Agus & Imajinasi Politik Cikeas

Politik seperti dunia balap, perlu persiapan sebelum masuk ke balapan sesungguhnya.

Latihan yang bertahap bukan hanya untuk menang, tapi agar tidak grogi, kaget, terjatuh, tergilas, bahkan terbunuh di saat balapan sesungguhnya berjalan.

Misalnya, dalam motogp ada sesi latihan bebas, ada sesi kualifikasi untuk kemudian sampai pada race sesungguhnya.

SBY Salah Hitung?

Apakah SBY salah hitung, ketika anak sulungnya diminta untuk maju di pilkada DKI 2017.

SBY merupakan salah satu pemikir terbaik yang pernah dimiliki dunia militer negeri ini. Kemampuannya merebut dan merawat kekuasaannya sampai titik maksimal yang diizinkan konstitusi menjadi sebagian ukurannya.

Diantara banyak tentara yang ikut bertarung menjadi politisi di era menguatnya kekuatan sipil, bahkan dengan mekanisme terbaru, pemilihan langsung oleh rakyat, hanya SBY lah yang berhasil untuk berkantor di Jalan Merdeka Utara. Adapun tokoh militer lain, seperti hanya penggembira dalam tiap momen pilpres.

Kemampuan SBY berkuasa selama 1 dekade dengan kerja yang biasa-biasa saja, bahkan sebagian pihak menuduhnya sebagai rezim dengan aroma neolib yang cukup menyengat, tapi mampu menjalankan kekuasaannya tanpa rongrongan yang berarti dari pihak lawan juga menjadi bukti atas keahlian politiknya.

Foto: https://fnpinky.wordpress.com

Foto: https://fnpinky.wordpress.com

Motivasi Hadirnya Agus SBY

Sejatinya, Agus SBY disiapkan untuk bertarung full di pilpres 2024. Itu sudah bocor di beberapa lapis elit negeri ini.

Jika Agus tidak muncul di Pilkada DKI saat ini, maka aura Cikeas akan semakin tengelam dalam memori publik sehigga butuh energi termasuk biaya lebih besar lagi untuk menumbuhkannya pada momen pilpres 2024.

SBY dan mesin politiknya membaca bahwa Jokowi masih terlalu kuat dikalahkan di momen 2019. Makanya kalau hitungan normal, mereka berkompetisi penuh di pilpres 2024. Meskipun mereka juga meyakini bahwa dunia politik adalah dunia yang sangat licin, sehingga tidak pernah cukup dengan satu skenario. Jika Jokowi melemah menjelang pilpres 2019, maka Agus H. Yudhoyono akan full untuk merebut kursi RI 1 di momen tersebut.

 

Foto: m.beritasatu.com

Foto: m.beritasatu.com

Pilkada Rasa Pilpres

Terlibatnya putra mahkota Kerajaan Cikeas dalam arena pencarian bakat pemimpin DKI juga untuk membuat serta semakin merapikan mesin politik Agus untuk momen pemilu yang lebih besar di masa depan. Jika Faksi Cikeas absen dalam arena tarung ini maka mereka akan kehilangan momen terbaik untuk mempromosikan diri.

Karena rasa pilpres, maka pilkada DKI akan selalu menjadi berita utama di hampir semua media. Ketika masyarakat yang ada di Boven Digoel maupun di Bener Meriah bangun pagi, mereka akan segera mendapat info dari media tentang apa yang terjadi di Jakarta. Olehnya itu, momen tersebut sangat-sangat strategis untuk membangun ketokohan Agus, bukan sebagai tentara tapi sebagai pemimpin politik masa depan.

Apa Keuntungan PPP, PKB, PAN?

Banyak yang bertanya, kok elit PPP, PKB, PAN mau aja ikut skenario SBY. Padahal penokohan Agus di momen ini, tidak ada manfaat jelas bagi partai mereka.

Partai yang tergabung di Faksi Cikeas, tentu sudah punya data valid versi mereka, bahwa sangat berat untuk mengalahkan Ahok. Sudah setahun kerja menghancurkan elektabilitas Ahok dilakukan, tapi hasilnya nihil. Makanya, serius dan menghabiskan dana melawan Ahok-Djarot, sama saja dengan menebar garam di lautan. Makanya mereka lebih memilih menjual tiket yang mereka punya ke Partai Demokrat untuk digunakan sebagai syarat pengusung.

Bagi partai ini, lebih baik pilkada DKI dijadikan momen untuk mengumpulkan pundi-pundi logistik untuk persiapan agenda politik yang lain daripada memaksa bertarung tapi kalah.

Salam

 

Jakarta, 23/9/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *