Caleg Sembunyi di Mall

Ada suatu kisah, calon legislatif (caleg) yang berjuang mencari suara sampai di mall. Dia ke beberapa mall di dapilnya. Dia menyambangi petugas informasi untuk menyampaikan bahwa, seseorang atas nama X , calon anggota dewan X, dapil X, ditunggu di pusat informasi sekarang. Satu mall mendengar informasi tersebut. Jadi rumusnya, dia perpura-pura mencari dirinya sendiri.

Tentu saya tidak bermaksud memberi usul yang sama kepada semua caleg yang berjumlah 7.968 orang, karena pasti banyak mall yang akan semakin sepi pengunjung. Bukan karena disruption economy sebagaimana fenomena dalam industri 4:0, tapi karena masyarakat ingin menjauh dari arena kampanye politik.  

Agenda promosi yang dibuat secara vulgar belakangan ini semakin membosankan. Ketika kita menonton youtube kemudian muncul pilihan “lewati iklan” setelah lima detik,maka kita segera berdoa semoga detik-detik itu segera berakhir. Makanya, ilmuan yang khusyuk mengaji tema tentang pemasaran, kemudian merumuskan konsep baru yang disebut marketing dengan pendekatan unmarketing.

Foto: www.pexels.com

Beberapa waktu lalu, saya kaget bertemu dengan caleg di mall. Dia menggunakan sweater yang ada penutup kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya.  

Sejatinya, mall adalah ruang publik yang sangat menarik dan strategis bagi caleg untuk memasarkan diri. Pemasaran di sini tidak bermakna harus berbicara menjual diri secara langsung, tapi ada banyak pendekatan, seperti memperlihatkan sikap peduli kepada sesama, murah senyum, kehangatan keluarga, masuk ke toko buku, dan banyak lagi hal positif yang bisa dilakukan dan dikapitalisasi di mall untuk meningkatkan derajat popularitas dan elektabilitas politisi.

Ketika saya merefleksikan pengetahuan yang saya cicipi saat ikut sekolah personal branding politisi Tempo Institute, sekolah politik Akbar Tanjung Institute dan Megawati Institute serta Pengajian Filsafat Politik Komunitas Utan Kayu, ngaji di prodi pasca politik, dan dua tahunan menghabiskan waktu untuk memahami fenomena dan trik politik Jokowi, membuat saya galau tingkat tinggi ketika menemukan caleg yang seperti di mall itu.

Foto: www.pexels.com

Saya bertanya keras, siapa konsultan politiknya atau siapa mentor politiknya. Rumusnya semua petarung membutuhkan pelatih. Valentino Rossi adalah pelatih di sekolah balapnya di Italia. Dia juga juara dunia balap kuda besi 9 kali, namun dia tetap mengontrak pelatih balap. Demikian Ronaldo dan Messi yang sudah beberapa kali menjadi pemain bola terbaik di dunia, tapi tetap butuh mentor. Kenapa?  Karena saat bertarung, objektivitas bisa terganggu karena kelelahan atau berbagai serangan psikologis. Pada dimensi tertentu, politik merupakan perang psikologis. Makanya, ketika psikologi kalah, pertimbangan objektif hilang, maka pemilu hanya menjadi momen peresmian kekalahan.

Dalam dunia politik praktis akan sangat sulit membedakan yang mana pendukung dan mana hanya penjilat. Yang mana intel lawan yang masuk untuk membaca resep dapur politik serta hadir untuk membuat politik pecah belah ala VOC  (devide et impera) dalam ring 1, ring 2 dan seterusnya.

Foto: www.pexels.com

Caleg yang sudah super sibuk akan sulit membedakan siapa orang yang tulus dan siapa yang pemain. Kesimpulan kadang terbalik, yang tulus dibuang, yang penjilat dirangkul dan diberi terus logistik. Ketika hari perhitungan suara tiba, barulah kemudian ketahuan. Sedihnya, semua sudah terlambat. Itulah pentingnya ada mentor. Mentor dan caleg akan bersama merefleksikan pengalaman, teori, data lapangan dengan objektif dan penuh ketenangan, bukan grasah grusuh. Sebagaimana yang dinasehatkan dalam film The Fast and Furious, “Janganlah pernah kehilangan ketenanganmu, karena itulah penentu kemenanganmu”

Calegnya manusia menuju republik manusia

Salam

www.republikmanusia.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *