Bersama Ka Taslim Arifin

Salah satu etika tak tertulis dalam dunia “persilatan” adalah mendatangi guru. Ketika seorang guru mengunjungi suatu tempat, maka muridnya di wilayah tersebut akan segera mendatanginya. Untuk melaporkan apapun. Tentang sesuatu peta yang diketahuinya, rencananya, dan beberapa hal yang tak perlu ditulis di medsos.

Kemarin malam, saya berjumpa Ka Taslim bersama dengan Bung Muhammad Arief Rosyid. Anak muda yang telah menjadi anak angkat beberapa tokoh penting negeri ini. Ia selalu punya energi melimpah kalau terkait silaturahmi. Ia meyakini bahwa rejeki kita, bukan ada pada diri kita, tapi Tuhan titip kepada orang lain. Demikian filosofinya.

Saat menuju ke salah satu hotel di Jakarta Pusat, tempat Ka Taslim menginap, saya terjebak macet bersama keluarga. Maka solusi terbaik adalah turun dari mobil dan kemudian pesan ojek online menuju lokasi. Karena konon ada jenis dosa dan derita di akhirat kelak, bagi murid yang membuat gurunya mengalami derita karena menunggu.

Ka Taslim bukan hanya legenda di kampus merah, namun lebih luas dari itu. Saat saya mahasiswa baru (maba) di Unhas, saya sering mendengar bahwa Ka Taslim kalau bicara, bukan hanya pendengar yang khusyuk, namun rumput pun tak bergoyang.

Mantan Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Unhas ini adalah seorang pengkader yang kuat. Kadernya tersebar di hampir semua profesi. Akademisi, politisi, budayawan, agamawan, bisnis, birokrasi, dll. Beliau punya cara merawat tradisi intelektual dan idealismenya. Ada forum rutin di rumahnya atau di warkop tertentu bersama aktivis se-zamannya, seperti Pak Qasim Matar, Pak Tadjuddin Parenta, Pak Madjid Sallatu, dll. Biasa dijuga diikuti beberapa generasi di bawahnya. Di situ mereka membahas buku terbaru dan membedah realitas kebangsaan dan global. Makanya, setiap bertemu beliau selalu ada bahan renungan yang baru.

Tadi malam saya juga mengonfirmasi ucapan beliau yang beredar tentang Pak JK. Pak JK telah menjadi fenomena politik, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Bisa menjadi wakil presiden, pada dua presiden yang berbeda. Dan itu, bukan melalui mekanisme penunjukan, tapi dengan kompetisi pemilu langsung yang melibatkan ratusan juta rakyat.

Fenomena JK dalam dunia politik negeri, mirip dengan kisah legenda hidup Moto GP, Valentino Rossi. Beberapa orang masih bingung bagaimana nasib Moto GP kelak tanpa Rossi. Usianya, bukan mengubur karirnya, tapi semakin menyalakan ketokohannya. Tentang ini, saya pernah mengulasnya di sini.

Katanya, Ka Taslim pernah berucap bahwa “Pak JK bisa sukses seperti sekarang, di bidang politik, bisnis, dan lainnya, karena ia tulus. Orang tulus dibantu Tuhan”. Kalimat ini sudah sering saya dengar di beberapa acara ngopi. Namun, yang menarik, Ka Taslim tadi malam berpikir. Oh begitu. Saya agak lupa apakah saya pernah mengucapakan itu. Tapi itu betul. Ketulusan Pak JK yang membuatnya menjadi tokoh yang berbeda.

Mantan Dekan FE Unhas ini bercerita bahwa pernah Pak JK punya bisnis SPBU. Karena selalu merugi, ia memanggil penanggungjawabnya. Ia bertanya, apa sebabnya itu terjadi. Dijawab, susah Pak. Kalau bisnis SPBU tidak mencuri karena memang dari sananya sudah kurang, sehingga kalau kita jual, juga kita perlu kurangi. Harus memang kita mencuri, Pak. Katanya ke Pak JK.

Pak JK, jawab sederhana: “Kalau begitu kita tutup ini bisnis.”

Kita selalu merindukan agar kampus tidak kosong figur seperti Ka Taslim. Ia bukan hanya bisa diajak berdiskusi tentang mata kuliah, tapi juga tentang kehidupan. Rumahnya selalu terbuka bagi mahasiswanya. Ia juga meyakini bahwa aktivitas perkuliahan, dunia kelembagaan dan gerakan mahasiswaan merupakan satu tarikan nafas dalam proses kemahasiswaan.

Beliau selalu mendorong agar ade-adenya terus lanjut sekolah. Pada 2010, saya lulus di Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) UI. Saya melapor ke Ka Taslim. Beliau bahagia. Kemudian memberi bantuan ide dan non ide sebagaimana yang dinarasikan oleh divisi keuangan UI.

Sosok seperti Ka Taslim penting di dunia kampus. Karena sejatinya mahasiswa di kampus bukan hanya butuh dosen mata kuliah, juga butuh sosok teman, kakak dan orang tua yang mengambil fungsi pencerah, penggerak, pemersatu dan penjahit jejaring. Pada diri Ka Taslim, semuanya menyatu.

Salamaki. Ka
Tabe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *