Al Falah Fair dan Refleksi Akhir Tahun (Sekolahnya Manusia)

Al falah fair adalah momen orang tua dan siswa mengecek karya. Lebih jauh dari itu adalah merefleksikan perjalanan hidupnya. Di momen tersebut, anak-anak datang bersama orang tua mereka dan dengan penuh semangat akan berkeliling lokasi pameran untuk memperlihatkan karya mereka kepada ayah bundanya. Karena di Al Falah semua orang tua siswa wajib mengikuti sekolah parenting yang dinamakan Pelatihan Pendidikan Orang Tua (PPOT), maka para orang tua punya kemampuan yang hebat untuk memotivasi anaknya. Bagaimanapun hasil karya sang anak, orang tua pasti akan mengatakan “wah, anak saya sudah bisa membuat ini…”, sambil memperlihatkan dimensi kelebihan dari karya tersebut. Sebab, tiap karya, pasti ada unsur keunikan dan keunggulan tergantung dari sang penikmatnya.

Dengan pembelajaran parenting yang ketat, maka siswa dan orang tua memiliki tafsir yang sama tentang pola asuh yang ideal sesuai masa pertumbuhan. Mereka semua sudah sepakat bahwa dalam proses membesarkan sang pelanjut, bukan hanya butuh perjuangan mencari rejeki, tapi juga perjuangan untuk tidak melarang, tidak menyuruh dan tidak memarahi anak. Menurut pendiri dan Ketua Yayasan Al Falah, Bu Wismi, ketiga hal terakhir sangat menentukan, bagaimana anak kelak memperlakukan orang tuanya, tetangganya, temannya, serta bagaimana ia bersikap sebagai warga negara.

Karya anak di baby house

Memuliakan Karya Anak

Di beberapa sekolah, karya anak yang sudah jadi langsung dibuang. Di Sekolah Al Falah, semua karya disimpan rapi, dijilid untuk diperlihatkan serta diserahkan kepada orang tua siswa secara rutin tiap tahun. Ini menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh semua pihak, siswa, orang tua dan pihak sekolah karena Al Falah Fair adalah kisah hubungan belajar antara manusia dengan manusia. Ada yang disebut dengan guru dan ada juga murid. Sejatinya mereka akan saling belajar, tumbuh bersama untuk tercapainya hakekat sekolah sebagai ruang memanusiakan manusia, bukan membinatangkan manusia.

Karena karya anak, seperti lukisan, jurnal, laporan ekspedisi, mading, buku catatan 18 sikap dan lainnya adalah anak kemanusiaan seorang kreator, maka hasilnya harus diapresiasi. Jika anak terbiasa diapresiasi, sambil diberi masukan di momen yang tepat dengan diksi yang pas, maka anak kelak akan menjadi orang yang haus karya. Dia membaca kendala sebagai ruang inovasi. Menafsir kegagalan sebagai sekolah kehidupan.

Semua karya siswa dipajang dengan sangat rapi, layaknya pameran berkelas internasional. Perjalanan mengelilingi pameran dari lantai satu sampai tiga, kita bisa mengetahui perjalanan siswa Al Falah dari baby house, toddler, TK, sampai fase akhir SMA. Penyempurnaan dan kompleksitas karya berdasarkan fase umur memperlihatkan wajah kemanusiaan siswa sebagai pencipta. Itulah sekolahnya manusia yang memaknai siswa sebagai manusia yang punya akal dan sebagai makhluk yang telah ditiupkan ruh Ilahiah oleh Sang Ilahi.

Bersama Bu Wismi, Pendiri Sekolah Al Falah

Refleksi Hasil Pendidikan Satu Tahun

Refleksi ini diisi dengan pementasan drama, pembacaan Al Quran, lagu, syair, puisi, pantun, tarian dan permainan alat musik lainnya. Ini bukan sekedar hiburan bagi tamu undangan, bukan pula sekedar ruang eksistensi bagi siswa, tapi momentum evaluasi total proses pembelajaran dalam setahun, termasuk 18 sikap, 7 kecerdasan, dan 7 essential life skills. Dalam drama, semua prinsip, SOP yang telah diajarkan selama ini akan ditampilkan. Makanya, nama kegiatannya bukan pentas, tapi refleksi. Atas nama itu pulalah, sehingga selama pementasan, Bu Wismi akan duduk dibangku terdepan mencatat segala hal penting, terutama kekurangannya. Misalnya, di dalam drama ditampilkan anak-anak berbagi makanan, mereka menggunakan piring dan sendok bersama. Kalau di Al Falah itu merupakan suatu hal yang tidak dianjurkan. Nanti guru yang mendampingi akan dievaluasi, kenapa bisa terjadi kesalahan tersebut. Di sekolah yang menggabungkan budaya pendidikan barat, Florida AS dengan nilai-nilai Islam ini sejak dini sudah mengajarkan bahwa berbagi itu boleh dan penting, namun kebersihan juga harus diperhatikan. Ketika ingin berbagi makan, maka sebaiknya mengambil piring dan sendok baru.

Dalam penampilan drama, siswa dilatih untuk membuat skenario sendiri dengan menggabungkan berbagai kegiatan dan pelajaran selama setahun. Misalnya, siswa pernah melakukan ekspedisi ke Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, maka dalam drama akan ditampilkan suatu kisah yang terkait dengan daerah tersebut.

Selanjutnya, siswa tidak membaca teks dalam main drama, melainkan melafalkan langsung. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat memaknai setiap ucapan dan peran yang dia ekspresikan. Hal demikian tidak terlalu sulit karena sejak kecil, di level preschool mereka sudah terbiasa main peran besar dan peran kecil. Pada suatu forum, PPOT, Bu Wismi menjelaskan bahwa dalam hidup sangat penting kemampuan main peran. Karena tidak segala hal yang ada pikiran harus diekspresikan secara langsung. Hidup sejatinya, bukan hanya tentang baik dan buruk serta benar dan salah, tapi juga momentum. Menasehati orang yang sedang sakit gigi adalah hal yang kurang pas. Menegur pasangan di depan anak-anak, bukan menyelesaikan masalah, tapi akan menjatuhkan wibawa pasangan. Yang bisa saja pasangan akan menyerang balik untuk menjaga wibawanya.

Bersama alumni sekolah parenting/Orang Tua/PPOT/ Al Falah

Ruang Belajar

Semua proses di acara refleksi ini dilakukan sendiri oleh siswa. Mereka akan membuat panitia besar yang lengkap dengan berbagai divisi yang dibutuhkan. Untuk pentas drama, semua siswa yang lakukan, mulai dari membuat skenario, memilih pemain, merancang panggung, kostum, make up, properti,  musik, dan lainnya.

Yang menjadi MC di Al-Falah juga harus bergilir. Dari puluhan kegiatan selama setahun, diupayakan semua siswa mendapatkan kesempatan. Di lembaga pendidikan ini kita tidak akan menemukan sambutan atau acara potong pita oleh Ketua Yayasan, Direktur, atau Guru dalam acara formal. Semua siswa yang lakukan agar mereka memiliki mental yang kuat dan kaya pengalaman ketika terjun ke dunia nyata pasca sekolah. Itulah cara Al Falah mengkader dan memuliakan anak didiknya. Olehnya itu, ketika kita berpapasan dengan siswa di tangga sekolah, kita akan disapa dengan sangat sopan. Mereka memperlihatkan tatapan yang sangat percaya diri.

Bazar dan Sekolah Bisnis

Setelah tamu kedatangan lelah karena tuntas berkeliling menyaksikan karya siswa dari level baby house sampai SMA, dari lantai satu sampai lantai tiga, maka saatnya ke area belakang sekolah untuk melihat dan mencicipi bazar kuliner siswa. Bazar ini bukan hanya soal bagaimana perut kosong kembali terisi, tapi juga sebagai ruang pembelajaran tentang makna pasar kepada siswa. Ada siswa yang menjaga stand, ada juga yang keliling menyapa tamu menawarkan produk kulinernya.

Di momen ini, siswa belajar marketing, bagaimana mengatur diksi, ekspresi, nafas, tekanan suara, tatapan, dan garis lengkung di bibir agar calon pembeli secara sukarela membuka dompetnya demi sebuah produk. Bazar ini juga menjadi momentum siswa untuk merasakan suka duka mencari rejeki yang dilakoni orang tua mereka. Bahwa hidup bukan hanya tentang skill berbelanja, tapi juga tentang seni mengumpulkan rupiah demi rupiah di bawah langit Tuhan.

Beginilah idealnya sekolah, mengajarkan anak tentang teori kehidupan juga bagaimana terlibat secara langsung dalam hidup. Sejarah dibahas di kelas, juga diperdalam dengan ekspedisi satu minggu ke suatu wilayah atau negara. Bertemu langsung dengan pihak yang terkait atau sumber asli. Teori ekonomi tak sekedar dihafal tapi dipraktikkan dengan penuh kegembiraan.

Kesempurnaan kitab suci dibuktikan dengan penjelasan yang selalu ada dalam tiap tema. Ketika pelajaran fisika, ayat Tuhan tentangnya juga dikaji. Demikian ilmu lain, biologi, sosiologi, dan lainnya. Dari proses ini, siswa akan semakin kagum dan cinta kepada Tuhan, sehingga secara perlahan ia menyembah Tuhan bukan karena takut akan siksaan, bukan pula karena kepentingan konkrit akan balas kasih, tapi karena kesadaran cinta, bahwa sejatinya, Tuhanlah pemilik segala cinta yang senantiasa memberikan cinta kepada yang dicintainya.

Suasana Sekolah Al Falah di Cipayung Jaktim

Ekspedisi Siswa

Seperti yang dibahas sebelumnya, bahwa kegiatan ekspedisi siswa juga menjadi muatan dalam kegiatan drama. Kegiatan tahunan ini memberi banyak manfaat. Seperti, anak akan belajar langsung dari lapangan, bukan hanya menghafal isi buku. Kebesaran momen Konferensi Asia Afrika (KAA), misalnya, tidak hanya dihafal tahun dan tokohnya berdasarkan info dari buku, tapi siswa langsung ke Bandung. Mereka akan tinggal selama satu minggu, mengunjungi banyak tempat, termasuk museum KAA. Di sana mereka akan berdiskusi langsung dengan pengelola, membaca bukti yang terkait, dan sebagainya. Dengan suasana santai, semacam rekreasi, siswa sebenarnya sedang dididik menjadi ilmuwan yang selalu haus akan data dan ilmu baru. Mereka dibekali kemampuan untuk menangkap api dari suatu peristiwa masa lampau.

Untuk siswa SMP, lokasi ekspedisinya di dalam negeri, adapun siswa SMA biasanya keluar negeri. Sebelum mereka berangkat, guru akan memberi pelatihan dan buku panduan kepada siswa agar target dari ekspedisi bisa maksimal. Memang betul, ekspedisi ini adalah rekreasi, tapi merekreasikan ilmu yang didapatkan di dalam kelas.

Agenda ekspedisi juga merupakan ruang bagi siswa untuk belajar mengelola dirinya. Karena urusan kendaraan, tempat nginap, transportasi, dan sebagainya, diurus langsung oleh mereka. Ada pembagian job yang jelas jauh sebelum kegiatan, termasuk ada divisi kesehatan. Dari kegiatan ini mereka akan paham urgensi kerja tim, keterbukaan, koordinasi, manajemen stress, dan lainnya, sebagaimana syarat SDM yang dibutuhkan di era disruption economy, tantangan khas jaman now.

Saat saya bertanya ke siswa Al Falah, apa makna kegiatan ekspedisi ini, mereka menjawab, bahwa dengan acara ini, mereka menjadi suka dengan sejarah. Sejarah menjadi hidup karena dihidupkan dengan cara diskusi, observasi, dan nuansa wisata. Itulah sekolahnya manusia. Sekolah yang mendukung perkembangan anak supaya dapat mengekspresikan segala idenya dengan sukses. Sekolah yang tak pernah lelah memberi apresiasi kepada siswanya.

Mari mendorong lahir dan menyebarnya Sekolahnya Manusia, demi terwujudnya Republiknya Manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

A.Zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *