Bule dan Toilet Difabel

Kemarin, di toilet bandara Soekarno Hatta saya menyaksikan pemandangan menarik. Seorang lelaki bule yang tampak kebelet mau buang air besar masuk dan bertanya apakah ada yang kosong.

Dijawab oleh bapak cleaning service: “full pak”.

Yang selanjutnya,  menawarkan ke si bule, pake toilet ini saja pak, sambil menunjuk ke arah toilet difabel.

Apakah kira-kira sikap si Bule..??

Dia kebelet mau buang air sedang yang kebetulan kosong adalah toilet difabel
Si penjaga yang justru memberinya saran dan juga izin

Apakah dia segera masuk ke toilet difabel itu??

***
Ternyata bule itu memilih keluar dan bergegas mencari toilet lain, meskipun jaraknya lumayan jauh.

Moral of the story:
Kepentingan pribadi meskipun kebelet sebisa mungkin tidak merugikan kepentingan pihak lain.  

Teman-teman difabel memiliki fasilitas publik yang masih sangat terbatas. Jika sarana itu dicaplok lagi oleh yang normal,  dengan alasan kebelet,  malas ke toilet karena jauh,  dll, maka mereka akan semakin tersisih. Si bule tadi sepertinya sangat paham hal tersebut.
MEMAKNAI DIFABEL

Tentu sulit menjadi difabel ditengah masyarakat yang menganut paham ‘normalisme’, paham pemuja bentuk kenormalan. Hampir semua sarana umum yang ada didesain dengan basis asumsi bahwa semua bisa melihat,  mendengar, dan berucap dengan sempurna.

Secara hukum,  aksesibilitas difabel sudah diatur dalam UU No 8/2016 yang khusus mengatur pemenuhan hak difabel, juga Undang-Undang Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang juga membahas posisi difabel.  Namun, keindahan peraturan belum seindah realitasnya.

Kami di Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS) mengkritik muramnya paradigma dan kinerja elit untuk sahabat difabel. Di sisi lain,  sia-sia mengaku beragama dan terdidik kalau bisanya hanya mengutuk kegelapan. Kesadaran itulah yang menjadi pondasi kebijakan kelas gratis kursus bahasa Inggris FKBS bagi difabel. Satu dari tujuh program kelas gratis FKBS.  

Terakhir ini,  kami di FKBS sangat bahagia karena ada alumni kelas beasiswa difabel kami yang diterima kuliah di Australia. Dengan skill englishnya mereka bisa sekolah atau kerja lebih baik.  Karena bagi kami bahasa tak sekedar bahasa, tapi juga senjata (lihat, Pendidikan Tanpa Kasta: Refleksi Perjuangan FKBS,  2017. hal 116).

Bahagia itu sedehana.  Melihat orang lain bahagia.  Dimana kebahagiaannya karena ada kontribusi satu tetes keringat kita didalamnya.  

Kalau bahasa yang lebih keren.  Selesaikanlah urusan orang lain,  maka Allah lah yang akan selesaikan urusanmu: Muhammad saw.

Salam

Jakarta, 22/9/17

andi zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *