Iriana-ku, Iriana-mu, Iriana-kita

 Perempuan adalah nafas revolusi

Perjalanan karir politik Jokowi yang melejit dan sangat cemerlang mustahil bisa dipisahkan dari peran kekasihnya, Iriana Joko Widodo.

Ibu Iriana bisa lebih mudah memahami wong cilik, karena memang ia lahir dan dibesarkan dari kaum tersebut. Kaum yang sering dihina dan disakiti oleh kaum berduit, bahkan oleh negara. Ibu Iriana adalah anak orang ndeso, bukan anak  konglomerat, bukan pula anak petinggi militer.

Ibu Iriana tidak berdandan cosmopolitan, tapi apa adanya. Salah seorang pengamat gaya hidup dan mode ternama pernah menyarankan agar Ibu Iriana sebaiknya merubah gaya penampilannya mengikuti trend masyarakat metropolis. Ia disarankan harus tampil dengan kreasi lain dan tidak monoton. Akan tetapi, Ibu Iriana masih saja tampil dengan gaya sederhana.  Pakaian dan aksesoris yang dipergunakan Ibu Iriana bukan produk terkenal, tapi barang yang mudah ditemukan di pasar rakyat. Ibu Iriana sukses memberi warna lain, disaat banyak istri pejabat yang semakin hedonis dan terjerumus memanfaatkan jabatan suami untuk menumpuk kekayaan.

Satu penyakit parah di negeri ini adalah kemewahan hidup para pemimpin daerah, maupun nasional. Para istri pejabat menggoda para PNS rendahan untuk mengikuti gaya hidupnya. Kalau pejabat elit korupsinya bergengsi sebagaimana yang sering dibongkar KPK, maka yang PNS rendahan, melalui pungli, manipulasi jumlah peserta penyuluhan agar fee-nya bisa diambil, dan sejenisnya.

Foto: nasional.kompas.com

Foto: nasional.kompas.com

Karena Ibu Iriana telah menjadi Ibu negara, maka ibu-ibu pejabat berusaha menggunakan tas, sepatu, baju, jam tangan yang tak lebih mahal dari apa yang digunakan Ibu Iriana. Begitupun make upnya tidak lagi glamour, tapi yang sederhana saja yang soft  dan natural.

Kedepan ibu-ibu pejabat serta banyak ibu-ibu di negeri ini akan malu bersikap sombong. Mereka semakin tawadhu, rendah hati, karena secara harta dan jabatan harusnya Ibu Iriana lebih bisa untuk sombong, tapi ia tak pernah melakukannya. Begitu halnya  kebiasaan bergosip bisa semakin dikurangi, karena Ibu Iriana tak suka dengan hal terseIbut.

Ke depan para istri pejabat, tergoda untuk selalu murah senyum, menghormati bawahan, memuliakan rakyat, dan  rendah hati, sebagaimana yang ditampilkan Ibu Iriana di Solo dan DKI selama ini.

Ke depan banyak perempuan yang akan termotivasi untuk terus belajar, sebagaimana Ibu Iriana yang merupakan lulusan magister manajemen. Tentu, menjadi catatan tambahan bahwa semakin tinggi ilmu, maka semakin menunduk pemiliknya. Itulah yang diteladankan Ibu Iriana sejak awal sampai pasca pelantikan sebagai First Lady.

Ke depan para ibu-ibu juga bisa belajar tentang kesabaran dari Ibu Iriana. Ia tidak pernah berpidato atau berkomentar di Instagram atau media mainstream dengan marah-marah karena ia, suami, dan anaknya dihina.

Bagi para orang tua yang (masih) kapitalistik dalam memandang cinta dan pernikahan, juga mendesak untuk menimba ilmu dari Ibu Iriana, bagaimana ia bersedia menikah dengan lelaki yang hanya mampu menyiapkan cincin kawin seharga Rp 24 ribu (sumber). Ia bersedia menerima pinangan Pak Jokowi karena ia sadar bahwa mustahil cinta hanya dipandang pada materi. Apalagi harus diukur pada saat itu. Ibu Iriana dengan kejernihan jiwanya mampu membaca bahwa ia sedang menikah dengan lelaki yang baik yang penuh idealisme, maka tentu Tuhan akan senantiasa menuntun arah rumah tangga mereka. Ternyata pernikahan dengan cincin Rp 24 ribu itu berujung dengan status yang semua perempuan di bumi impikan, yakni, menjadi ibu negara.

Selamat berjuang dan berkarya First Lady Iriana. Semoga sukses mewujudkan kemuliaan Indonesia, termasuk mengangkat derajat seluruh kaum perempuan di negeri ini.

Lima tahun waktu Anda untuk membuktikan bahwa mustahil Tuhan menciptakan perempuan hanya sebagai penggembira dalam kehidupan. Gelorakan dan buktikan bahwa perempuan juga subtansi yang senantiasa ikut menggerakan peradaban.

 “Peran wanita sangat besar untuk membuat Indonesia

menjadi negara yang lebih baik”

(Iriana Joko Widodo)

 

Jakarta, 21 Oktober 2014

Salam

A.Zulkarnain

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *