BUKBER DENGAN KELUARGA PAK JOKOWI

By: andi zulkarnain

Kami menempuh perjalanan darat, sejauh 500-an km, selama 8 jam dari Jakarta ke Solo untuk menghadiri acara buka puasa bersama keluarga Pak Jokowi serta guru ngajinya. Kami sengaja menggunakan mobil agar bisa merasakan sensasi tol baru, trans Jawa.

Saat kami tiba, di waktu maghrib, kami langsung ditanya, “apakah sudah shalat?”. Demikianlah cara keluarga Pak Jokowi menyapa tamunya di saat jam shalat.

Bersama keluarga besar Pak Jokowi di Solo

Saya kemudian berpikir, bagaimana pandangan beberapa orang terkait keluarga ini, yang mengatakan mereka non muslim, dan banyak fitnah lainnya. Sebagai orang yang meneliti “Fenomena Politik Jokowi” selama empat tahun, saya tak menemukan fakta dari isu tersebut.

Tim milenial yang dipimpin oleh Mas Muhammad Arief Rosyid Hasan ini datang untuk bersilaturahmi sekaligus mencicipi makanan khas keluarga Pak Jokowi. Arief melihat bahwa ada ketulusan pada kerja politik Pak Jokowi, makanya ia rela menerima beberapa resiko atas pembelaannya yang militan kepada Pak Jokowi, seperti, ikut dibully bahkan dikeluarkan dari group WA organisasi yang dia pernah pimpin.

Bersama Ibunda Pak Jokowi (Bu Noto)

Saat bertemu dengan Ibunda Pak Jokowi, Bu Noto, saya sempat bertanya, “Eyang, apa tipsnya sehingga Pak Jokowi bisa bersabar dengan segala fitnah?” Saya sampaikan bahwa jika seseorang difitnah mungkin masih bisa tahan, tapi jika ibunya yang difitnah, bahwa bukan ibu asli, agamanya lain, dll, maka seorang anak akan sulit untuk bersabar.

Bu Noto, dengan tenang menjawab, “hidup itu harus sabar, harus ikhlas. Jika itu dilakukan maka Allah akan melindungi.”

Beliau mencontohkan, saat ada aksi 212 di Monas, Pak Jokowi menelponnya untuk minta pandangan. Ibu Noto bilang, datang saja. InsyaAllah selama tidak ada niat macam-macam, Allah yang akan lindungi. Setelah telepon ditutup, Bu Noto kemudian memantau anaknya di TV. Alhamdulillah Pak Jokowi datang ke Monas, dan semuanya berjalan aman, katanya.

Bersama Bu Noto dan Mas Arief Rosyid

Pada momen tersebut, saya juga menyampaikan bahwa sebagai peneliti “fenomena politik Jokowi” berharap agar nilai-nilai politik ala Pak Jokowi, seperti kesederhanaan, anti korupsi, menolak nepotisme, semangat bekerja untuk rakyat, dll. Rumus “the ruling elite”, bukan dia anaknya siapa, tapi apa karyanya pada publik, tidak berakhir di 2024. Olehnya itu, butuh ada pelembagaan value serta sistem regenerasi yang terukur.

Saya beberapa kali bertemu keluarga besar politisi, baik di level kabupaten, provinsi maupun nasional, akhlak mereka biasanya beda. Keluarga pejabat kadang merasa sok berkuasa, sok hebat dan semacamnya. Di keluarga ini saya menemukan hal berbeda, mereka sangat tawadhu. Saya kadang bingung, apakah benar saya sedang berada di lingkungan keluarga besar orang nomor satu di negeri ini?

Politisi bisa mati (secara politik) di tengah jalan karena rentetan blunder keluarganya. Pak Jokowi bisa selamat dari itu, selama 14 tahun karir politiknya karena ada semangat ‘menahan” dari keluarganya.

***

Saya terakhir datang di kota ini, pada 2016 untuk agenda riset. Ada banyak hal yang selalu menarik di kota ini. Kota tempat lahirnya politisi yang tak pernah kalah satu kali pun pada tiap kompetisi. Politisi yang merupakan produk awal sistem pilkada langsung. Suatu sistem pemilu yang lahir dari rahim reformasi.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *