21 JUNI: WAFATNYA SOEKARNO,LAHIRNYA JOKOWI

Semoga Bung Karno mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Selamat ulang tahun tukang kayu yang paling fenomenal di negeri ini.

 Kisah sukses tukang kayu di dunia sebenarnya bukan hal baru, karena Tuhan pernah mengirim manusia terbaik ke bumi bernama Zakaria untuk menjadi nabi. Tentu fungsinya adalah  mengajak masyarakat dari kegelapan menuju cahaya. Tentu ciri nabi adalah menjadikan derita rakyat sebagai derita dirinya. Tentu para nabi mengharamkan dirinya hidup mewah. Tentu para nabi tulus menjadikan dirinya sebagai budak Tuhan untuk terselenggaranya kebaikan di bumi.

***

21 Juni (1970) merupakan momen derita bagi rakyat Indonesia karena pada waktu tersebutlah proklamator utama negeri ini, Bung Karno meninggalkan dunia ini menuju fase kehidupan yang selanjutnya. Di sisi lain, 21 Juni (1961) juga adalah momen bahagia karena Tuhan mengutus kembali manusia besar yang kemudian menjadi fenomeal tidak hanya nasional, bahkan internasional. Pasca Soekarno, hampir tidak ada politisi Indonesia yang mendapatkan pemberitaan dan apresiasi nasional dan internasional seheboh yang didapatkan Jokowi.

 KESAMAAN BUNG KARNO DAN BUNG JOKOWI

MENDERITA DEMI RAKYAT

Mereka sama-sama siap menderita demi rakyatnya. Kalau Bung Karno merasakan derita karena tekanan dari para penjajah, termasuk kelompok ekstrim yang merusak hasil kemerdekaan, maka Bung Jokowi merasakan derita fitnah, isu SARA yang ditembakkan oleh lawan politik dan kelompok-kelompok yang tersakiti oleh visi politik kerakyatan Bung Jokowi.

 KEKUASAAN BUKAN MEMPERKAYA DIRI

Mereka berdua juga tak menggunakan kekuasaan untuk kekayaan pribadi. Karena kemiskinannya, Bung Karno bahkan pernah tak mampu membeli seikat rambutan (lihat),  Bung Jokowi juga selama ini tak ada bukti ia menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Justru yang diceritakan oleh ibunya, dalam buku: Saya Sujiatmi Ibunda Jokowi; Kisah Perempuan Pengajar Kesederhanaan (2014) bahwa Jokowi batal membuat SPBU karena uangnya dipakai untuk membantu suksesi Pilkada pertamanya di Solo, 2005. Bahkan yang fenomenal, mungkin hanya ia pejabat publik yang menolak menerima gaji. Ia berprinsip bahwa selama ia masih ada tabungan untuk biaya hidup keluarganya, maka ia tak ingin memakan uang (gaji) dari rakyatnya, meskipun itu halal karena diatur oleh UU.

 BIAYA POLITIKNYA OLEH RAKYAT

Pada Pilkada Solo 2005 yang merupakan fase awal Jokowi masuk dunia politik, memang harus mengeluarkan uang pribadinya untuk ikut menambah sumbangan donatur. Tapi, pada pilkada selanjutnya Jokowi selalu dibiayai oleh rakyat. Itu karena Jokowi sudah terbukti ketulusan dan karyanya, maka rakyat tak lagi ragu berkorban untuk kemenangannya.

Foto: simomot.com

Foto: simomot.com

 KEPEDULIAN PADA RAKYAT KECIL

Bung Karno terkenal dengan kepedualiannya terhadap rakyat kecil.  Kesadaran tersebutlah yang membuatnya rela merasakan sakitnya penjara dan pembuangan. Selanjutnya Jokowi membuktikan kepeduliannya kepada rakyat kecil dengan membuat kebijakan yang memuliakan rakyat kecil. Ia berani pasang badan, bahkan akhirnya dikatakan walikota bodoh oleh atasannya gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo karena menolak pembangunan Mall di Solo. Jokowi juga membuat rumah deret, rumah rusun lengkap fasilitas, memberi tempat layak kepada PKL, bahkan memberinya gelar baru sebagai saudagar.

 DIBICARAKAN ORANG LUAR

Bung Karno menjadi legenda bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri ia tak berhenti dibahas. Ada kisah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Perancis. Saat dosennya menjelaskan tentang nasionalisme dan perlawanan terhadap imprealisme, sang dosen tersebut sangat banyak mengutip Bung Karno. Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa Bung karno begitu disegani di luar negeri, bahkan melebihi di dalam negeri. Pemikiran Bung Karno jarang sekali dibahas dalam ruang kelas di Indonesia. Padahal yang membuat Bung Karno, sebagaimana manusia besar lainnya, menjadi abadi bukanlah fisiknya, tapi pemikirannya.

Ketokohan Bung Karno di luar negeri juga diwujudkan dengan pemberian nama Masjid Biru Soekarno di Rusia, Jalan Soekarno di Mesir, Maroko, Pakistan. Kemudian di Kuba, foto Bung Karno menjadi gambar perangko bersama Fidel Castro dan Che Guevara. (sumber)

Jokowi juga menjadi pembicaraan internasional. Banyak pejabat dari luar negeri, kedubes, dan lainnya, yang ingin bertemu Jokowi, bahkan ingin sekali ikut langsung blusukannya untuk mempelajari cara Jokowi mengelola kota. Endingnya beliau diberi penghargaan sebagai walikota terbaik ketiga di dunia.

MENGHARAMKAN KELUARGANYA HIDUP MEWAH

Bung Karno menekankan kepada keluarga untuk tidak hidup melebihi rakyat Indonesia pada umumnya. Ia meminta keluarganya menjauhi kemewahan. Hal tersebut pulalah yang dilakukan Jokowi. Meskipun Jokowi memiliki uang halal dari kesuksesan bisnis mebelnya, tapi atas nama prinsip “derita rakyat adalah derita pemimpin”, maka Jokowi mengharamkan keluarganya hidup mewah. Bahkan Ibu Iriana pernah diminta mengganti pakaiannya oleh Jokowi karena dianggap terlalu mewah. (Sumber).

MENCINTAI BUDAYA.

Bung Karno terkenal sangat mencintai dan mengangumi kebudayaan Indonesia. Saat ia pergi ke daerah ia selalu mencari hal-hal unik dari daerah tersebut. Istana negara juga penuh dengan hiasan seni budaya nusantara. Jokowi juga sangat cinta kebudayaan, Ia sudah dua kali mengadakan acara Keraton Sedunia di Solo dan festival raja-raja di Jakarta. Jokowi menyayangkan negara belum memberikan perhatian terhadap kebudayaan. Seperti yang pernah ia katakan bahwa “Saya setuju 100 persen jika kebudayaan diperhatikan. Akan saya buktikan jika saya jadi presiden,”(sumber)

 PECINTA WAYANG

Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Bahkan ia hafal banyak cerita wayang. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang kalau ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Dalam film Jokowi, juga diperlihatkan bagaimana Jokowi kecil dididik oleh kakeknya dengan menggunakan kisah pewayangan. Jokowi sangat betah bersama kakeknya bermain wayang. (lihat)

 SIKAP KE PIHAK ASING

Soekarno bukan anti asing, tapi ia tak mau dihina dan ditipu oleh asing. Bung karno pernah mengatakan ke AS, go to hell with your aid, ketika menolak tawaran pinjaman yang dianggapnya merugikan Indonesia. Jokowi sebagai gubernur DKI juga pernah membatalkan pinjaman utang sebesar Rp 1,2 triliun dari World Bank terkait proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) yang merupakan proyek gubernur sebelumnya. Sikap itu diambil karena menurut kalkulasi Jokowi utang tersebut merugikan DKI.

 KHARISMA

Bung Karno terkenal dengan Kharisma yang luar biasa. Kalau ia turun ke masyarakat, ia selalu dikerumuni karena semua rakyat ingin memberi kesempatan mata, hidung, dan telinganya merasakan dan memberi makna langsung atas sosok Bung Karno. Jokowi juga menjadi politisi yang paling fenomenal di negeri ini. Sepertinya tak ada politisi yang mendapat penerimaan di masyarakat semeriah Joko Widodo. Ketika Joko Widodo blusukan, kita seperti menyaksikan artis legendaris yang sedang membuat acara jumpa fans, ada teriakan histeris, ada permintaan tanda-tangan, ada permintaan berfoto, cium tangan, minta doa, dan lainnya.

 MANUSIA (SDM) SEBAGAI INTI.

Bung Karno pernah mengatakan bahwa aku tidak ingin memberi makan rakyatku hanya untuk perutnya, tapi juga untuk jiwanya. Jokowi juga selalu mengulang bahwa “membangun bangsa harus dimulai dari membangun manusianya, jiwanya diisi, mentalnya diisi, budi pekertinya diisi.” Itulah yang menyebabkan Jokowi mencanangkan revolusi mental untuk membangun negeri ini.

DERITA KEMISKINAN

Bung Karno pernah mengatakan bahwa ‘Aku dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Aku tidak mempunyai sepatu. Aku mandi tidak dalam air yang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu”. (sumber). Jokowi kecil juga dididik dengan penuh derita. Ia dan keluarga dipandang rendah oleh orang lain karena hidupnya berpindah dari satu penggusuran ke penggusuran yang lain. Tapi derita itulah kemudian yang mendidik dua manusia tersebut untuk kemudian memahami betul hakekat derita rakyat dan negerinya.

Foto: arbesdj.blogspot.com

Foto: arbesdj.blogspot.com

TOLERAN, TIDAK RASIALIS

Ciri lain dari Bung Karno adalah menghargai perbedaan suku agama dan kelompok. Ia selalu berusaha menempatkan dirinya ada di tengah perbedaan seluruh elemen bangsa. Hal tersebut dibuktikan dengan ucapan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945, “….Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong-royong’. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!….” 

Jokowi juga sangat menghargai keanekaragaman elemen bangsa. Jokowi tidak ingin ada tirani mayoritas atas minoritas. Hal tersebut dicontohkan ketika Jokowi merespons penolakan warga atas penempatan Susan Jasmine Zulkifli sebagai Lurah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Bu Susan mendapatkan penolakan dari sekelompok warga karena alasan agama yang dianutnya. Waktu itu Jokowi membuat pernyataan yang tegas bahwa, Lurah Susan tidak akan dipindah karena isu agama. Tapi kalau kinerja jelek baru akan dipindah. (Sumber)

PEMERSATU SEMUA ALIRAN

Salah satu sebab Bung Karno jatuh dari kekuasaannya adalah karena mempertahankan ideologi NASAKOM-nya. Bahwa nasionalisme, agama, dan komunis bukanlah hal yang terpisah dalam sejarah NKRI. Ketiga hal tersebut beserta para pengusung setianya, terlibat merasakan derita, bahkan terbunuh demi terusirnya penjajah dan tercapainya kemerdekaan 1945. Jokowi tak pernah membedakan pemuliaan kepada semua agama, suku, dan kelompok yang ada di negeri ini.

Jokowi merupakan pemersatu besar  (solidarity maker) yang teruji. Hal tersebutlah yang menyebabkan hampir semua agama , suku, aliran, berjuang secara nyata dan sukarela untuk memenangkan Jokowi JK.

DIZALIMI

Peringatan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, mulai dilarang sejak tahun 1970. Dengan begitu, Orde Baru berusaha menghilangkan jejak Bung Karno dalam kelahiran Pancasila. Selanjutnya, Orde Baru menyusun cerita palsu mengenai siapa penemu Pancasila yang menghapus Bung Karno di dalamnya. Seandainya pemikiran Bung Karno tidak dilenyapkan selama 32 tahun oleh ORBA, mungkin sudah ribuan Soekarno muda yang dilahirkan negeri ini.

Meskipun bobotnya berbeda, tapi Jokowi juga dizalimi. Waktu kecil ia dan orang tuanya beberapa kali mendapatkan penggusuran dari pemerintah. Sejarah hidupnya juga sempat dimanipulasi oleh pihak tertentu yang terorganisir. Ia difitnah isu SARA, bahwa orang tuanya adalah asli Singapura, agamanya non muslim, dll. Ia dan pimpinan partainya juga dibuatkan surat palsu (atas nama dirinya) yang meminta agar kejaksaan tak memeriksanya. Hal tersebut sudah dijelaskan langsung oleh Jaksa Agung, bahwa itu fitnah. Terakhir ia dibuatkan tabloid khusus “Obor Rakyat” yang dananya sekitar 20 miliar untuk merusak nama Jokowi dalam ingatan rakyat. (sumber)

Jokowi memang tidak melalukan hal yang spesial, ia hanya melakukan tugasnya sebagai pejabat publik. Karena pejabat yang lain tidak beres, sedangkan Jokowi lumayan bagus, maka Jokowi menjadi fenomenal. Misalnya, Jokowi dekat dengan rakyat, hidup sederhana, murah senyum, tidak elitis, berani membuat terboson, transparan, tegas, tidak korupsi, kalau ngomong mudah dipahami, melarang petugas memukul rakyat sendiri, mennghormati orang yang lebih tua, sabar kalau difitnah, fokus untuk terus bekerja, adalah hal standar yang harusnya juga dimiliki oleh pemimpin yang lain.

Kalau masyarakat suka dengan hal tersebut dan jatuh cinta kepada pelakunya merupakan suatu hal yang sangat logis. Justru yang jadi masalah kalau ada orang seperti Jokowi tapi mayoritas masyarakat meresponnya biasa-biasa saja.

Kecintaan masyarakat yang sangat tinggi kepada Jokowi menjadi tanda bahwa mayoritas rakyat negeri ini masih sehat jiwanya. Mereka menyumbang untuk kemenangan Jokowi-JK, yang saat ini sudah berjumlah sekitar Rp 50 miliar. Sumbangan besar tersebut merupakan kisah baru dan fenomenal dalam dunia politik Indonesia yang masih menata model demokrasinya.

Banyaknya orang yang menjadi relawan Jokowi, baik yang individu maupun yang dalam bentuk organisasi menjadi tanda bahwa masyarakat masih punya daya juang untuk kebaikan negeri ini. Masyarakat masih memiliki kesadaran kolektif  bahwa janji kemerdekaan harus dilunasi dengan bekerja bergotong royong.

Memang Jokowi bukan manusia sempurna, tapi minimal ia telah memberi pelajaran bahwa kesempurnaan itu ada, dan bisa didekati.

Menjadi pertanyaan kemudian, apakah kematian Bung Karno bertepatan dengan kelahiran Jokowi merupakan tanda bahwa Tuhan tak tidur, dan Tuhan tak pernah cuti dalam menebar kasih sayangnya di bumi dan seluruh semesta alam???

***

Salam duka kepada Bung Karno, semoga Cinta Tuhan selalu bersamanya.

Dan selamat ulang tahun kepada tukang kayu fenomemal Jokowi

Semoga mendapat amanah menjadi pemimpin negeri ini, untuk menuntaskan mimpi-mimpi Bung Karno, Bung Hatta,dkk.

Salam…

www.republikmanusia.com

A. Zulkarnain

*Penulis Tesis : Fenomena Politik Jokowi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *