Adalagi Penipu Berkedok Agama

Tuhan itu mutlak benar, tapi orang yang menggunakan simbol Tuhan untuk berdagang dan berpolitik belum pasti hatinya bersama Tuhan.

Beberapa waktu lalu, saya membeli buah di swalayan yang beraroma Islami, mayoritas pelayannya berhijab, lagu yang diputar juga religi, tapi saya masih saja dicoba untuk ditipu. Padahal istri yang saya temani belanja juga berhijab. Sesama hijabers saja mau dimakan. Hehe. Ya’ penipu tidak meyakini Tuhan, tapi sangat pandai memanfaatkan Popularitas dan Kemahabesaran Tuhan.

Mungkin oknum kasir mengira, kalo menggunakan simbol Tuhan, maka kesadaran kritis/kejelian konsumen akan menurun ke titik terendah. Berubah menjadi asal percaya.

penipu-1

Kali ini dia keliru. Saya mempertanyakan ketidaksesuaian harga hasil timbangan, dengan harga yang terpajang di rak.

Si kasir, kemudian berteriak ke temannya. “ini jenis mangga apa ya?”

Setelah temannya menjwab. Dia langsung merubah harga, tanpa kata maaf sedikit pun sebagaimana akhlak yg diajarkan para nabi utusan Tuhan.

Cara si kasir bertanya dan menjelaskan. Dari mimik, pilihan kosakata, diksi, intonasi memperlihatkan bahwa ia berniat menipu, tapi gagal kali ini.

Kalau kebahagiaanmu adalah menipu dengan baju Tuhan.

Maaf ya. Klo kali ini saya mengganggu kebahagiaanmu. (Kata saya dalam hati).

Foto: abufahry.wordpress.com

Foto: abufahry.wordpress.com

Rumus kritis atas apapun, yang menjual Tuhan harus dipelihara. Baik terhadap beberapa bisnis syariah, partai agamis, swalayan Islami, tim sukses Islami, dll.

Presiden saja yang punya kekuasaan pada satu negara selalu ada oknum yang menggunakan kebesarannya untuk menipu, dengan memajang foto bersama sang presiden. Apalagi Tuhan yang kuasanya bersifat Maha karena melintasi negara dan melingkupi seluruh alam, tentu lebih banyak oknum yang mau menyalahgunakannya.

Sejarah sudah cukup memberi kita pelajaran bahwa Tuhan dan agama selalu menjadi hal sangat seksi untuk dijadikan pembenaran atas kepentingan dan keserakahan tertentu. Sebaliknya, atas nama Tuhan juga telah banyak kezaliman yang dikubur. Olehnya itu, ketika Tuhan dibahas dan diperdebatkan perlu dicek konteksnya. Oleh siapa, dalam momentum apa (pilkada misalnya), dll.

Waspadalah. Waspadalah.

 

Jakarta, 8/10/16

Salam.

www.republikmanusia.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *