Foto: en.tempo.co

Foto: en.tempo.co

Saatnya negeri ini bergerak. Bahwa siapa pun yang memiliki kapasitas terbaik dan idealisme tertinggi maka dialah yang akan menduduki posisi kunci di segala bidang negeri ini. Tanpa perlu menghabiskan waktu melihat agama apa, suku apa, jenis kelamin apa, dan warna kulit apa.  Perdebatan tentang hal tersebut kita harus yakini sudah selesai pada tahun 1928 dengan hadirnya sumpah pemuda.

Semua manusia mulia, karena ada ruh Tuhan dalam dirinya. Makanya pada pemilihan pejabat publik, mari fokus memeriksa siapa manusia yang paling kuat dan konsisten menjaga Ruh Ilahiah yang ada dalam dirinya. Tentu keterjagaan Ruh Ilahiah dilihat pada karakter berpikir dan perilaku. Bukan hanya simbol baju dan  pilihan kosakata  yang berbau Ilahiah.

***

Mencurigai sesuatu itu adalah hal yang wajar sebagai bentuk kewaspadaan, dan gerak fungsi akal yang sifatnya fitrawi,  tapi kita tak boleh lupa untuk mencurigai diri sendiri kenapa tak bisa melakukan kebaikan dan terobosan besar seperti yang mereka lakukan.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *