GEJOLAK SILATURAHMI DI HARI YANG MELELAHKAN

Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan.

Sebagaimana kita simak di layar kaca dan layar ponsel.

 

Halaman rumah saya (di dunia maya) juga heboh, karena saya memasang poster/spanduk tentang:

11 ALASAN RENCANA KUDETA BESOK AKAN GAGAL

Misalnya:

Fanspage saya

Dilihat oleh lebih 142 ribu orang

Dihiasi komentar perdebatan hampir 600 kali

Di like lebih 1600 kali

Dishare lebih 130 kali

Konon, salah satu kebahagiaan penulis adalah ketika karyanya dibedah dan diperdebatkan.

foto: Rupawa

foto: Rupawa

Terkait postingan saya tentang isu kudeta yang gagal:

Maaf klo ada yang kurang berkenan

Note:

1. Saya menulis yang saya yakini

2. Klo tulisan ini semacam selebaran/spanduk maka saya kira masih wajar karena saya memasangnya di halaman rumah/akun saya sendiri.

3. Tiap orang mempunyai preferensi/tafsir/kecendrungan/sikap atas realitas sesuai dengan info yang diperoleh. Maka izinkan saya dengan hormat untuk ikut bersikap.

4. Selama ini saya tidak pernah menganggu sikap kawan-kawan juga. Hehee

5. Terimakasih responnya. Karena itu bagian dari menafsir persaudaraan yang sudah lama terbangun.

6.Damai Indonesia. Hehee

Saya jadi rindu ngopi bareng…

Dengan saudaraku semua yang baik hatinya..

 

Mari bahagia

foto: Mediajakarta.com

foto: Mediajakarta.com

PENGHORMATAN:

1. Penghormatan kepada yang tulus berdemo demi keyakinan atas tafsirnya bahwa ucapan terkait Al Maidah adalah penistaan.

2. Hormat juga kepada yang meyakini kalimat itu penistaan, tapi tidak turun demo karena melihat konteks. Sekarang DKI sudah masuk musim kampanye Pilgub dan curiga dengan banyaknya tokoh politik yang aktif dalam mendorong aksi kemarin. Seperti ayah kandung kandidat AHY dan tokoh partai pengusung Anies.

3. Hormat juga kepada yang memaknai Ahok melakukan penistaan, tapi menghargai upaya MINTA MAAF Ahok serta melihat kerja keras (sisi baiknya) telah membangun DKI sebagai gerbang negara.

4. Hormat juga bagi yang tidak berdemo karena menganggap kalimat itu bukan penistaan .

 ***

 Perbedaan sudut pandang di era Bung Karno, dkk tentu lebih sensitif dan tajam, tapi mereka tetap bisa saling memuliakan.

Perbedaan pada beberapa hal tidak menghalangi mereka untuk berkarya, mengusir penjajah yang berusia ratusan tahun dan mendirikan negeri baru di bawah langit Tuhan.

 ***

Kita boleh saja berbeda pandangan atas sesuatu. Kita bisa berasal dari Tanah Arab, Jawa, Cina, Bugis, Batak, dll tapi kita tetap keturunan dari kakek yang sama.

Salam Rindu kepadamu Wahai Adam dan Hawa.

 

Salam

Jakarta, 5 November 2016.

 

a.zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *