Derita Munir, Derita Manusia

Nama Munir tidak hanya terkait tentang perjuangan kemanusiaan di Indonesia, tapi juga disetiap tempat dimana nyawa tak dihargai. Maka wajarlah ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry turut memperingati sepuluh tahun tewasnya Munir. Dengan mengatakan “Hari ini, izinkan kami, rakyat Amerika Serikat, bergabung dengan masyarakat Indonesia untuk mengenang peninggalan atau pusaka Munir Said Thalib. Kami menyerukan perlindungan bagi semua yang mengabdikan diri dan berdedikasi untuk perdamaian, demokrasi, dan HAM di seluruh penjuru dunia.” (Lihat).

Meskipun tak pernah mengharap, Munir tetap diganjar berbagai penghargaan, seperti Right Livelihood Award 2000, Mandanjeet Singh Prize UNESCO, Salah satu Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru, Majalah Asiaweek, Oktober 1999; Satu dari seratus tokoh Indonesia abad XX, Majalah Forum Keadilan, dan banyak lagi. (Sumber).

Foto: photo.sindonews.com

Foto: photo.sindonews.com

Munir telah menjadi lagu tentang keberanian, kesederhanaan dan konsistensi.

Munir jarang bicara Tuhan tapi sukses membuktikan bahwa dia adalah pasukan Tuhan yang loyal.

Tentu sikap Munir tersebut berhasil mempermalukan orang-orang yang banyak bicara Tuhan, bahkan bergaya seperti nabi Tuhan, tapi miskin amal sosial.

Munir telah berhasil mempertanggungjawabkan namanya yang berasal dari bahasa Arab yang artinya yang bersinar, yang bercahaya. Sejak era otoriter Suharto, Munir mampu tampil gagah membela kasus pelanggaran HAM. Suatu sikap yang sangat langka waktu itu.

Munir mampu menjadi titik cahaya ditengah kegelapan. Munir begitu ditakuti oleh para pembunuh, disisi yang lain Munir berhasil mengajak banyak orang untuk membunuh.

Membunuh  ketakutan yang tak perlu. Ia sering mengatakan “takutlah pada rasa takut itu sendiri, karena rasa takut membunuh akal sehat dan kecerdasan kita”.

Munir memang telah mati, tapi nilai perjuangannya akan abadi. Setiap orang yang merasakan indahnya era demokrasi hari ini, harusnya mengingat bahwa akibat ini menjadi nyata karena adanya sebab-sebab yang terwujud. Dan Munir adalah salah satu penyusun syarat sebab tersebut.

Foto: http://ini-indonesia-ku.blogspot.com/

Foto: http://ini-indonesia-ku.blogspot.com/

Para aktivis harusnya belajar pada Munir Said Thalib tentang totalitas perjuangan. Para aktivis harusnya memasukkan dalam doanya, semoga kematiannya seperti Munir.

Bukan mati disaat berwisata, bukan mati di sel KPK, bukan mati diranjang yang empuk, bukan mati karena dimakan usia, tapi mati karena perjuangan yang konkrit. Mati dalam perjalanan membawa data penting tentang kejahatan kemanusiaan yang fatal di negerinya.

Salam duka untuk mu Wahai Munir

 

Salam.

a.zulkarnain

Jakarta, 7/9/14.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *