INSIDEN ROSSI-MARQUEZ DAN POLITIK INDONESIA

Seri ketiga Moto GP di Argentina menjadi seri paling dramatis di musim 2015 ini. Ditandai  dengan drama, motor terbakar, dan jatuhnya beberapa pembalap. Yang paling mengesankan tentu adu strategi tingkat tinggi antara Valentino Rossi dan Marc Marquez.

Rossi dan Marquez dua kali bersenggolan di tikungan. Pada senggolan yang pertama mereka berdua masih bisa saling menguasai kuda besi masing-masing, tapi pada saat senggolan yang kedua Marquez lepas kendali. Marquez terlempar dari tunggangannya dan gagal kembali ke lintasan.

Bagi penggila Moto GP, tentu drama tersebut memiliki nilai seni yang begitu tinggi. Tarian Rossi dan Marquez di lintasan motor cepat tersebut sukses memberi hiburan yang sangat mahal dan berkelas. Begitulah jadinya ketika intelektualitas dan nyali terpadu apik dalam diri seorang aktor pembalap Moto GP.

KEMATANGAN ROSSI-MARQUEZ

Mereka berdua memiliki kematangan dalam dunia balap. Mereka sangat panas di lintasan tapi sejuk di luar lintasan. Memang salah satu ciri manusia besar adalah ketinggian akhlaknya. Terbukti, kalimat pertama yang diucapkan Rossi saat diwawancarai adalah permintaan maaf kepada Marquez. Padahal Rossi tentu sangat paham bahwa kejatuhan Marquez bukan karena kesalahannya, tapi murni agresifitas Marquez yang memang menjadi khasnya. Hal tersebut diperkuat dengan hasil investigasi dari pihak penyelenggara yang menyimpulkan bahwa kejatuhan Marquez murni kecelakaan.

Selanjutnya, Marquez tetap menghargai dan memuliakan Rossi meskipun ia gagal finish dan tak mendapatkan poin di seri Argentina karena pertarungan keras dengan Rossi. “Saya selalu bilang kalau dia (Rossi) adalah idola, panutan, jadi saya selalu belajar dari dia. Sekarang kami harus memikirkan soal Jerez dan mulai mengumpulkan poin yang terbuang,” (sumber)

Kearifan tingkat tinggi dua pembalap fenomenal tersebut disempurnakan dengan komentar indah dari pimpinan Tim Repsol Honda Livio Suppo bahwa kecelakaan pembalapnya, Marquez adalah hal yang biasa terjadi. “Strateginya berjalan nyaris sampai akhir, tapi kemudian sayang sekali kita tidak melihat duel bagus antara Vale dan Marc, tapi hal-hal semacam ini biasa terjadi,” tuturnya. (lihat)

Yang menarik dari dua tokoh tersebut adalah kebesaran jiwa mereka untuk menghargai suatu kompetisi. Diantara mereka tidak perlu membingungkan penonton dan para fans dengan selalu memasukkan aroma konspirasi ketika mengalami kekalahan. Sebagaimana isu yang sering dimainkan para politisi negeri ini ketika kalah dalam kompetisi politik tingkat lokal maupun nasional.

Foto: olahraga.kompasiana.com

Foto: olahraga.kompasiana.com

PEMBALAP TUA DAN POLITISI TUA

Rossi tidak melakukan suatu konspirasi untuk membunuh potensi anak muda yang menjadi saingannya. Ia justru membuka sekolah balap untuk mempertajam kualitas pembalap generasi dibawahnya. Ia juga tak keberatan berbagi tips saat sesi kualifikasi dengan pembalap yang akan dihadapinya saat race.

Rossi fair dengan sistem yang ada. Ia bersaing secara adil dalam tiap kompetisi. Rossi tak menggunakan ke-tua-annya (senioritas) untuk mempengaruhi hasil suatu kompetisi atau menciutkan pesaingnya yang masih muda. Fakta tersebut tentu menghardik para politisi tua di negeri ini yang tak pernah berani berkompetisi secara jernih dengan juniornya, terutama dalam pemilihan ketua umum partai. Para politisi tua yang masih menjabat ketua partai di bangsa ini selalu menghalalkan segala cara agar tetap bertahan. Salah satu cara mereka adalah melanggengkan pemilihan model aklamasi saat kongres, tapi disaat yang sama terlibat merumuskan dan menjalankan sistem pemilihan  langsung untuk pilkada, pileg, dan pilpres. Jadi, demokratis keluar, tapi berbau otoriter ke dalam.

Harusnya politisi tua negeri ini belajar kepada pembalap tua, Valentino Rossi. Bahwa untuk terus eksis di tengah suburnya pembalap muda, bukanlah dengan banyak mengeluh, bukan hanya mendongengkan prestasi masa lalu, sebagai pendiri partai, sebagai pihak yang pernah berkeringat membangun dan membesarkan partai.

Rossi berjuang untuk tetap eksis dengan terus berlatih, memperbaiki kinerja tim untuk meraih kemenangan satu demi satu. Rossi selalu bersemangat memberi apresiasi kepada pembalap muda yang berhasil juara dan mencapai podium, meskipun ia kadang tak mencapai hasil tersebut.

PARTAI PENGUSUNG MARQUEZ

Tim Honda sebagai partai pengusung Marquez tentu tak selalu puas dan bahagia dengan kerja Marquez. Apalagi Marquez diawal naik di kelas bergengsi Moto GP, sering terjatuh dan tak finish karena agersifitasnya di atas aspal. Makanya Tim Honda sudah beberapa kali memberi saran kritik kepada Marquez untuk penyempurnaan kinerjanya diatas kuda besi. Hanya Honda punya cara elegan berkomunikasi ke Marquez agar pesan sampai secara positif dan masyarakat luas, terutama fans berat Marquez tak tersinggung dan kebingungan.

Itulah yang membedakan perilaku partai pengusung Marquez dengan partai pengusung presiden negeri ini. Ada yang melindungi kebesaran jagoannya, yang satunya lagi mempermalukannya. Kalau bahasa pengamat politik Hanta Yuda, perilaku tersebut sukses menghemat energi pihak oposisi.

***

Mari menanti tarian lanjutan para pembalap besar dan fenomenal di atas panggung lintasan Moto GP, sambil merefleksikan drama politik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *