DERITA CINTA DI FILM SILARIANG

Menonton Gala Premiere Film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui di XXI Epicentrum Mall, Jakarta, pada Selasa (16/01/18), seperti mengikuti reuni masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) – Jakarta. Ketika ada penonton yang memesan popcorn dengan berteriak kepada penjualnya, “Mbak, ada benno (bahasa Bugis dari popcorn)?” semua tertawa, seperti menonton layar tancap di kampung.

Film ini sukses menampilkan keindahan Kota Makassar dan keindahan alam Sulsel dengan gunung, sungai, dll. Lokasi utama syuting film ini dilakukan di objek wisata Rammang-Rammang Kabupaten Maros, tempat refreshing outdoor yang lagi hits bagi anak milenial Sulsel saat ini.

Agama sebagai Gincu

Ketika Zulaikha (Andania Suri) menemui ibunya Puang Rabiah (Dewi Irawan) untuk menjelaskan bahwa ia sudah dilamar oleh Yusuf (Bisma Karisma), ibunya menjawab, “Saya tak merestui engkau dengan Yusuf karena dia bukan bangsawan.” Yang menarik, ketika ibunya mengucapkan itu, ia baru beberapa detik selesai mengaji.  Dalam kitab yang dibaca ibunya, dijelaskan bahwa semua manusia sama di mata Tuhan. Kebangsawanan tidak menjadikan seseorang menjadi spesial di mata Tuhan. Maka menolak perjodohan karena alasan darah bangsawan dan bukan, merupakan sikap yang menyakiti pembawa kitab yang dibaca ibunya.

Sebagaimana kalimat tinggi yang mengatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49: 13)

Sikap Ibu Zulaikha di film ini merupakan refleksi atas realitas. Banyak yang mengaku pengikut dan fans Muhammad SAW, tapi memaknai realitas tidak pada prinsip Muhammad. Banyak orang mengaji, tapi tak mengamalkan apa yang dibacanya. Kemuliaan ajaran kitab suci hanya sampai di tenggorokan, tidak menyentuh hati pembacanya.

Foto: Buku Kita

Orangtua Otoriter di Era Milenial

Model relasi orangtua dan anak yang otoritarian sudah tidak kontekstual. Hampir semua bidang sudah meninggalkan pendekatan tersebut. Dalam dunia bisnis, pimpinan yang baik bukan berapa banyak perintahnya, tapi bagaimana bisa bekerja dan berjuang bersama dengan timnya. Dalam politik, era reformasi pada dua dekade silam telah menendang jauh sistem otoritarian. Kita saat ini masuk di era demokrasi, di mana pandangan rakyat merupakan substansi, sehingga siapa yang jadi elite diukur dari berapa kepala yang merestuinya.

Generasi milenial saat ini juga ditandai dengan spirit kemandirian. Mereka ingin menentukan sendiri di mana sekolah, menikah dengan siapa, dan mau jadi apa. Orangtua hanya menjadi teman diskusi agar pilihan tersebut tetap dalam jalur kebaikan. Kecanggihan teknologi membuat pengetahuan bisa dimiliki oleh siapa pun. Prinsip yang paling tua yang paling  hebat karena kenyang dengan manis pahit kehidupan tidak kontekstual lagi. Karena berbagai informasi, teori dan hasil riset terbaru bisa diakses anak milenial dari benda elektronik yang selalu menempel di tangannya.

Kalimat Zulaikha kepada Yusuf sesaat setelah dilamar “Pasti ibuku ndak setuju, tapi mauja menikah sama kita”, serta kalimat Yusuf ketika mengajak Zulaikha untuk Silariang, “Kalo mereka (orangtua) tidak bisa berubah, kita yang berubah, kita yang pergi” adalah ciri dari kemandirian milenial yang dimaksud.

Foto: Beritagar

Memaknai Pertemanan

Orang Bugis Makassar memaknai pertemanan dengan sangat terhormat. Jika seseorang sudah makan bersama, maka telah terjalin ikatan yang tinggi. Itulah yang dilakukan Akbar ketika Om Zulaikha bersama premannya datang ke tempat persembunyian Yusuf-Zulaikha. Akbar mengaku bahwa rumah itu adalah rumahnya. Bahkan ia rela mengaku sebagai Yusuf dengan risiko terluka parah. Itulah pertemanan khas orang Bugis Makasssar. Bersama tidak hanya ketika senang, tapi di momen duka pun harus sama-sama. 

Konon, karena sikap tersebutlah sehingga orang Bugis Makassar selalu diterima di semua tempat. Tengoklah di semua partai politik di negeri ini, Anda akan menemukan orang Bugis Makassar di ring satu. Dulu, di saat seorang ketua partai ditetapkan sebagai tersangka oleh penegak hukum karena kasus korupsi, ada pengurus partai yang orang Bugis tampil paling depan membela. Politisi tersebut dikritik oleh tim sukses dan kerabatnya karena ia sedang bertarung di momen pilkada 2018. Ia diminta untuk sebaiknya jangan tampil terlalu banyak membela ketua umumnya. Ia kemudian menjawab dengan santai, “Tidak boleh begitu. Pertemanan itu di saat suka dan duka.”

Materialisme vs Feodalisme

Di Film ini juga, kita menangkap pertarungan antara kubu yang materialistis dan feodalistis. Ayah Yusuf yang merupakan seorang pengusaha sukses selalu memaknai realitas dengan uang. Apalagi banyak politisi yang sering ke rumahnya minta dana untuk modal berkompetisi di pasar politik. “Pejabat saja ke sini minta dana. Masa saya mau mengemis sama bangsawan itu?” ucapnya kepada Yusuf.

Di sisi yang lain, ibu Zulaikha memaknai realitas dalam kacamata yang feodalistis. Ia menolak permintaan Zulaikha untuk menikah dengan Yusuf karena menganggap darah Yusuf yang rendah, sedangkan darah ia dan keturunannya tinggi. Dia tidak ingin kemurnian darahnya dikotori oleh darah pihak lain yang dari kelas bawah. “Menjaga kemurnian darah itu penting…,” katanya kepada Zulaikha.

Sejatinya ada realitas yang lebih tragis, yakni ketika feodalisme bersetubuh dengan materialisme. Kemurnian darah dan kekayaan menjadi satu ukuran untuk menilai kemuliaan seseorang. Virus ini juga cukup parah terjadi di tengah masyarakat yang mengaku Berketuhanan Yang Maha Esa ini. Mereka seperti lupa bahwa semua manusia adalah cucu dari kakek yang sama, bernama Adam.

Foto: www.tiketfilm.com


Menghidupkan Local Genious

Film seperti Silariang ini perlu didukung agar generasi saat ini memahami bahwa dia sedang hidup mana. Apalagi di tengah gencarnya gempuran budaya asing, seperti koreaisasi, arabisasi, indiaisasi, amerikasiasi, dan lain sebagainya. Generasi yang hidup tanpa memahami akarnya akan mudah diterombang-ambing oleh arus globalisasi yang menyeruduk dengan kepiawaian gombalisasi.

Hal-hal keren yang diciptakan Bill Gates, Mark Zuckerberg, Steve Jobs, dkk perlu kita terima ketika bermanfaat bagi kehidupan. Demikian pula, nilai-nilai dari nenek moyang (local genious) yang memiliki dimensi kebaikan juga perlu untuk dirawat. Kita hanya bisa melangkah dengan baik jika mengelola dua gerak tersebut.

Mengangungkan yang lama secara membabi buta dan menolak semua kebaruan hanya akan menciptakan kemunduran. Sebaliknya, memuliakan kebaruan dan melupakan tradisi yang sudah berjalan ribuan tahun juga berpotensi tersesat. Dialog keduanya adalah jalan terbaik.

Patahan

Karya yang sempurna adalah karya yang tak pernah diciptakan. Karena film ini diedarkan, maka tentu ada kelemahan. Meskipun kekurangan tersebut tak bisa menutupi berbagai kualitas yang telah ditampilkan. Ada beberapa patahan dalam film ini. Misalnya, ketika Yusuf minta cerai, tidak ada narasi yang memadai untuk menjelaskan konteks adegan tersebut. Terkesan plot tersebut dihadirkan untuk sekadar menggambarkan bahwa dalam kehidupan berumah tangga selalu ada suka dan duka.

Patahan lain, ketika anak Yusuf-Zulaikha sakit parah dan membutuhkan darah. Yang terpikir oleh mereka hanyalah darah ibunya Zulaikha. Padahal konteks film tersebut di era modern yang sudah canggih dengan media sosial, mesin pencari google, ada organisasi palang merah, dan lain-lain yang bisa menjadi solusi untuk menemukan darah.

Bisma Karisma yang menjadi pemeran Yusuf beberapa kali kehilangan dialek Bugisnya. Mungkin karena seperti yang diakuinya di salah satu media bahwa proses pendalaman karakter yang diperankannya dipelajari hanya selama dua pekan. Tentu sangat disayangkan. Karena bagi penonton, pronunciation sangat menentukan untuk menemukan rasa. Selanjutnya, lagu Ininnawa yang dimodernisasi, bagi saya kurang pas. Akan lebih tragis ketika versi klasiknya yang ditampilkan sehingga menyempurnakan pesan derita di film ini.

Film ini menarik dijadikan media pencerahan. Jika prinsip hidup calon mertua Anda mirip dengan orangtua Zulaikha dan Yusuf, segera kondisikan calon mertua (camer) Anda untuk pergi menonton film ini. Setelah mereka menyaksikan derita cinta dalam film ini, maka bisa saja dia akan lebih bijak memaknai cinta dan perjodohan anaknya.

Bagi yang suasana rumah tangganya sedang membeku seperti es batu di freezer, maka film ini bisa menjadi pemantik untuk menyegarkannya kembali, karena film ini mengajak penonton merefleksikan kisah awal percintaan. Seperti nasehat Mr Kalend Osen, Pendiri Kampung Bahasa Pare, “Peliharalah pernikahan dengan mengingat ketika awal cinta kedua belah pihak.”(Zul-Winda:Mozaik Cinta, 2013).

Salam

Andi Zulkarnain
https://nalarpolitik.com/derita-cinta-di-film-silariang/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *