Dan Brimob Pun Berdemo

Pada tanggal 16 Oktober 2008, tukang becak, Mahasiswa, penjual sayur, seluruh elemen masyarakat, dan Lembaga Kepolisian sendiri dikagetkan dengan adanya berita demonstrasi yang dilakukan oleh pasukan Brimob dikantor POLDA Sulselbar untuk menuntut transparansi uang koperasi, yang diduga telah disalahgunakan oleh oknum pimpinan Polisi di POLDA Sulselbar. Hal ini dimaknai oleh banyak pihak dengan pandangan yang berbeda. Ada yang memandangnya sebagai hal positif, ada juga yang melihatnya sebagai hal negatif. Sekali lagi semua itu tergantung paradigm (cara pandang) kita dalam melihat suatu realitas.

Bagi yang mengatakan negatif, karena katanya Brimob adalah pihak yang harusnya memberi contoh kepada masyarakat. Termasuk tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah yang baik, yaitu dengan jalur hukum. Demo bagi kelompok ini dianggap sebagai hal yang menyimpang.

Sementara yang memandang hal tersebut positif, karena mereka memahami bahwa tindakan terebut, bukanlah pilihan pertama beberapa Brimob tersebut. Tapi bagian dari solusi terakhir karena mereka sudah beberapa kali melaporkan hal tersebut ke atasannya dan pihak yang terkait tapi mereka selalu dijanji dan dijanji. Akhirnya beberapa Brimob tersebut merasa jenuh dan merasa dibohongi oleh atasannya serta pihak yang terkait. Nah, seperti itulah sehingga mereka menggunakan cara demonstrasi agar masalah tersebut segera diselesaikan.

Yang menarik adalah mendiskusikan apakah demo tersebut berdampak positif terhadap keinginan pendemo (Brimob) atau tidak (sia-sia).

Ketika kita mengikuti perkembangan berita, ternyata setelah aksi tersebut, masalah yang tadinya terkesan ditutupi oleh pimpinan dan hanya diketahui oleh beberapa orang yaitu korban dan beberapa elit kepolisian POLDA Sulselbar. Ternyata langsung menjadi berita nasional, bahkan internasional, karena adanya aparat keamanan yang melakukan demonstrasi untuk menuntut haknya yang dirampas.

(foto: http://www.merdeka.com)

(foto: http://www.merdeka.com)

Realitas tersebut memperkuat bahwa aksi demonstrasi bukanlah hal haram yang tidak boleh dilakukan. Penyelesaian masalah dengan cara diplomasi atau dengan cara yang sesuai dengan aturan, pada kondisi tertentu harus dilanggar. Ketika aturan tersebut tidak lagi bisa menyelesaikan masalah atau mewujudkan yang namanya keadilan.

Inilah alasan mendasar kenapa orang tua kita dulu, rela terjun ke medan perang untuk mengatakan lawan terhadap penjajah, meskipun harus dicap sebagai pemberontak dan hidupnya sangat dekat dengan maut. Tapi itulah pilihan orang-orang merdeka, pilihan orang yang memiliki keimanan yang sejati (bukan keimanan palsu atau keimanan yang keliru). Mereka menolak patuh atas kezaliman. Itulah orang-orang yang cerdas yang memilki kreativitas dalam menyelasikan masalah, tidak hanya melihat metode formal sebagai penyelasaian masalah. Itulah orang berani yang angkat bendera karena lelah dibodohi. Itulah orang-orang yang masih berpihak pada fitrahnya, yaitu senantiasa untuk berjalan pada kebenaran dan meluruskan segala yang bengkok (baca: menyimpang). Itulah manusia-manusia sejati, yang sadar dan telah mengikuti langkah para nabi-nabi dan orang-orang besar di setiap zaman yang menjalankan kerja-kerja kenabian yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan.

Nah lanjut, dari aksi para brimob tersebut, akhirnya anggota Brimob sadar bahwa memang demo adalah salah satu pilihan yang harus dipilih ketika metode biasa telah gagal. Salah satu inti demo adalah teriak, dan itu fitrah manusia dari Tuhan. Kalau seseorang selalu diinjak, maka suatu saat akan teriak. Sebagaimana teriaknya para Brimob di POLDA Sulselbar.

Olehnya itu kepada semua pihak yang merasa punya masalah, punya tuntutan, punya keluhan tapi ternyata belum digubris oleh pihak yang terkait, tidak ada salahnya kita pelajar dari para pendahulu kita (para pejuang) dan belajar dari para Brimob yang demo di kantor POLDA Sulselbar. Bahwa jangan mau tertipu dengan janji, jangan mau jadi manusia yang pasrah, jangan mau jadi penggembira dalam kehidupan. Tapi berdemo-lah ketika cara formal tidak lagi bisa diandalkan. Sekali lagi berdemolah ketika ingin masalah anda cepat didengar. Karena demo mencerminkan kemarahan, demo menggambarkan pemberontakan yang agung, demo menampilkan keberanian dan hal tersebutlah yang sangat ditakutkan oleh para penindas, yang ditakutkan oleh para penjahat, yang ditakutkan oleh para penipu, yang ditakutkan oleh para pengacau-pengacau itu.

Kita sadar bahwa cara demo atau turun ke jalan atau terjun ke medan perang bukanlah hal baru, metode tersebut sudah ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu dicontohkan oleh para tokoh-tokoh besar pemimpin revolusi dan juga para nabi-nabi dalam mewujudkan yang namanya keadilan. Model gerakan tersebut sebagai salah satu metode untuk mendidik mental berani, disiplin, tulus para pengikutnya. Nabi bahkan beberapa kali harus terluka karena memimpin pemberontakan melawan para penjahat di zamannya. Nabi berkali-kali mencontohkan bahwa ummat Islam tidak hanya bertapa di dalam mesjid, tapi terkadang harus ada di medan perang. Demi tegaknya kebenaran.

Orang yang menolak atau membenci demonstrasi, ada beberapa sebab. Bisa jadi dia kurang pengetahuan tentang filosofi atau hakikat demonstrasi, mungkin malas atau belum sempat membaca buku tentang sejarah perubahan sosial. Bisa juga karena terbatas dalam memaknai ajaran agama, atau keliru dalam memaknai sabar dan akhlak.

Bisa juga ada orang yang membenci demo karena dia berada pada kondisi yang mapan, ketika terjadi pemberontakan, dia merasa terancam dengan kemapanan yang sudah dimilikinya, seperti: jabatan, kekayaan, dan lain-lain. Dan yang pasti orang yang sangat membenci demo (pemberontakan jalanan/ perang terbuka terhadap kezaliman) adalah orang-orang yang melakukan penindasan tesebut (pejabat korup, politisi busuk, pengusaha rakus dan kerabatnya) dengan mengatakan demo sebagai hal yang salah, hal yang haram, menganggap demo sebagai hal yang penuh dengan provokasi oknum tertentu, dll. Sungguh mereka adalah orang-orang yang mulai ketakutan dan melempar isu tersebut untuk mengamankan kejahatan atau menyembunyikan kebusukannya.

Kita juga bisa belajar dari perubahan yang pernah terjadi di Perancis, Philipina, Iran, negara Amerika Latin, dan lainnya. Mereka berhasil merebut haknya yang dirampas tidak lagi dengan jalur yang formal. Tapi dengan pemberontakan yang tersistematis di jalanan. Termasuk Indonesia merdeka karena adanya demo atau pemberontakan yang dilakukan oleh para pejuang (semoga Tuhan memberinya tempat yang layak di alam sana) karena telah memberi kita contoh yang baik. Meskipun sayang , masih banyak orang yang belum menangkap makna dari pilihan mereka.

Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun dengan tangan besinya, toh bisa diturunkan dengan kekuatan demonstrasi oleh kekuatan koalisi Mahasiwa dan masyarakat. Meskipun awalnya, banyak pihak yang meragukannya dan beranggapan bahwa demo pada saat itu hanyalah kesia-siaan karena Soeharto masih sangat kuat, dia mengendalikan partai besar, kekuatan militer masih solid, jaringan media dia miliki, kekuatan asing dibelakangnya. Tapi toh kekuatan massa rakyat yang menjadi pemenang.

Kita paham bahwa pejabat atau penguasa, terkadang khilaf (lupa) dan melakukan sesuatu penyimpangan, ada juga pejabat (penguasa) yang pemalas. Olehnya itu dia perlu didesak agar segera bekerja. Penguasa perlu dikontrol secara ketat, supaya tidak berbuat sesuatu yang merugikan kita semua.

(foto: www.sumbawanews.com)

(foto: www.sumbawanews.com)

Kita bisa mengontrolnya dengan membuat agenda dialog dengan mereka, membuat tulisan di media, membuat selebaran dan pada kondisi tertentu ketika jalan formal tidak membuahkan hasil, maka kita perlu mendidiknya dengan demonstrasi.

Kita juga harus yakin bahwa dengan demo, akan melahirkan yang namanya kebersamaaan, melatih militansi, pengorbanan, dan ketulusan. Dimana hal tersebut sangat kita butuhkan dalam manjalani hidup ini. Hal tersebut berarti bahwa demo, bisa menjadi sekolah atau proses pengkaderan atau pelatihan jiwa manusia.

Olehnya itu, jangalah pasrah dengan realitas kezaliman, janganlah diam dengan penjajahan yang kita alami. Segeralah mencerdaskan, mencerahkan diri dan orang lain, kemudian bangun kekuatan untuk melawan. Bangun dialog dengan pihak-pihak yang menindas, kalau tidak memberi efek yang nyata, maka berdemolah. Buatlah parlemen jalanan.

Memang demo menghabiskan suara, demo membuat kita lelah, membuat kita kepanasan, membuat kita lapar. Tapi yakinlah bahwa itu jauh lebih baik dan lebih mulia, dari pada diam dan melihat saudara-saudara kita mati setiap menit karena kelaparan atau karena sakit yang tak terobati.

Lawanlah sifat binatang dalam diri anda, seperti individualisme, pragmatisme. Dan belajarlah untuk hidup berdasarkan fitrah yaitu jalur kebaikan, kebenaran, kemanusiaan.

Janganlah pernah ragu atau takut untuk berdemo, karena hal tersebut diatur dalam Undang-undang No.9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) menegaskan jika setiap warga negara, baik itu perorangan maupun kelompok, bebas menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab di muka umum.

Persoalan tentang kapan menggunakan setting C(Caos) atau setting D(damai), bahkan sampai pada setting Z. Itu semua harus berdasar pada pembacaan terhadap realitas atau situasi yang kita hadapi.

Intinya adalah metode demo sebagai salah satu solusi ketika terjadi kebuntuan dengan pendekatan metode formal, seperti: dialog dan hukum positif yang terkadang dikuasai oleh orang jahat (pejabat yang bermasalah).

Olehnya itu, wahai para tukang becak, penjual sayur, Pedagang Kaki Lima(PK5) yang merasa bahwa pemerintah merugikan anda, pejabat telah berfoya-foya diatas keringat dan darah anda. Kemudian anda telah berusaha protes dengan metode standar tidak bisa memperbaiki keadaan, maka..berdemolah.oh sungguh berdemolah.

Wahai rakyat miskin, yang sangat sulit untruk membelikan susu anaknya, yang sangat sulit makan dalam sehari sedangkan para pejabat tak hentinya beli mobil dinas dengan merek terbaru, serta tak hentinya melakukan perjalanan dinas dengan menggunakan dana yang ada di APBN dan APBD. Kita sudah bersabar supaya mereka berubah, tapi tenyata mereka tidak sadar, bahkan semakin rakus dan merajalela karena kesabaran (diamnya) kita, maka..oh sungguh berdemolah.

Wahai para mahasiswa, yang harus membayar SPP tinggi diluar kewajaran disaat sewa pondokan semakin mahal, harga nasi pondok pun mahal, sedangkan kiriman tetap. Anda sudah berusaha berdialog tapi dicuekin, maka atas nama orang tua anda di kampung, dan atas nama keadilan maka..berdemolah.

Wahai para PNS, wahai para karyawan, wahai para buruh, ketika gaji anda dipotong secara sepihak oleh bos anda, tanpa alasan yang jelas atau upah anda tidak sesuai dengan hasil kerja yang anda berikan. Dan anda telah berjuang dengan metode diplomatis tapi tak membuahkan hasil, maka.. berdemolah.

Wahai para tentara dan Polisi, yang harus siap setiap waktu untuk mengorbankan nyawa di medan perang untuk mempertahan dan mengamankan NKRI, sedangkan hak dasar anda untuk hidup tidak dipenuhi. Keluarga anda harus hidup memperihatinkan (menderita), anak anda yang kecil kesulitan untuk sekolah karena biaya yang tak cukup. Anda kesulitan membayar kontrakan rumah sedangkan bos anda dan para pengambil kebijakan di level elit, hidup mewah. Maka proteslah..dan ketika jalan damai tidak bisa diharapkan, maka dengan segenap gelar kehormatan dan keperkasaan yang engkau sandang, berdemolah. Sungguh negara ini kaya, hanya alokasi anggaran selalu hanya berpihak kepada bos anda dan pejabat elit pemerintahan. Tidak sampai menyentuh ke level bawah seperti anda. Olehnya itu kita harus teriak bersama, agar kekhilafan penguasa bisa terhenti. Dan kita semua bisa hidup layak.

“Hidup ini hanya sekali, makanya kita harus berjuang untuk hidup secara layak. Dimana kebutuhan dasar kita terpenuhi”.

Sumber : Buku : A.Zulkarnain, Pare dan Catatan Tak Usai : PERGOLAKAN MAHASISWA dan Spirit Kampung Bahasa Pare, 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *