Film Soekarno: Soekarnoisasi atau De-Soekarnoisasi

De-Soekarnoisasi marak pada pemerintahan Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto untuk memperkecil peranan dan kehadiran Soekarno dalam sejarah dan dari ingatan bangsa Indonesia . Ada beberapa langkah yang dilakukan, diantaranya: mengganti nama Soekarno yang diberikan pada berbagai tempat atau bangunan di Indonesia. Misalnya, Stadion Gelora Bung Karno diubah menjadi Stadion Utama Senayan, Puncak Soekarno diubah namanya menjadi Puncak Jaya. Kemudian, pada saat Soekarno meninggal, keinginannya untuk dikebumikan di Istana Batu TulisBogor tidak dipenuhi oleh pemerintah. Sebaliknya, Soekarno dikebumikan di Blitar. Suatu tempat yang cukup jauh dari ibu kota negara sehingga mempersulit peziarah dari dalam dan luar negeri.  

De-Soekarnoisasi yang lain adalah  memperkecil peranan Soekarno dalam mencetuskan Pancasila serta tanggal kelahiran pemikiran yang kemudian dijadikan ideologi nasional pada 1 Juni 1945Nugroho Notosusanto, yang merupakan sejarawan resmi Orde Baru dan yang sangat dekat dengan militer, memberi pendapat bahwa tokoh utama yang mencetuskan Pancasila bukanlah Bung Karno, melainkan Mr. Mohammad Yamin, pada tanggal 29 Mei 1945. Pendapat resmi inilah yang selalu dipegang selama masa Orde Baru, dan dicoba ditanamkan lewat program andalan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). (sumber)

foto: www.pramborsfm.com

foto: www.pramborsfm.com

Salah satu yang sangat mewah saat pergi menonton film Soekarno adalah ketika sebelum dimulai pemutaran film, penonton diminta untuk berdiri menyanyikan lagu  Indonesia Raya. Itulah pertama kali penulis merasakan getaran lagu tersebut dari gedung bioskop. Lagu tersebut berhasil mengantar jiwa penonton pada spirit perjuangan berindonesia.

Film Soekarno berhasil menghidupkan kembali suasana perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Film tersebut sukses untuk membuat kita menitikkan airmata atas banyaknya darah yang harus dikorbankan untuk melewati tahapan kemerdekaan. Film tersebut berhasil menghadirkan kisah suka dukanya jadi pejuang  rakyat. Bagaimana pedihnya pindah dari satu pembuangan kepembuangan yang lain. Film tersebut mampu memperlihtakan bagaimana keterlibatan perempuan besar yang mendampingi hidup dan perjuangan sang pejuang besar Soekarno.

Film Soekarno hadir disaat yang tepat. Dimana rakyat akan diminta memilih politisi terbaik pada momemntum pemilihan calon legislatif pada 9 april 2014 kemudian dilanjutkan pemilihan presiden pada 9 Juli 2014.

Rakyat sangat butuh pembanding bagaimana model pemimpin rakyat saat pra dan awal kemerdekaan, kemudian bagaimana model pemimpin saat ini. Minimal rakyat bisa memilih kandidat yang paling mendekati dari para tokoh pejuang tersebut dan menolak yang antitesa dengannya. Bahwa pemimpin rakyat bukan pada siapa yang banyak pidato tentang rakyat, tapi pada siapa yang paling peduli membela rakyat. Apakah dia pernah dipenjara demi rakyat, apakah pernah dibuang demi rakyat, seberapa lama mengalami penderitaan demi rakyat atau apakah pernah berjuang bersama rakyat, atau apakah pernah terbukti membuat kebijakan yang nyata efeknya kepada rakyat.

Film Soekarno perlu di beri pujian yang tinggi, meskipun kita sadar bahwa pasti ada kelemahan, karena film tersebut tidak dibuat di surga, tapi di dunia. Hukum dunia adalah ketidaksempurnaan. Maka keliru kalau mengharap kesempurnaan 100%.

Hanung sebagai sutradara, kembali harus kita kirimkan doa, semoga senantiasa mendapatkan yang terbaik, menurut Tuhan. Kita kagum karena Hanung semakin berhasil menghidupkan dunia perfileman di negeri ini, sekaligus menghidupkan semangat berindonesia disaat negeri ini sedang  dilanda topan kebobrokan moral, kepolosan rakyat dan penghianatan elit.  Hanung telah berhasil mengisi kemerdekaan dengan karya nyata ,misalnya film Brownies, Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah, Perahu Kertas, Habibie & Ainun, dan banyak lainnya.

Kita pun perlu memberi terimakasih kepada sang produser, Ram Punjabi yang berani membiayai film tersebut. Meskipun kita sadar bahwa ada spirit profit disana, tapi kan jauh lebih baik dan mulia membiayai film Soekarno dan sejenisnya, daripada membiayai film pocong seksi dan sejenisnya, yang akan merusak mental masyarakat dan membuat bangsa ini mundur puluhan tahun.

Meskipun ada pro kontra atas film tersebut, tapi kan kita sadar bahwa sejarah tak pernah berdiri tunggal. Manusia besar seperti Soekarno senantiasa memberi banyak ruang bagi para penafsir, tergantung sudut pandang, bahkan tergantung kepentingan. Bukankah hal itu sudah terlihat sejak dulu dari banyaknya buku tentang Soekarno dengan berbagai pro kontranya. Jadi sangat wajar muncul pro kontra dari film Soekarno, sebagaimana yang dikatakan Jokowi “Bung Karno itu milik rakyat Indonesia, bangsa Indonesia beserta seluruh gagasan besarnya.” (http://lampung.tribunnews.com/2013/12/14/jokowi-punya-pandangan-sendiri-soal-film-soekarno)

Realitas negatif yang dominan saat ini seperti banyaknya terjadi konflik atas nama agama, suku, ras dan antar golongan (SARA), konflik tak sehat antar partai, termasuk menjamurnya koruptor  adalah bukti bahwa rakyat dan pemerintah lupa akan pedihnya perjuangan mencapai kemerdekaan. Mereka seenaknya ingin merusak persatuan bangsa, mereka seenaknya bekerjasama dengan asing untuk kembali menjajah negeri ini, tertutama dalam penjajahan ekonomi.

foto: www.wowkeren.com

foto: www.wowkeren.com

Ulama dan Film Soekarno

Wahai ulama dan santri yang soleh nontonlah film Soekarno. Disana anda akan menyaksikan bagaimana seorang ulama berani melawan penjajah Jepang, meskipun akhirnya dibunuh. Kematian para ulama dan santri yang terbunuh dalam film tersebut bukanlah suatu kematian yang konyol karena mereka memberontak melawan penjajah yang bersenjata lengkap. Justru kematian mereka memberi arti tentang apa yang ada dalam jiwa mereka. Seperti yang pernah dipidatokan Bung Karno “ketika Tauhid itu telah menyatu dalam diri seorang muslim, maka dia tidak takut lagi pada mati”. Atau Sebagaimana Abu Dzarr ra yang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Amal apa yang paling utama? Nabi SAW menjawab, “Iman kepada Allah, dan jihad di jalanNya.”[HR. Bukhari]. Ya itulah alasan para ulama dan santri yang terbunuh dalam film tersebut. Mereka lebih memilih mati daripada hidup terhina. Bukan hanya terhina dimata penjajah, tapi lebih jauh mereka takut terhina di mata Tuhan.

Setelah menonton film tersebut wahai ulama ku, semoga engkau dapat terbangun bahwa ternyata sejatinya kita masih dijajah, tapi dalam bentuk yang berbeda. Semoga engkau sadar bahwa cita-cita kemerdekaan tentang tiadanya konflik SARA, adilnya pembangunan, dan lainnya, sungguh belum terwujud, makanya dibutuhkan kekuatan dan persatuan semua pihak untuk mewujudkannya. Termasuk kehadiranmu dengan berbagai kemuliaanmu, sebagaimana kehadiran pendahulumu, ulama dan santri yang terbunuh dalam film tersebut.

Untuk melawan penjajah saat ini, dalam bentuk penjajahan ekonomi asing, serta penjajahan bangsa sendiri oleh para koruptor, sejatinya, tidak pasti beresiko kematian, tapi hanya butuh sedikit militansi untuk mau bangkit memprotes ketidakadilan yang nyata.

Sekiranya wahai ulamaku yang mulia, setelah menonton film tersebut engkau belum merasakan pedihnya proses mencapai kemerdekaan serta janji-janjinya yang masih jauh dari tuntas. Kemudian engkau belum paham dengan baik bahwa kita saat ini masih dijajah. Maka sepertinya perlu ada pembagian buku gratis terkait “ekonomi politik” agar engkau paham bagaimana model penjajahan dan pembodohan antara pengusaha dan penguasa baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Perlu juga ada pembagian buku gratis tentang “analisa wacana kritis” agar engkau bisa semakin tajam dalam membaca realitas yang super modern saat ini, atau perlukah mengulang himbauan mantan Presiden besar Venezuela, Hugo Chavez, saat berpidato di forum PBB yang meminta agar semua delegasi dari berbagai negara serta warga Amerika untuk membaca buku kritis dari Noam Chomsky yang berjudul Hegemony or Survival: America’s Qoest for Global Dominance. Buku tersebut berisi tentang strategi Amerika menipu masyarakat global.

Dengan adanya pembacaan yang jernih dan tajam tentang akar persoalan dan solusi ideal atas masalah diharapkan pada suatu titik engkau bisa berdiri didepan ummatmu atau fansmu dan berkata bahwa mustahil mengaku mencintai Tuhan kalau kita masih membiarkan penindasan dan hanya menonton fenomena kelaparan dan keangkuhan para koruptor. Karena keimananan harus di uji pada tindakan yang pro keadilan, kebenaran dan kemanusiaan, bukan sebaliknya.  Itulah yang dicontohkan oleh ulama dalam film Soekarno, dan lebih jauh, itulah yang dicontohkan oleh para nabi-nabi.

Aktivis dan Film Soekarno

Tuan aktivis nontonlah film Soekarno agar anda paham apa tujuan dari perjuangan. Jangan sampai niat anda jadi aktivis hanya karena mau masuk TV atau mau dekat dengan pejabat atau karena butuh uang, makanya ada legitimasi untuk menjual gerakan dimana-mana.

Wahai tuan aktivis, jika setelah menonton film tersebut anda masih suka menghabiskan waktu dan energi untuk mengurus konflik internal yang tak perlu di momentum pemilihan ketua organisasi di level daerah maupun pusat, atau menumpahkan darah dengan sesama organ gerakan, atau masih mengurus konflik cengeng angkatan atau himpunan. Maka sepertinya anda gagal memahami film Soekarno dan anda gagal memaknai perjuangan untuk kemerdekaan.

Dan wahai tuan aktivis, kalau setelah menonton Film Soekrano, anda masih banyak menghabsikan waktu untuk hidup di dunia gemerlap, di dunia pesta-pesta dari pada bersama dengan rakyat tertindas, maka sungguh anda gagal memahami film tersebut. Begitupun kalau anda masih lebih suka bersama pejabat korup daripada berkumpul bersama sesama pejuang dan rakyat lapar, maka sungguh anda perlu merenung ulang tentang hidup dan perjuangan.

foto: www.film21bioskop.com

foto: www.film21bioskop.com

Politisi dan Film Soekarno

Tuan politisi tontonlah dengan khusyuk Film Sokearno. Anda akan melihat bagaimana Bung Karno selalu memegang buku. Karena logikanya, bagaimana anda dapat memberi pengetahuan kepada kepada rakyat kalau anda tak punya pengetahuan. Bagaimana anda mencerahkan rakyat kalau anda sendiri belum tercerahkan. Kalau anda menjadi politisi dan malas membaca. Jangan sampai niat anda mencerahkan, tapi faktanya menyezatkan. Contohnya adalah anda mempermainkan isu SARA demi mencapai kemenangan jangka pendek, tetapi jangka panjang hal tersebut bisa menjadi penyebab bubarnya NKRI.

Tuan politisi, termasuk yang sudah terdaftar jadi caleg. Sekiranya anda merasa bahwa beban Soekarno , Hatta, Syahrir, dkk terlalu berat. Dimana mereka harus dipenjara, diancam, hidup miskin, dll. Maka sebelum pemilihan 9 April 2014, masih ada waktu untuk memundurkan diri. Karna ketika anda menjadi pejabat, pasti anda bisa saja merasakan hal yang sama, atau lebih kecil atau bisa juga mengalami kondisi yang lebih parah. Setiap pejabat harus siap di teror, di fitnah bahkan siap terbunuh demi prinsip. Demi menjaga agar rakyat tidak merasakan derita, maka cukuplah pemimpin yang merasakannya. Itulah yang dipertontonkan oleh Soekarno, dkk dalam film tersebut.

Sekiranya anda ngotot maju dengan kualitas yang masih jauh atau maju dengan cita-cita politik yang bertentangan dengan Soekarno, dkk. Maka yaknilah anda akan dimarahi oleh Soekarno dan pejuang besar lainnya di alam kubur kelak.  Anda juga akan kewalahan menghadapi rakyat yang semakin cerdas. Apalagi setelah mereka menonton Film Seokarno.

Kaum Perempuan dan Film Soekarno

Wahai kaum perempuan yang suci nontonlah Film Soekarno. Di sana anda akan rasakan kembali bagaimana pedihnya Indonesia didirikan. Di film itu anda akan liat bagaimana fungsi sejatinya para perempuan. Difilm itu anda akan belajar dari Bu Inggit dan Bu Fatma tentang bagaimana memandang suami. Kemudian bagi yang berniat menikah, maka lihatlah di film tersebut bagaimana perempuan besar tersebut memilih suami yang baik, yakni laki-laki yang memiliki visi untuk bangsanya, bukan lelaki kapitalis, individualis, pragmatis, oportunis dan sejenisnya.

Dalam film tersebut kita melihat ketika Soekarno tampak lelah memikirkan strategi menghadapi penjajah baru Nippon, maka Inggit menusukkan kembali motivasi perjuangan kedalam dada Bung Karno dengan mengatakan “Kamu yang akan memanfaatkan Nipon, bukan Nippon yang memanfaatkan kamu”.

Di Film Soekarno lihatlah kebesaran jiwanya Inggit dan Fatmawati yang melihat Soekarno tak hanya milik dirinya, tapi milik banyak orang. Soekarno sang pejuang adalah milik rakyatnya. Lihatlah bagaimana Inggit dan Fatmawati mendukung perjuangan Soekarno dengan menemaninya dalam suka dan duka. Inggit tak pergi atau minta cerai saat suaminya ditangkap dan dibuang di pulau yang jauh, tapi justru Inggit ingin ikut merasakan derita itu. Fatma tak pulang kampung ketika rumahnya hampir setiap malam diteror oleh sekelompok orang yang anti Soekarno. Cinta mereka bukan cinta yang cengeng, tapi cinta yang menjadi spirit revolusi. (Lihat: A. Zulkarnain, Winda: Mozaik Cinta: Dari Revolusi Rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial, 2013).

foto: www.21cineplex.com

foto: www.21cineplex.com

Tuan politisi, tuan aktivis dan para tuan-tuan yang menikmati kemerdekaan semu ini, Soekarnokanlah dirimu, Hattakanlah Jiwamu, Syahrirkanlah visimu, Tan Malakakanlah akalmu.

Tuan politisi secepatnya nontonlah Film Soekarno.  Kalau setelah menontonnya anda masih suka tipu menipu. Masih berpolitik untuk mencuri, maka periksalah jiwa anda. Karena sepertinya ada penyakit parah yang menimpa anda.

Tuan politisi kajilah dengan baik Film Soekarno agar anda paham bagaimana pahit manisnya jadi pejuang rakyat.  Lihatlah dimana peranmu saat ini. Jangan sampai kebengisan anda lebih parah dari Belanda dan Jepang.

Wahai penduduk negeri nontonlah Film Soekarno. Lihatlah bagaimana kuatnya jiwa Soekarno.  Dia tak meninggalkan perjuangan demi untuk mengurus masalah keluarganya. Soekarno berproses menyelesaikan masalah individunya dan masalah sosial sekaligus. Masalah diri, masalah keluarga tak menjadi alasan untuk menghianati perjuangan kemerdekaan yang dicita-citakannya. Kemiskinan Soekarno tak membuatnya mendapatkan alasan untuk menjadi penjilat demi sesuap nasi.

Wahai kaum rakyat yang mulia  lihatlah di film tersebut bagaimana rakyat  mendukung perjuangan Soekarno dalam berbagai bentuknya. Lihatlah Soekarno tak datang membawa benda materi kepada rakyat , tapi hanya membawa visi tentang kebebasan, kesejahteraan dan keadilan.

Wahai para pejuang lihatlah bagaimana Soekarno mengutamakan persatuan daripada nasib dirinya. Dia tahu akan difitnah kalau berkolaborasi dengan Jepang, tapi karena analisisnya terhadap kondisi lokal, nasional dan internasional waktu itu, membuatnya memilih kolaborasi sebagai cara terbaik mencapai kemerdekaan.

Pejuang tak bertindak karena menunggu pujian, karena pujian terkadang tak hadir seketika, dia bisa tertunda sampai beberapa bulan, bahkan puluhan tahun setelah pejuangnya mati, sehingga hanya mampu merasakan pujian itu dari tanah. Lebih jauh, cukuplah yang Maha Tahu mengetahui kebaikan yang kita lakukan.

Pejuang harus mendahulukan kemenangan jangka panjang daripada kemenangan sesaat.  Maka seorang pejuang tak boleh berpikir untuk dirinya tapi untuk yang lebih besar dari dirinya, yakni rakyat dan bangsanya.

Semoga siapapun yang telah menonton film tersebut. Tak lagi mau hidup gratis di negeri ini. Tapi mau berbuat sesuatu demi kebaikannya, sekecil apapun itu. Begituhalnya bagi para koruptor, penjual gerakan, agen asing, dokter kapitalis, wartawan pragmatis, dan lainnya, bisa tersentuh dan sadar untuk menghentikan atau mengurangi perilaku negatifnya.

Bahwa masalah bangsa ini tak boleh diperparah, tapi harus dibantu dengan bersatu mencapai solusi terbaik. Bagi yang suka berkonflik karena masalah cengeng, semoga sadar bahwa para pemimpin besar negeri ini tak pernah mencontohkan hal tersebut.

Jayalah dunia perfileman Indonesia

Jayalah perjuangan

Hidup film berkualitas

Tolak film sampah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *