ANAK JOKOWI NAIK TAKSI, DILARANG GUNAKAN FASILITAS NEGARA

Dalam diskusi tentang Menyongsong Kepemimpinan Nasional yang diadakan oleh Rumah Koalisi Hebat di Jl. Mangunsarkoro No 69 Jakarta Pusat (27/5/14). Salah satu pembicara, Abdul Rahman Ma’mun, Direktur Paramadina Public Policy Institute, menceritakan pengalamannya bertemu dengan sopir taksi.

Pada suatu malam, sopir taksi tersebut ditelepon untuk menjemput penumpang di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat. Ternyata lokasi itu adalah rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, Pak Jokowi, adapun yang dijemput adalah anaknya.

Saat dalam perjalanan menuju bandara, sopir taksi bertanya “mas, kenapa ndak minta diantar, kan ada mobil serta sopir di rumah”. Anak jokowi menjawab “bapak melarang, karena itu mobil dinas, makanya bapak minta saya menggunakan taksi aja”.

foto: politik.kompasiana.com

foto: politik.kompasiana.com

Dari kesaksian sopir taksi tersebut, peserta yang hadir terperangah ternyata masih ada pejabat seperti itu. Disaat banyak anggota keluarga pejabat yang berkasus karena memanfaatkan jabatan orang tua atau keluarganya. Misalnya, kasus Putra Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Syarief Hasan (lihat), kasus keluarga Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah bersama adiknya Wawan (lihat), dan berbagai kasus lainnya.

Pak Jokowi waktu masih menjadi Walikota Solo ternyata juga melarang anak pertamanya, Gibran Rakabumi yang berbisnis catering untuk masuk ke lingkungan Pemerintah Kota Solo. “Saya menahan diri selama dua tahun. Karena saat Bapak (Jokowi) menjabat walikota, saya tidak boleh melayani order katering dari Pemkot,” kata Gibran. (sumber)

Penulis juga memiliki pengalaman, ketika April kemarin ke Solo untuk agenda wawancara dengan beberapa pihak, salah satunya Gibran, anak Pak Jokowi. Penulis mengalami penolakan melalui stafnya yang mengatakan bahwa Bapak Gibran, tidak mau membahas tentang agenda politik bapaknya. Sebagai orang yang sedang meneliti persoalan politik, penolakan tersebut menarik dan menjadi catatan khusus atas fenomena politik Jokowi. Karena biasanya anak pejabat, selalu ingin numpang pada popularitas orang tuanya, termasuk ikut menggunakan sumber daya ekonomi dan politik yang ada untuk kepentingan pribadinya.  Tapi ternyata Jokowi tak mendidik anaknya seperti itu.

Kesaksian sopir taksi, kisah Gibran serta larangan keras kepada keluarganya menggunakan pakaian yang mahal (sumber), menambah catatan tentang keserdehanaan dan keteladanan hidup Pak Jokowi. Masyarakat Indonesia harus bersyukur dan bersaksi bahwa memang Tuhan tak pernah tidur. Setelah puluhan tahun, pasca generasi elit pertama,  Indonesia sulit mendapat elit politik yang merakyat luar dalam (original), akhirnya sekarang Tuhan mengirim Jokowi. Seorang anak pertiwi yang dididik dengan derita. Hidup dari satu penggusuran ke penggusuran yang lain. Itulah kisah derita, layaknya kisah derita para nabi-nabi.

Dari kisah tersebut, kita teringat bagaimana kesederhanaan dan kehati-hatian pemimpin awal negeri ini. Seperti Soekarno, Hatta, Natzir, dll. Mereka takut mengambil hak rakyat. Makanya mereka berusaha memisahkan yang mana agenda keluarga dan mana agenda kantor. Fasilitas kantor hanya untuk agenda kantor, bukan untuk agenda keluarga. Mereka memilih hidup sederhana karena melihat masyarakat yang dipimpinnya masih banyak yang hidup miskin.

Semoga hal ini memberi kita semangat bahwa gaya baru dalam perpolitikan Indonesia harus diwujudkan pada pilpres 2014. Jangan lagi kita mau menunggu lebih lama lagi. Makanya saatnya memilih kandidat yang sudah terbukti, bukan baru berjanji, baru baik, baru merakyat, baru sopan, baru humoris, baru gaul, karena ada  maunya. Ia bersilaturahmi dan bergaya nasionalis di saat menjelang pilpres, sedangkan di hari biasa sibuk dengan urusan pribadi bersama kudanya yang seharga 3 Miliar, yang juga merupakan kuda termahal  di Asia. (sumber)

Salam.

Wujudkan Republik Manusia, Akhiri Republik Binatang

* Penulis sedang menyusun tesis, tentang : Fenomena Politik Jokowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *