Berdiskusi Dengan Bupati Bone

Di awal pertemuan Pak Bupati Bone, Puang Baso Fashar menjelaskan perjuangannya membangun Bone yang begitu luas dan anggaran yang hanya 2,3 triliun. Katanya, demi Bone, pagi jam 8 sudah keluar untuk memantau beberapa pemilihan kepala desa, serta titik banjir yang ada di Bone, kemudian baru pulang di sore hari. Beliau juga sudah mencoba berkoordinasi dengan pemerintah di tingkat atas, serta menghubungi beberapa orang Bone di pusat agar terlibat membangun Bone. Itu ikhtiar yang baik, namun mungkin itu belum cukup bagi masyarakat.

Ke depan, kami meminta agar Pak Bupati memilih ring 1, kepala dinas yang punya visi, kapasitas, track record dan kemampuan menjelaskan program kepada publik. Kesimpulan saya, setelah mendalami tema “Kepemimpinan Politik” dan 4 tahun penelitian untuk tesis saya, tentang “Fenomena Politik Jokowi” adalah bahwa semua kepala daerah yang fenomenal didukung oleh SKPD yang fenomenal pula, bukan SKPD pemalas dan hanya jago “ABS”.

Jika ada kompromi politik yang “lucu” dalam “kabinet” baru di Bone nanti bolehlah, tapi cukup 20%. Mengharapkan kebaikan 100% di dunia, apalagi di lanskap politik itu keliru sejak dalam pikiran. Sebab, kita tidak sedang hidup di surga.

Bersama Bupati Bone

***

Puang Baso Fashar adalah bupati yang sah. Suka tidak suka atas nama kesadaran konstitusional dan spirit “Diassibonei”, maka setiap warga perlu memberi doa, masukan dan kritik demi kebaikan Bone. Banyak cara mengekspresikan kritik, bisa dengan menulis opini, aksi, dan berdialog langsung dengan penguasa. Kemarin kami memilih jalan ketiga.

Saya sampaikan ke Pak Bupati bahwa saya ini ber-KTP Jakarta, pulang ke Bone biasanya 2-3 kali setahun, makanya saya menyampaikan gagasan dan kritikan karena ari-ari saya di tanam di sini, dan mungkin kelak saya akan dimakamkan di kota ini. Demikian juga, orang tua dan keluarga besar saya di sini. Jika saya mendiamkan jalan rusak, berarti saya membiarkan derita atasnya.

Olehnya itu, berbagai data, informasi dan teori yang saya dapatkan selama merantau, termasuk aktivitas sebagai staf ahli di Senayan dan mengajar di beberapa tempat, akan selalu bisa dibagi untuk kebaikan Bone hari ini dan esok. Kepada siapapun pemimpinnya. Inilah tafsir dari “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” (Pergi mencari kebaikan, Pulang memperbaiki).

Bersama Bupati Bone

Di beberapa komunitas di Bone yang saya sedikit terlibat membantu, saya sampaikan bahwa silahkan kritik pemerintah yang sah dari semua level, pusat sampai daerah, namun biasakan menggunakan data dan teori untuk menjaga objektivitas. Itulah yang menjadi pembeda antara orang yang pernah sekolah dengan yang lain. Selanjutnya, kita ini ada di Bone, Kota Beradat, “The Soul of Boegis”, maka etika dalam mengkritik juga penting.

Dengan pendekatan ilmiah dan local genius tersebut, Pak Bupati bisa terbuka berdiskusi atas berbagai tantangan di Bone. Saya melihat Puang Baso masih ada niat berbuat yang terbaik di periode keduanya. Beliau mau mendengar berbagai masukan. Itu sangat penting, sebab politisi yang kehilangan kemampuan mendengar, berarti sedang menggali kuburan politiknya.

Secara psikologi politik, patahana bisa menjadi lamban kerjanya, jika berada pada kesadaran bahwa kedepan tidak ada lagi target politik. Toh, dalam konstitusi hanya bisa 2 periode. Olehnya itu, dibutuhkan kelompok civil society yang berintegritas yang selalu bisa memberi alarm kepada pemerintah untuk senantiasa bekerja yang terbaik kepada rakyat yang telah menitipkan amanah politiknya.

Pada pertemuan kemarin saya sampaikan banyak kritik masyarakat, termasuk yang ada di medsos kepada Pak Bupati. Saya juga sampaikan bahwa setiap pemimpin harus meninggalkan suatu “Legacy” agar dihormati bukan hanya saat berkuasa, tapi sampai beribu-ribu tahun lamanya.

Bersama Bupati Bone

***
Kemarin, forumnya berlangsung di dua tempat. Awalnya mulai, Ba’da Ashar di kompleks rumah jabatan, kemudian beliau minta dilanjutkan Ba’da Isya sambil makan malam di salah satu hotel di tengah kota. Mobil travel yang sudah saya pesan untuk keberangkatan Selasa sore, diminta di reschedule ke besok paginya. Saya bilang, “klo itu untuk kebaikan Bone, saya lakukan Pak Bupati”.

Selanjutnya, saya berucap dalam nuansa setengah bercanda “mertua sebenarnya sudah menunggu di Makassar, Pak, karena terlanjur ada agenda yang terjadwal.” Beliau menjawab “tidak apa-apa, ini demi Bone. Nanti saya yang telepon mertuata agar tidak na’ambil anaknya.” Dan semua yang hadir tertawa.

Beliau juga bercanda, “diskusi panjang kita ini, sudah bisa jadi satu buku”. Saya kemudian menimpali, “kalau di Jakarta Puang, sebagai konsultan politik, saya sudah dapat amplop klo begini lamanya. Tapi karena ini demi Bone. Semua gratis.” Dan semuanya kembali tertawa.

Tidak ada jaminan kita masih hidup besok, maka tiap termin adalah momen berbagi gagasan dan spirit perbaikan (mappadeceng). Warkop dan penjual nasi kuning bagadang langganan di dekat Masjid Raya Bone, serta warteg di dekat rumah di Jakarta juga menjadi teman diskusi yang intens membahas strategi untuk kemajuan usaha mereka. Poinnya, siapa yang bertanya, kita jawab. Siapa yang meminta saran kritik kita berikan. Harapannya, konsumen makanan dan konsumen politik (publik) semakin bahagia.

Pemimpin dan rakyat yang menyadari nafas kemanusiaan adalah syarat menuju republiknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

#tabe

#bone
#republikmanusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *