Identitas Mahasiswa

Tak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang menjadi mahasiswa, disebabkan karena paksaan dari orang tua atau menjadi mahasiswa karena ikut-ikutan.

Banyak juga orang yang mengaku mahasiswa tapi tidak paham tentang apa hakikat kemahasiswaan. Disinilah pentingnya kita memahami tentang Identitas Mahasiswa.

Mahasiswa secara Etimologi (asal kata), berasal dari kata MAHA, yang artinya Besar, Luas, Komprehensif, sedangkan SISWA artinya Pelajar. Jadi Mahasiswa adalah pelajar yang luas ilmunya.

bem.politekniktelkom.ac.id -

sumber gambar: bem.politekniktelkom.ac.id –

Secara umum (tidak mutlak) ada beberapa ciri yang membedakan antara Anak SMA dan Mahasiswa, yaitu:

Anak SMU selalu dicirikan dengan :

  • Manja
  • Kekanak – kanakan
  • Ikut – ikutan
  • Polos

Sedangkan Mahasiswa selalu diidentikkan dengan:

  • Idealis
  • Pembaharu (Revolusioner)
  • Cerdas
  • Kritis
  • Mandiri

Dengan memahami ciri-ciri tersebut, maka dapat dianalisa siapa yang Mahasiswa dan siapa yang seolah-olah Mahasiswa. Dengan artian bahwa mengaku mahasiswa tetapi perilakunya kekanak kanakan, manja, serta terkadang lebih mendahulukan emosi dan otot dalam menyelesaikan masalah.

Jadi faktanya terkadang anak SMA lebih dewasa daripada Mahasiswa. Oleh karena itu ukuran kemahasiswaan seseorang tidaklah cukup hanya diukur dari Kartu Mahasiswa yang dimiliknya serta keikutsertaannya dalam semester berjalan. Tapi, yang paling mendasar menjadi indikator kemahasiswaan seseorang adalah intelektualitasnya, perilakunya yang bijak dan tanggung jawabnya sebagai orang yang berilmu dan terdidik. Seperti tanggung jawab untuk mengkritisi kebijakan kebijakan pemerintah maupun birokrat kampus yang tidak berpihak pada masyarakat tetapi hanya menguntungkan golongan elit tertentu.

Sejarah telah mencatat bahwa perjuangan mahasiswa telah memberikan sumbangsih sangat besar di Bangsa ini, Seperti:

  • 1908
    Yaitu dibentuknya Budi Utomo sebagai wadah perjuangan pelajar untuk menghilangkan ketimpangan (diskriminasi) dalam sektor pendidikan. Dimana pada waktu itu mahasiswa memperjuangkan agar semua orang punya hak yang sama untuk mengenyam pendidikan, tanpa memandang kelas bangsawan atau rakyat jelata, serta apakah pribumi atau non pribumi.Mereka semua punya hak yang sama untuk cerdas dan tercerahkan.
  • 1928
    Dimana pada waktu itu dideklarasikan Sumpah Pemuda untuk mempersatukan kekuatan pemuda dan masyarakat di seluruh pelosok tanah air, seperti Jong Java, Jong Sulawesi, Jong Ambon, Jong Sumatera, dll, dalam melawan penjajah.
  • 1945
    Kembali sejarah mencatat bahwa kaum pelajar (pemuda) pada waktu itu menculik kelompok tua, termasuk Soekarno-Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok dan meminta kepada mereka agar segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia karena pada waktu itu kelompok tua menginginkan agar pembacaan Proklamasi Kemerdekaan menunggu pemberian (restu) dari Jepang, tetapi kelompok Muda menganggap bahwa kemerdekaan tidaklah harus menunggu dari bangsa penjajah (Jepang) , tetapi sesungguhnya kemerdekaan harus direbut sendiri oleh masyarakat Indonesia.
  • 1966
    Dimana mahasiswa terlibat dalam menggulingkan pemerintahan Soekarno, yang pada waktu itu dianggap tidak mampu untuk menyelesaikan masalah bangsa dan masyarakat seperti pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, masalah kemiskinan, pengangguran serta kekecewaan atas keinginan Soekarno yang ingin menjadi Presiden seumur Hidup.
  • 1974
    Mahasiswa pada waktu itu kembali turun ke jalan untuk mengkritisi kebijakan rezim Soeharto ( Orde Baru ) yang dianggap tidak punya komitmen dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa serta terjadinya persaingan produk yang masuk di Indonesia antara Jepang dan Amerika Serikat. Dalam sejarah, peristiwa ini memakan banyak korban dan dikenang dengan Malapetaka Limabelas Januari (MALARI).
  • 1978
    Menteri pendidikan Rezim Soeharto (Orde Baru) pada waktu itu dijabat oleh Daud Yoesuf mengeluarkan kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi kehidupan Kampus). Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi ruang gerak mahasiswa, terutama dalam mengontrol kinerja pemerintahan, karena pemerintah mengganggap bahwa Mahasiswa cukuplah hanya belajar dalam ruangan kelas dan tidak perlu mencampuri urusan-urusan diluar kampus, termasuk mengkritisi kebijakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Dengan berlakunya NKK/BKK tersebut mahasiswa disibukkan hanya dengan kegiatan  kegiatan akademik serta dikeluarkan aturan tentang pembatasan masa studi. Karena banyaknya tugas  tugas kuliah serta waktu di kampus yang begitu singkat, sehingga mahasiswa tidak punya lagi waktu untuk memikirkan dan merespon realitas kemiskinan, penggusuran yang ada diluar kampus. Tak dapat dipungkiri bahwa kebijakan NKK/BKK masih berlaku sampai detik ini. Dengan model yang semakin halus (cantik).
sumber gambar: www.indonesiamedia.com

sumber gambar: www.indonesiamedia.com

 

  • 1980an – 1990an
    Ada dua pendapat dalam menafsirkan sejarah tersebut :
    Kelompok pertama mengganggap bahwa sesungguhnya gerakan mahasiswa pada tahun 1980an 1990an itu mati disebakan karena adanya tindakan represif oleh penguasa pada waktu itu, seperti penculikan beberapa aktivis kampus termasuk dipenjarakannya orang orang yang vokal dalam mengkritisi kebijakan Rezim Soeharto. Termasuk dalam hal ini adalah ditangkapnya musisi Iwan Fals karena lagunya dianggap menyinggung pemerintah . Kelompok kedua mengganggap bahwa gerakan mahasiswa 1980an 1990an sesungguhnya tidaklah mati tetapi gerakan yang dibangun pada waktu itu adalah membangun gerakan bawah tanah seperti memperbanyak kelompok kajian untuk penguatan kader. Di periode tersebut juga yang menjadi cikal bakal lahirnya Non Government Organization (NGO) yang didorong oleh aktivis kampus dan mantan aktivis kampus untuk membangun kekuatan perlawanan di luar kampus.
  • 1998
    Sekali lagi mahasiswa memperlihatkan tanggung jawabnya dalam proses perbaikan bangsa. Dimana pada waktu itu mahasiswa, dosen, petani, tukang becak, dan elemen masyarakat yang lain, sama sama turun ke jalan meneriakkan Reformasi. Adapun yang dituntut mahasiswa pada waktu itu adalah pencabutan dwifungsi ABRI, penegakkan Supermasi Hukum, adili Soeharto dan kroni  kroninya .

Begitu pula pasca 1998, mahasiswa tetap memperlihatkan tanggung jawabnya dalam memperbaiki kondisi bangsa. Salah satunya adalah massifnya gerakan mahasiswa dan elemen lainnya, dalam melawan UU Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), dimana UU tersebut akhirnya harus dicabut oleh Mahkamah Konstitusi karena dianggap bertentangan dengan UUD 45 dan besarnya perlawanan dari mahasiswa dan masyarakat.

Sampai detik ini gerakan mahasiswa terus berlanjut, melawan ketimpangan yang ada

Karena Mahasiswa adalah orang yang sedang menuntut ilmu, dan ilmu (intelektualitas) senantiasa menanti pertanggung jawaban.

Janganlah kita menjadi generasi yang pengecut yang mementingkan diri sendiri dan kelompok dan tidak mau berbuat untuk orang lain dan bangsa.

Selamat belajar dan berjuang..dimanapun dan kapanpun.

***

Sumber: Buku: A.Zulkarnain, Pare dan Catatan Tak Usai: PERGOLAKAN MAHASISWA dan Spirit Kampung Bahasa Pare, 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *