Es Teler Durian Dan Jokowi

Ceritanya, saya sudah mau bergeser dari mall ini, tapi di pintu keluar, saya melihat pengumuman ini ” Es teler durian”.

Saya kemudian singgah dan kembali membuka alat tulis menulis.

Sejatinya, ada dua hal yang mudah menggoda konsentrasi saya, durian dan MotoGp. Tapi pada keduanya, juga saya bisa menemukan banyak ide baru. Termasuk dalam rangka menyiapkan bahan sebagai narasumber untuk “Simposium Peneliti Jokowi II”, kamis nanti. Yang diinisiasi oleh penggerak milenial Mas Arief Rosyid Hasan.

Saya sampaikan kepada penjualnya, seorang perempuan “Pintar juga anda ya, menyimpan pengumuman ini di posisi yang sangat strategis.” Dia tersenyum hebat, sambil menyiapkan pesanan saya.

Jokowi bisa seperti durian. Ada banyak pengagum beratnya, namun ada juga yang alergi padanya.

Posisi saya adalah mengilmiahkannya.

Belakangan ini, hampir tiap minggu saya bertemu politisi hanya untuk berdiskusi tentang bagaimana tahapan dan trik berpolitik ala Jokowi. Dan bagaimana mengkonteksualisasikan Jokowi Style di dapilnya.

Jokowi bukan dari keluarga elit, tak punya saham di partai politik, politisi lokal (Solo), bukan konglomerat, tidak gagah, bukan intelektual, bukan aktivis, tapi tidak pernah kalah dalam tiap pemilu.

Politisi yang malas belajar dari suatu fenomena politik, hanya akan menjadi spesialis kandidat. Uangnya habis untuk membiayai tim sukses yang selalu sukses, tapi dianya tak pernah sukses.

Meriset fenomena dan membagi substansinya adalah kepingan dari agenda membangun republiknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *