Banjir Besar dan Politisi Besar Jokowi

Pak Jokowi semakin menjadi figur yang dirindukan, dibicarakan tiada henti bahkan dalam skala yang lebih besar. Popularitasnya sebelum pemilu, pada saat pemilu sampai setelah menjabat mempelihatkan arah yang positif. Sulit menemukan figur seperti itu.

Jokowi tidak ingin hidup enak sedangkan ribuan rakyat Jakrta tidur dalam tenda kedinginan dan dengan bahan makanan seadanya. Jokowi seolah mampu merasakan dengan tepat semua hal tersebut. Olehnya itu hari kamis (17/1/13) kemarin sampai tiga kali harus menyambangi lokasi jebolnya tanggul latuharhari. Bahkan pada saat tengah malam di saat rakyat bahkan para pejabat telah tertidur lelap, dia masih menggunakan energinya untuk melihat perkembangan terbaru dari proses perbaikan tanggul tersebut.

foto: http://www.centroone.com/

foto: http://www.centroone.com/


Dialah Jokowi yang disaat menjelang pilkada, beberapa orang sempat meragukan ke-jakarta-an dan keislamannya. Lantas wajar kalau ada yang bertanya. Mengukur keIslaman apakah cukup hanya dengan melihat pernak-pernik islami yang melakat pada tubuh seseorang, atau harus lebih tinggi dan lebih tajam dari semua itu, yakni pada karakter berpikir dan perilaku.

Jokowi dengan kesederhanaan, kepedulian, telah membuktikan bahwa dalam jiwanya tertanam suatu kesadaran tauhid yang besar. Kesadaran tauhid tidak perlu dipromosikan, dia hadir dalam kesaharian. Dia muncul dalam setiap sikap pemiliknya.

Jokowi telah melakukan revolusi kecil di negeri ini. Telah menumbuhkan optimisme banyak orang bahwa ada sisi mulia dari demokrasi. Bahwa pelibatan rakyat secara langsung menentukan pemimpin yang akan menjalankan amanah dan berbagai kepentingan rakyat adalah pilihan yang mulia dan seksi. Jokowi memberi optimisme bahwa transisi demokrasi harus dilanjutkan. Jokowi memberi kabar tegas bahwa masih ada waktu memperbaiki negeri ini.

foto: metro.kompasiana.com

foto: metro.kompasiana.com


Harusnya, siapa pun yang merasa bertuhan, siapa pun yang mengaku wakil rakyat, siapa pun yang mengaku gajinya berasal dari pajak rakyat, bisa melakukan hal yang minimal sama dengan Jokowi. Karena sejatinya Jokowi tidak melakukan hal istimewa, dia hanya menjalankan apa yang tercantum dalam UU dan apa yang terucap saat dilantik yakni menjadi pelayan rakyat.

Gerakan politik Jokowi, dikatakan motif citra adalah analisa yang lemah dan sudah terlampau kadaluarsa karena Jokowi telah menang telak dalam proses pilkada. Apa yang Jokowi lakukan adalah wujud karakter atau jati diri Jokowi. Sekitar 7 tahun Jokowi melakukan pelayanan yang sama kepada rakyat Solo, kemudian beberapa bulan terakhir memperlihatkan kepada rakyat Jakarta. Olehnya itu konsistensi bertahun-tahun sebagai pejabat seperti itu bukanlah karena by design dalam arti ingin menipu rakyat. Gerakan Jokowi saat ini bukanlah target suara, bukanlah target masuk TV, bukanlah target mencari fans. Tapi, suatu kesadaran kemanusiaan yang luhur. Layaknya kesadaran nabi-nabi di setiap zaman. Hadir untuk membela derajat kaum tertindas dengan berbagai macam risikonya.

Selamat kepada pak Jokowi

Telah mejadi guru politik, guru agama, guru filsafat bagi manusia yang rindu ilmu dan teladan di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *