5 HIKMAH SEKOLAH PARENTING (PPOT) AL FALAH BCCT

Setelah beberapa bulan mengikut Sekolah Parenting PPOT (Program Pelatihan Guru dan Orang Tua) Sekolah Al Falah BCCT Jakarta Timur, dari level 1-6 dengan proses panjang dan sistematis mengkaji tentang 18 sikap, 7 kecerdasan, 7 life skill, 6 domain berpikir, maka, saya sampai pada kesimpulan atas 5 hikmah PPOT.

Pelatihan tersebut diampu khusus oleh Bu Wismiarti Tamin yang merupakan pendiri dan ketua Yayasan Al Falah BCCT, yang juga merupakan anggota National Association Educational for Young children (NAEYC) yang berkantor pusat di Washington, AS. Saya memaknai bahwa ternyata PPOT bukan sekadar ilmu parenting, tapi lebih jauh dan lebih komprehensif dari itu, PPOT adalah ilmu tentang kehidupan. Berikut 5 hikmah PPOT:

Foto; https://www.cbc.ca

Hikmah di Kelas

Ada begitu banyak ilmu di Sekolah Parenting (PPOT) Al Falah yang membuat seorang guru bisa menjadi yang terbaik di kelas. Dengan implementasi 18 sikap, seperti kesabaran, maka seorang guru akan memiliki energi berlipat untuk menemani muridnya belajar. Pada beberapa kasus, kadang guru hanya sayang kepada siswa yang daya tangkapnya cepat, sedangkan yang kurang, tidak terlalu dipedulikan. Akhirnya siswa yang kurang tersebut mengaktualkan eksistensinya dengan cara yang berbeda, dengan menampilkan keunggulan lain, seperti kuat berkelahi, berani bolos, dan lainnya.

Dengan sikap tulus, maka seorang guru akan menjadi pencerah yang tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari kesepakatan atau kontrak untuk mengajar. Pada tafsir yang lebih tinggi, guru memaknai bahwa kerja mendidik manusia adalah bagian dari kerja-kerja kenabian. Di beberapa tempat, masih ada guru yang memberikan nilai kepada siswa, sesuai dengan servis atau bonus orang tua siswa kepadanya. Bahkan di suatu sekolah, saat penerimaan rapor, orang tua diberi amplop kosong untuk diisi oleh orang tua. Jumlah isian akan menentukan nilai anaknya.

Foto: Salah satu karya keren Bu Wismi di Moza’s Home & library

Hikmah di Rumah

Ilmu PPOT mengajak orang tua untuk bisa mendidik anak sesuai dengan tahap perkembangannya, termasuk sikap yang baik sebagai anggota keluarga. Ada teman PPOT saya yang bercerita bahwa sebelumnya, jika sampai di rumah, dia hanya bersantai sendiri karena capek atau sesekali mengerjakan tugas kantor jika ada yang tidak kelar dikerjakan. Adapun, anak-anaknya dibiarkan bersama ibunya. Dia meyakini bahwa suami fokus mencari nafkah dan istri yang mengurus rumah dan anak. Setelah mendapat pencerahan di PPOT, dia perlahan berubah, setiap pulang, selalu memanfaatkan waktu yang tidak banyak di rumah dengan kegiatan berkualitas. Karena anaknya masih satu tahunan, makanya dia selalu mengajak anaknya naming benda dan fungsinya. Dia gendong anaknya berkeliling dekat rumah sambil memverbalkan apa yang dilihatnya. Misalnya, ini pohon, warna daunya hijau, dan seterusnya. Anaknya kelak bisa cepat berbicara karena sudah memiliki banyak kosakata.

Pasca mendengar penjelasan bahwa usia emas anak pada 0-2 tahun. Berapapun sel otak yang tersambung di usia tersebut, maka hanya itulah yang bisa dikembangkan di fase selanjutnya. Kini teman tersebut, tidak mau lagi hidupnya di rumah dengan agenda lain, seperti urusan kantor. Dia selalu berupaya menyiapkan waktu khusus untuk dekat dengan anaknya. Urusan anak, bukan lagi urusan istri. Karena anak membutuhkan aspek maskulinitas dan feminitas sekaligus. Itulah alasan substansial, kenapa Tuhan menitip anak pada pasangan laki-laki dan perempuan.  

Kantor Google (https://www.townandcountry.ph)

Hikmah di Kantor

Ada juga alumni PPOT yang berkisah bahwa ilmunya bukan hanya bermanfaat bagi anaknya, namun ia juga terapkan dalam mengelola perusahaannya. Pasca ikut PPOT, dia lebih bijak dan rasional melihat karyawan. Dengan pemahaman yang kuat atas 7 life skill pada PPOT 2, dia bisa menyesuaikan kapasitas dan keunikan karyawan dengan job yang harus diamanahkan kepadanya.

Dengan kesadaran baru ala 18 sikap, dia juga bisa menafsir karyawan secara lebih utuh. Bahwa karyawan berbeda dengan robot yang aspek psikologisnya bisa kita anggap cateris paribus. Kini dia bisa memaknai bahwa orang yang bekerja di perusahaannya adalah manusia yang memiliki ruh Ilahiah dalam dirinya. Makanya, memperlakukan mereka harus dengan SOP pemuliaan, sebagaimana yang kita lakukan kepada sang peniup Ruh.

Dengan gaya kepemimpinan baru, kini perusahaan tumbuh lebih baik. Ternyata profit adalah akibat otomatis ketika syarat-syarat sebab terpenuhi. Memaknai karyawan sebagai manusia sebagaimana layaknya manusia akan berdampak pada produktivitas karyawan yang berlipat. Ujungnya adalah rejeki datang dan berdampingan dengan kebahagiaan yang khas. Bukan bos bahagia tapi karyawan menggerutu karena merasa dieksploitasi sebagai manusia. Padahal dia adalah makhluk yang Ruh Ilahiah, juga dititip padanya.

Masyarakat Papua (https://www.bbc.com)

Hikmah di Masyarakat

Ada pula peserta PPOT yang bercerita bahwa ilmu yang didapatkan selama PPOT bukan hanya bagaimana melakukan parenting dengan sukses, tapi juga bagaimana bisa bertetangga dengan baik. Kita harus melihat tetangga dengan segala keunikannya. Kita harus menolong, sebelum tiba waktunya kita yang meminta tolong.

Kini dia meyakini bahwa untuk anaknya bisa menjadi manusia yang canggih, harus juga didukung oleh lingkungan. Sebab, sejatinya anak memiliki tiga guru, yakni orang tua, sekolah dan lingkungan. Jika ada salah satunya yang bermasalah akan bisa menghambat proses tumbuh kembang anak. Idealnya, ketiga guru tersebut bekerja sama menyiapkan suasana yang baik agar anak dapat menjalani tumbuh kembangnya dengan baik. Baik dari pilihan kosakata, cara berbicara, pilihan permainan, pendampingan, dan seterusnya.

Foto: https://www.desiringgod.org

Hikmah Beragama

Forum PPOT juga bisa dimaknai semacam pesantren kilat, karena apapun yang dibahas selalu dikaitkan dengan Tuhan. Seperti pembelajaran di Sekolah Al Falah yang ketika membahas biologi, misalnya, anak diberi pijakan untuk mampu merefleksikan kebesaran sang pencipta. Demikian dengan ilmu yang lain, selalu ada spirit Tauhid di dalamnya. Jadi anak dibantu untuk memiliki kesadaran Ilahiah yang berbasis pada karakter berpikir saintis. Dalam bertuhan juga wajib menggunakan kaidah-kaidah berpikir ilmiah agar tidak mudah terjatuh dalam dogma beragama. Kisah tentang anggota dan fans Islam radikal, ISIS di Timur Tengah, Boko Haram di Afrika Tengah, Kristen radikal Hutaree di Amerika Serikat, Budha radikal Skuad 969 di Myanmar adalah sebagian fakta tentang bahayanya beragama tanpa struktur berpikir yang logic.

Paradigma PPOT tentang agama mengajak peserta untuk membangun keyakinan bahwa Keislaman dan Keindonesiaan sudah finis. Kini bagaimana umat Islam yang berjumlah sekitar 85% bisa menjadikan kemuliaan ajaran kitab suci Al-Quran menjadi skill yang terlihat pada cara berpikir dan tindakan sehari-hari. Sebagaimana kata Bung Karno, umat Islam harus menangkap apinya Islam, bukan abunya.

Bu Wismi juga merekrut beberapa ahli agama Islam, untuk membangun pondasi keislaman murid. Tafsir keislaman yang meyakini bahwa ketertinggalan umat Islam karena menjauhi ilmu pengetahuan, serta tidak mengaktualkan Al Quran menjadi skill, tapi sekedar hafalan yang kaku dan beku. Keislaman yang digagas Bu Wismi adalah keislaman yang menguatkan keindonesiaan. Suatu tafsir yang tidak menyakiti para pendiri dan penggerak negeri, namun senafas dengan spirit Soekarno, Hatta, KH. Agus Salim, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, dan kawan-kawannya.

***

Yang canggih dari Bu Wismi adalah kemampuannya untuk menarik benang merah antara tema utama parenting dengan segala aspek  dalam kehidupan. Background sebagai dokter gigi yang mundur dari pekerjaannya karena mengalami kegalauan eksistensial atas sistem pendidikan di negerinya, sehingga mendirikan sekolah alternatif, membuatnya memiliki dasar yang kuat untuk menafsir sekolah bukan hanya dalam kacamata pendidikan an sich, tapi juga dalam aspek kesehatan, neurosains dan lainnya.

Pengalamannya berkeliling beberapa negara di Eropa, AS, Australia untuk membaca apa perbedaan antara sistem sekolah di Indonesia dengan negara-negara yang mendominasi warna peradaban hari ini membuatnya kaya perspektif. Setelah mendapatkan kesimpulan atas perjalanannya yang panjang, barulah kemudian Bu Wismi berani mendirikan sekolah. Di beberapa tempat, kadang ada orang yang membangun sekolah, dimana dia sendiri belum paham apa hakikat sekolah. Termasuk belum meriset, apa kelemahan sekolah yang sudah ada, sehingga jika membuat sekolah baru, ada yang menjadi diferensiasi, sekaligus menjawab kelemahan-kelemahan sekolah yang sudah ada.

Foto: https://www.google.com

Untuk merawat dan terus meningkatkan mutu, Bu Wismi dan tim bekerja sama dengan salah satu  sekolah terbaik yang ada di Florida, AS. Selanjutnya, keunggulan yang dimiliki Bu Wismi adalah kemampuanya memilih dan membentuk tim. Al Falah unggul bukan karena kualitas satu aktor, namun karena tim hebat yang mampu memainkan suatu irama secara profesional sesuai tugas dan fungsinya, kemudian dipimpin oleh dirigen yang bukan hanya mampu membaca makna kata, serta tafsir bahasa verbal, tapi juga mampu meraba kerja otak orang yang ada di depannya. Tim Al Falah kaya dengan latarnya, bukan hanya sarjana keguruan atau PAUD, namun ada kedokteran, psikologi, sarjana seni, sosial politik, dan lainnya. Mereka bekerjasama melayani murid, sehingga konsep dan program pembelajaran yang diberikan ke murid selalu menarik dan holistik.

Berbagai mutu PPOT diatas memperjelas kenapa negara, melalui kementerian pendidikan pernah bekerja sama dengan Bu Wismi untuk membangun paradigma baru dunia PAUD Indonesia. Demikian halnya, kenapa ada teman PPOT saya yang sudah 13 tahun tidak pernah bosan ikut PPOT untuk mendapatkan update hasil riset para saintis tentang parenting. Juga untuk sekedar merawat spirit karena untuk menjadi guru excellent, apalagi untuk usia dini membutuhkan kekuatan fisik, intelektual dan spiritual yang berlimpah karena kaidah dasarnya yang tidak boleh melarang, memarahi dan menyuruh anak. Anak harus dididik bertindak karena sesuatu itu rasional dan bermanfaat.

Teori etika prosedural diskursus (jujur, benar, jelas, tepat) yang digagas oleh filsuf besar abad 20-21 yang masih hidup hingga saat ini, Jurgen Habermas juga harus diaplikasikan ketika berkomunikasi kepada anak usia dini. Jika ini bisa menjadi skill sejak dini, maka kelak seseorang akan menjadi warga negara yang rasional, bijak, kritis dan tidak mudah menjadi korban hoax.

PPOT adalah forum untuk mewujudkan gurunya manusia. Guru dalam makna orang tua, sekolah dan lingkungan. Mari bergerak melahirkan semakin banyak guru manusia demi tercapainya suatu republik yang memaknai dan memperlakukan manusia sebagaimana layaknya manusia.

Salam

www.republikmanusia.com

Andi Zulkarnain

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *