Islam Agama Anti Penindasan

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dikatakan beriman orang yang dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya tertidur dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari)

Salah satu pemikir besar yang memberi kritik terhadap agama adalah Karl Marx. Menurutnya agama adalah produk penguasa dimana agama adalah candu masyarakat. Agama punya fungsi untuk mempertahankan kekuasaan penguasa dengan menciptakan idiom-idiom kepatuhan kepada penguasa. Menurut Marx, agama tidak mengajarkan perlawanan terhadap kaum borjuis atau perlawanan terhadap kezaliman. Tapi, agama dengan salah satu idiomnya hanya mengajarkan sabar dan dengan kesabaran akan mendekatkan pada surga. Jadi kalau melakukan perlawanan atau pemberontakan terhadap penguasa yang zalim maka akan masuk neraka. Para tokoh agama hanyalah perpanjangan tangan dari para penguasa serta para borjuis.

Agama juga terkadang hanya mengajarkan bagaimana bisa masuk surga sendiri, bagaimana bisa beriman sendiri, bagaimana bisa selamat sendiri. Sedangkan tukang becak yang digusur, pemulung yang lapar, penjual sayur dan pedagang kecil lainnya di pasar tradisional yang tergusur oleh Mall, tidak perlu dipikirkan.

Kritikan terhadap Islam tidak harus ditanggapi dengan emosi atau hanya dibantah dalam bentuk diskusi atau ceramah. Tapi semua kritikan atau keraguan tersebut harus dijelaskan dengan aksi nyata bahwa Islam punya perbedaan dengan agama lain. Bahwa Islam adalah agama yang konkrit dan sangat realistis.

Aksi ribuan ibu-ibu anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) beserta putri remaja masjid se-Kabupaten Pamekasan, Sabtu (24/11/2012). (Sumber gambar: http://www.lensaindonesia.com)

Aksi ribuan ibu-ibu anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) beserta putri remaja masjid se-Kabupaten Pamekasan, Sabtu (24/11/2012). (Sumber gambar: http://www.lensaindonesia.com)

Ada begitu banyak masalah yang melanda umat Islam saat ini, termasuk yang ada di Indonesia. Salah satu yang sangat menarik adalah Negara Indonesia yang dianggap sebagai Negara yang terbesar umat muslimnya tapi ternyata menjadi Negara terkorup di dunia. Begitu pula realitas kemiskinan, realitas penggusuran, busung lapar telah menjadi penampakan yang biasa di negeri ini.

Termasuk juga realitas masjid mewah yang disekitarnya begitu banyak masyarakat miskin. Patut memang ketika ada yang memunculkan pengandaian bahwa sekiranya Rasul masih hidup, apakah beliau akan mengizinkan pembangunan masjid mewah dengan bahan impor yang bermerek tinggi dan sangat-sangat mahal. Sedangkan ada umat muslim yang untuk makan satu kali sehari saja sangat sulit karena tercekik oleh kemiskinan.

Tak dapat dipungkiri pula bahwa jumlah umat muslim yang sangat besar secara kuantitas terkadang tidak menjamin adanya relasi positif terhadap kualitas.

Oleh karena itu yang harus menjadi pertanyaan kunci adalah dimana para ustad, ulama dan orang yang mengaku beragama disaat masyarakat kelaparan, disaat masyarakat dibunuh atas nama perdagangan bebas disaat rakyat digusur atas nama kebersihan kota. Dimana mereka disaat di pagi hari, ada anak kecil yang menangis karena ibunya tak mampu lagi membelikannya susu. Dan di sisi yang lain, ada para pejabat yang hidup mewah menggunakan uang rakyat.

Salah satu nasihat dari Nelson Mandela, bahwa suatu Negara jangan dinilai dari cara memperlakukan warganya yang paling tinggi, tetapi bagaimana Negara itu memperlakukan warganya yang paling rendah. Kita semua bisa menyaksikan bagaimana hampir setiap hari masyarakat paling rendah (baca: miskin), pedagang kaki lima digusur oleh pemerintah, tukang becak ditangkap, pemulung dipukul, anak jalanan terkadang hilang tanpa sebab yang jelas. Pemerintah dengan paradigma (baca:cara pandang) pembangunannya, telah menganggap mereka sebagai musuh. Tukang becak, penjual sayur, dll dianggap sebagai sampah. Sungguh realitas yang mengiris hati.

Seandainya Rasulullah Muhammad SAW masih ada. Sungguh beliau akan menangis dan sangat marah melihat kaum muslim yang lain dan ulama yang punya kesehatan, ilmu dan harta, tapi hanya diam melihat kenyataan tersebut.

Begitu pula perampokan legal kekayaan alam yang dilakukan oleh perusahaan asing, harusnya mereka (baca:umat islam, termasuk ulama) mengkritisi bukan hanya mau cerdas sendiri dan masuk surga sendiri.

Sejarah para nabi adalah sejarah para pejuang-pejuang tangguh. Bukan orang yang banyak bicara idealisme atau bicara Tuhan tapi diam terhadap masalah nyata masyarakat. Para nabi tidak hanya menceritakan kebaikan di surga di suatu saat kelak, tapi juga memperjuangkannya di bumi. Bahkan beliau beberapa kali harus terluka karena membela agama dan nasib umatnya. Karena ulama adalah perpanjangan sejarah kenabian, maka harusnya mereka (baca: ulama) yang mengambil peran tersebut sekarang ini. Misalnya: ketika ada yang mau digusur maka harusnya ulama juga ada di tengah masyarakat untuk terlibat mencari solusi yang terbaik. Tidak hanya mengurung diri dalam mesjid atau dalam rumah dan membiarkan para koruptor berkeliaran. Membiarkan para pejabat hidup mewah dan berpesta pora di tengah masyarakat yang kelaparan serta membiarkan para kapitalis (baca: pengusaha rakus) untuk menghisap masyarakat kecil.

Realitas saat ini, terkadang orang-orang yang jarang ibadah (baca: shalat, puasa,dll) tapi mereka siap capek, siap terluka bahkan siap mati demi membela yang benar dan berjuang bersama rakyat tertindas. Harusnya para ulama dan orang yang mengaku beragama tersinggung dan malu terhadap mereka. Karena seharusnya orang yang beragama yang percaya tentang Tauhid, kenabian dan eskatologi (baca: hari akhirat) memberi contoh (baca:teladan) kepada siapapun bahwa Islam adalah agama yang benar dan universal. Bahwa Islam mengatur semua hal, mulai dari tips masuk kamar mandi, tips berdagang, tips menikah sampai pada bagaimana cara melawan kezaliman dimanapun dan kapanpun.

Dan..oh..sungguh itulah yang diajarkan para nabi. Yang harusnya kita ikuti, sebagaimana janji kita dalam syahadat. Yang setiap hari kita ucapkan.

Olehnya itu, wajar juga kalau kemudian muncul kritik bahwa syahadat, tidak hanya di mulut, tapi harus dibuktikan dalam perilaku dan karakter berpikir. Karena kalau hanya dimulut, maka burung beo pun bisa kalau dilatih.

Harusnya ulama sebagai orang yang punya spirit Ilahi dan relasi spirit kenabian. Tampil di depan membela yang benar dan membongkar keangkuhan para penguasa yang zalim. Serta bangkit menghilangkan para pengusaha rakus yang menempati bumi yang subur dan indah ini.

“Karena ilmu yang tidak bermanfaat ibarat sampah dalam tengkorak kepala”.

Begitupula para pemuda muslim harusnya, tidak larut dalam hedonisme, tidak menghabiskan waktu untuk “tawaf” (baca: berkeliling) di Mall atau hanya memikirkan diri sendiri. Tapi para pemuda muslim selain terus belajar juga harus melatih idealisme dan nyalinya, dengan merespon kezaliman yang ada. Sebagaimana juga yang telah dibahasakan oleh Soe Hok Gie bahwa: Kini mereka telah mengkhianati perjuangannya, kita generasi muda ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau.

Sekali lagi, mungkin kita tidak sepakat dengan apa yang dikatakan Mr.Marx dan para pengkritik lainnya terhadap agama. Olehnya itu, marilah kita sama-sama memberi jawaban yang nyata dengan membuktikan bahwa Islam adalah agama perjuangan.

Islam akan senantiasa melahirkan spirit bagi siapapun untuk bangkit berjuang demi kebenaran dan keadilan dimanapun dan kapanpun.

Sudah bukan waktunya hanya menghabiskan waktu untuk berdebat dan saling mengkafirkan antara golongan atau mazhab. Tapi saatnya berlomba dalam kebaikan (baca: aksi nyata). Karena masyarakat, terutama masyarakat miskin, bertanya, kapan ada sekolah gratis atau murah dan berkualitas, kapan ada pesantren gratis atau murah dan berkualitas, kapan ada kesehatan gratis atau kesehatan yang murah dan berkualitas.

Harus disadari bahwa konflik yang terpelihara dalam tubuh umat Islam sengaja diciptakan atau diskenariokan oleh musuh-musuh Islam. Sehingga disaat umat Islam sibuk berdebat dan berkonflik, maka mereka leluasa untuk terus korupsi. Leluasa untuk terus merampok kekayaan alam kita. Olehnya itu kita harus sangat hati-hati terhadap manajemen konflik oleh pihak-pihak tertentu.

Karena sesungguhnya mereka sangat takut kalau para pemuda muslim ada di jalanan berteriak tentang lawan penindasan, lawan kapitalisme, lawan neokolonialisme, hentikan peperangan di Libanon, di Palestina, dan lain-lain. Mereka (baca: para penjajah) sangat senang kalau para pemuda muslim hanya ada dalam masjid. Menyibukkan diri hanya dengan hafalan Al-quran, zikir, puasa, dll. Dan tidak perlu peduli dengan masalah nyata masyarakat. Bahkan mereka siap memberi bantuan yang besar untuk pembangunan mesjid, mushallah, dan lainnya. Karena sekali lagi yang mereka takutkan adalah ketika umat muslin termasuk para pemuda muslim ada di jalanan dan berteriak lantang..lawan..lawan..dan lawan. Layakya Islam di zaman Rasulullah Muhammad SAW yang menakutkan bagi para penindas, yang manakutkan bagi para penjahat dan menggelisahkan semua orang-orang yang serakah.

Beberapa kritik atas realitas umat Islam dalam tulisan ini adalah bentuk kecintaan dan keyakinan penulis bahwa memang Islam adalah agama yang terbaik, sempurna dan paling progresif dari semua agama atau ideologi yang ada.

Penulis sangat yakin bahwa kesatuan antara ritual dan aksi sosial umat Islam, suatu saat akan kembali menjadi kenyataan. Bahwa Islam adalah ideologi untuk menuju surga dan sekaligus ideologi yang terbaik untuk menciptakan surga (baca: kemanusiaan, kebenaran,kesejahteraan dan keadilan) di muka bumi ini.

Bahwa perjalanan vertikal dan horizontal adalah satu paket. Dan mustahil untuk bisa dipisahkan sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi-nabi.

Diskusi tentang peran agama sebagai spirit perubahan sosial atau spirit untuk berjuang, bukanlah hal baru. Sejarah para nabi-nabi di setiap zaman adalah sejarah perjuangan. Para nabi adalah para pemberontak agung yang memberontak untuk menghancurkan penindasan, memusnahkan pembodahan dan mengusir kemiskinan di zamannya. Mereka mengajak penguasa dan masyarakat untuk hidup atas nama Tauhid. Bahwa dalam kehidupan tidak ada dan tidak perlu ada, kelas sosial antara kaya miskin, tidak perlu ada perdebatan antara suku atau antara golongan, tidak perlu ada gengsi antara negara, tidak perlu ada gengsi warna kulit, dan lainnya karena yang terbaik adalah yang bertakwa.

Berarti siapa yang hidup dan berjuang untuk kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dengan spirit Tauhid maka dialah yang terbaik.

Sejarah juga mencatat pemberontakan masyarakat di Philipina yang dipimpin oleh Pendeta, pemberontakan masyarakat di Thailand yang melibatkan Biksu, begitu pula perjuangan masyarakat Tibet sampai detik ini yang dipimpin oleh para biksu. Sejarah juga mencatat pemberontakan masyarakat di beberapa Negara Latin yang melibatkan Pendeta. Dan salah satu bukti sejarah, yang banyak mengangetkan para pengamat politik dan pakar Ilmu Sosial adalah Revolusi Iran tahun 1979. Dimana pemberontakan masyarakat terhadap Reza Pahlevi yang merupakan Presiden boneka Amerika Serikat, sukses dan dipimpin oleh seorang ulama tua yang punya ilmu sangat luas, progresif dan konsisten yang bernama Imam Khomeini.

Revolusi Islam Iran telah membantah teori usang yang diyakini oleh banyak pemikir Barat. Bahwa perdebatan tatanan peradaban modern, tidak hanya menjadi milik ideologi sosialisme dan kapitalisme. Tapi agama pun, termasuk Islam bisa bicara lantang dan memberi solusi konkrit atas persoalan kehidupan. Bahwa Islam bukan hanya mengurus persoalan individu. Tapi semua hal dalam kehidupan diaturnya. Itulah kesempurnaan Islam. Sebagaimana sempurnanya sang Maha Sempurna: Allah SWT.

Hari ini juga fakta memperlihatkan bahwa pemberontakan masyarakat di Palestina, di Libanon, di Gaza senantiasa melibatkan ulama yang progresif dan konsisten. Ulama yang tidak rela melihat negaranya dijajah. Ulama yang tidak rela melihat anak kecil menangis di pagi hari karena ibunya tidak sanggup lagi membelikannya susu. Ulama yang tidak tega melihat umatnya menderita. Makanya mereka mengambil sikap untuk hidup dan berjuang bersama mereka. Bukan memisahkan diri darinya.

Seperti itulah harusnya para ustad dan ulama. Sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Bahwa ustad dan ulama bukan raja yang selalu minta dilayani. Tapi ustad dan ulama adalah para pelayan kemanusiaan. Ustad dan Ulama adalah para pejuang kebenaran dan pemimpin pasukan Tuhan di muka bumi.

Rasulullah SAW bersabda: “Engkau akan melihat orang-orang yang beriman dalam kasih sayang mereka, dalam kecintaan mereka dan dalam keakraban mereka antar sesamanya adalah bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka sakitnya itu akan merembet ke seluruh tubuhnya, sehingga (semua anggota tubuhnya) merasa sakit, dan merasakan demam (karenanya)”. (HR. Bukhari)

Karena ulama adalah pelanjut tugas kenabian.

Ustad dan Ulama tidak hanya menunggu untuk didatangi. Tapi ustad dan ulama harus mendatangi umatnya, termasuk masyarakat yang miskin. Mendengarkan mereka bercerita dan membantunya.

Ustad dan Ulama harus tampil di depan ketika ada kezaliman. Ketika ada indikasi atau fakta korupsi harusnya ulama tampil untuk mempertanyakan dan menghentikannya. Ketika ada penggusuran harusnya ustad dan ulama tampil untuk berpikir dan mengambil solusi yang terbaik. Ketika ada perampokan kekayaan alam oleh perusahaan asing yang merugikan tanah air. Harusnya ustad dan ulama tampil untuk meluruskannya. Begitu pula penyusunan dan penggunaan uang rakyat dalam APBD dan APBN harusnya ulama ikut mengontrolnya. Karena uang tersebut adalah uang umat (baca:uang rakyat) maka harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk membiayai hidup mewah para anggota dewan, hidup mewah presiden, hidup mewah para menteri, hidup mewah para gubernur, hidup mewah para bupati, dan lain sebagainya.

Beberapa warga Irak melakukan protes terhadap AS dan Israel (Sumber gambar: http://www.alarabiya.net)

Beberapa warga Irak melakukan protes terhadap AS dan Israel (Sumber gambar: http://www.alarabiya.net)

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dari masyarakat kecil ketika mereka akan digusur adalah dimana para santri ? dimana para ust ? dimana para ulama ?

Harapan mereka adalah ada yang datang menemaninya cerita serta memberikan masukan atau solusi atas masalah yang mereka hadapi.

Kita harus optimis bahwa substansi Islam akan menjadi tatanan nilai yang tidak hanya ada dalam kitab tapi menjadi suatu realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih jauh lagi substansi Islam akan terimplementasi dalam seluruh sektor kehidupan di bumi ini.

Untuk konteks Indonesia, kita masih bisa melihat ada ustad dan ulama yang berani mengkritik pemerintah. Termasuk ada santri yang mendemo bupati yang terbukti korup, sehingga Bupati tersebut bisa masuk penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Itu adalah fakta-fakta kecil yang bisa membuat kita tersenyum. Dan Rasullulah Muhammad SAW pun pasti tersenyum dengan hal tersebut.

Begitupula sebaliknya, mungkin beliau sangat sedih ketika ada ustad dan ulama yang hanya diam melihat umat atau rakyat miskin digusur. Diam melihat negara yang kaya raya seperti Indonesia diubah menjadi negara pengemis. Karena korupsi para pejabat dan perampokan kekayaan alam oleh perusahaan asing yang serakah.

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104)

Sumber: Buku: A.Zulkarnain, Pare dan Catatan Tak Usai: PERGOLAKAN MAHASISWA dan Spirit Kampung Bahasa Pare, 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *