Dulu larang Jokowi Capres, sekarang jadi Cawapres (Kasus JK)

Ada beberapa hal yang perlu dicermati terkait sikap Pak JK yang dulu meminta Pak Jokowi tetap jadi gubernur DKI, dan mengusulkan agar tak usah menjadi capres tahun ini. Dalam melihat manusia, tidak boleh seperti melihat benda mati. Manusia merupakan makhluk yang hidup, makhluk sosial yang selalu punya potensi berubah dari satu sikap ke sikap lainnya. Berubah dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya. Berubah dari satu agama ke agama lainnya.

Hal itu wajar karrna Manusia memiliki akal. Manusia belajar dari pengetahuan dan pengalaman baru. Yang perlu menjadi menjadi pertanyaan kritis adalah apakah ia tetap berpihak pada nilai-nilai kebenaran atau telah mengkhianatinya.

Pada vidio yang beredar, dimana Pak JK mengatakan Pak Jokowi belum saatnya menjadi capres, harus juga di baca secara kontekstual. Karena setiap sikap tak pernah lepas dari konteks. Makanya perlu menjadi pembanding adalah sikap Pak JK yang sangat kagum kepada Jokowi pada momen Pilkada DKI dulu. Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut terang-terangan menyatakan dukungannya pada calon Gubernur DKI Jakarta dari PDIP, Joko Widodo. Sikap Pak JK tersebut jelas bertentangan dengan garis politik Partai Beringin yang telah mendeklarasikan dukungan pada calon Gubernur dari Partai Demokrat, Fauzi Bowo. Pada waktu itu Pak JK berani pasang badan untuk membela politisi pendatang dari Solo, Pak Jokowi dengan mengatakan bahwa Jokowi adalah tipologi pemimpin sedangkan Pak Foke hanya ahli. “Seorang pemimpin bisa mempengaruhi orang lain. Kalau seorang ahli, ya dia kerja sendiri, belum tentu semua ikut,”. (lihat )

foto: news.fimadani.com

foto: news.fimadani.com

Perlu juga menjadi pembanding ucapan Pak JK pada Jumat (14/3/2014) , “Menjadi presiden tidak berarti meninggalkan DKI, kecuali misalnya memimpin di Jatim (Jawa Timur) itu beda. Justru dengan jadi presiden ia akan tetap ada di Jakarta dan bisa banyak yang diperbuat di Jakarta,” selanjutnya “Diatur sama-sama itu bisa saja. Dengan jadi presiden bukan berarti Jakarta ditinggalkan, bagaimana pun DKI ini merupakan ibu kota negara,”.  Kata Jusuf Kalla saat berbincang di kediamannya di Jalan Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (14/3/2014) malam. (sumber )

Yang perlu juga dianalisis adalah bisa saja wawancara Pak JK itu dilakukan saat Pak Jokowi masih baru menjabat sebagai gubernur DKI. Dimana saat itu belum terlihat karya nyata Pak Jokowi sebagai gubernur. Juga belum massif kekuatan rakyat (people power) untuk menjadikan Pak Jokowi sebagai capres. Makanya wajar tokoh seperti Pak JK berkomentar Pak Jokowi idealnya fokus ke Jakarta saja. Bahkan bukan hanya Pak JK yang berpikir demikian, tapi banyak juga tokoh lain dan beberapa masyarakat.

Setelah beberapa waktu berjalan, sampai kemudian masuk momen pencapresan, ada realitas politik baru. Dimana rakyat baik secara individu, maupun  yang terorganisir melalui kelompok relawan berjuang secara massif untuk mendorong Pak Jokowi menjadi capres. Sikap itu muncul setelah mereka melihat bahwa figur capres yang ada hanya 4 L (Loe Lagi Loe Lagi). Adapun Pak Jokowi dianggap sebagai warna baru politik Indonesia.

Saat penulis melakukan penelitian tesis tentang Fenomena Politik Jokowi. Beberapa responden yang tergabung dalam posko relawan Jokowi for presiden , yang penulis temui sekitar 3 bulan yang lalu mengatakan bahwa mereka sudah mengirimkan surat ke Ibu Mega agar memberi mandat capres kepada Pak Jokowi. Kelompok relawan tersebut fokus pada agenda Jokowi capres. Mereka tak ada urusan dengan PILEG dan PDIP maupun urusan dengan siapa cawapres Jokowi nantinya.

foto: www.baratamedia.com

foto: www.baratamedia.com

Proses pertemuan penulis dengan beberapa relawan Pak Jokowi serta wawancara beberapa masyarakat dan akademisi, akhirnya menyimpulkan bahwa Pak Jokowi jadi capres bukan karena keinginan dirinya , bahkan bukan keinginan langsung dari Bu Mega dan PDIP. Karena harus diakui bahwa ada faksi tertentu di PDIP yang tidak ingin Pak Jokowi jadi capres pada saat itu. Sebagaimana umumnya disetiap partai ada beberapa faksi.

Pak Jokowi jadi capres karena Bu Mega berbesar hati merespon permintaan rakyat yang ngotot Pak Jokowi jadi presiden. Hal tetsebut di uji secara ilmiah, melalui survey yang dilakukan oleh internal PDIP maupun lembaga independen yang memperlihatkan hasil yang signifikan bahwa Jokowi memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas tertinggi dari semua nama capres yang ada, termasuk melewati Bu Mega sendiri.

Ditambah, banyaknya surat, usulan dari tokoh masyarakat dan kelompok relawan yang masuk ke Bu Mega juga menjadi alasan tambahan Bu Mega untuk  mencapreskan Pak Jokowi. Pada konteks tersebut, elit politik terutama para ketua partai harusnya belajar kearifan kepada Bu Mega tentang bagaimana partai mendahulukan aspirasi rakyat diatas yang lain.

Ketika Bu Mega menulis surat mandat pencapresan kepada Pak Jokowi, sejatinya, ia telah membunuh ego dirinya yang juga sudah mempersiapkan diri untuk maju sebagai capres 2014. Bahkan tim sukses beliau sudah terbentuk dan berjalan. Makanya sikap besar hati Bu Mega tersebut membuktikan bahwa darah Sukarno masih aktif dalam tubuh beliau.

 PAK JK JADI CAWAPRES

Prestasi Pak Jokowi di DKI seperti memuliakan PKL, berani mengeksekusi kebijakan MRT, Monorel, mengkongkritkan pendidikan dan kesehatan gratis, menempel APBD di tiap kelurahan dan kecamatan, serta banyaknya penghargaan yang diraih Pak Jokowi menjadi pertimbagan khusus Pak JK untuk membuat kesimpulan baru, bahwa memang Pak Jokowi layak menjadi capres 2014.

Adapun sikap Pak JK yang bersedia menerima menjadi wakil Pak Jokowi, bisa menjadi pembelajaran politik bagi para elit dan siapapun. Bahwa menjalani hidup itu harus logis dan realistis. Ketika fakta memperlihatkan bahwa Pak Jokowi adalah politisi yang paling dimuliakan dan dicintai rakyat Indonesia saat ini. Dibuktikan dengan hasil survey dan massifnya relawan Jokowi yang hadir tanpa diminta, maka Pak JK juga berani menurunkan target dengan hanya menjadi wakil dari juniornya sendiri. Itulah ciri keneragawanannya.

foto: www.kaskus.co.id

foto: www.kaskus.co.id

Pak JK adalah tipe politisi yang rasional. Bukan seperti politisi kebanyakan yang terkadang lebih mendengar pujian orang dekat (yang cenderung menjilat) dari pada fakta lapangan. Pak JK bersepakat dengan Pak Dahlan Iskan bahwa Jokowi adalah arus besar kecintaan rakyat, dia tidak bisa dibendung dan itu merupakan realitas politik saat ini.(lihat)

Pak JK merasa tidak terhina ketika ia harus menjadi pembantu Pak Jokowi. Padahal beliau dulu terlibat membesarkan Pak Jokowi untuk tampil dalam politik DKI Jakarta. Sikap Pak JK yang siap menjadi bawahan juniornya, menjadi persaksian bahwa Muhammad tak sekedar menempel pada nama Pak JK ( Muhammad Jusuf Kalla), tapi ia telah menginternalisasi Muhammad kedalam dirinya. Muhammad tak sekedar kata benda, tapi telah menjadi kata sifat bagi Pak JK.

Jadi perubahan sikap dalam hidup adalah hal yang wajar adanya. Apalagi dalam dunia politik yang setiap detik konstalasinya bisa berubah. Jadi kalau ingin menguji kesetiaan sesorang hanya pada ucapan terkait prediksi politiknya, maka banyak tokoh politik yang tak konsisten. Kita bisa melihat ulang bagaimana ucapan Pak Hatta, Pak ARB, termasuk para peserta konvensi Partai Demokrat yang dulu mengatakan akan menjadi capres. Tapi saat ini mereka tidak melaksanakannya karena ada realitas politik PILEG yang tidak sesuai. Kita bisa menerima sikap mereka yang menyesuaikan diri dengan fakta politik. Harusnya begitu pula ketika merespon sikap Pak JK.

Jadi sikap politik berubah itu hal biasa.Yang berbahaya adalah karakter berubah. Dari baik menjadi buruk. Dari rasional menjadi emosional. Dari humanis menjadi tak humanis. Dari rendah hati menjadi arogan, dll.

Salam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *