17 TEORI: INDONESIA BAIK-BAIK SAJA

By; A. Zulkarnain ZL

Ada banyak analisis tentang apa yang akan terjadi pasca KPU mengumumkan hasil rekapitulasi nasional pemilihan presiden. InsyaAllah Indonesia akan baik-baik saja. Berikut analisisnya;

1. LIMIT BERKUASA

Pasca reformasi, para tokoh negeri segera membuat rumusan dalam konstitusi yang membatasi masa kekuasaan presiden, maksimal 10 tahun. Ini penting agar tidak ada lagi penguasa yang tidak jelas batas berkuasanya sehingga harus diturunkan dengan paksa. Tentu itu semua akan memakan korban yang tak sedikit, baik materi maupun nyawa anak bangsa.  

Pada masa Pak SBY. Ada sebagian pihak yang kecewa dan marah dengan kebijakannya yang dianggap membawa mundur bangsa ini. Mereka ingin mengganti Pak SBY di tengah jalan. Namun, beberapa tokoh bangsa memberi nasehat, tidak usah kita mencontoh negara lain menggunakan rakyat sebagai kayu bakar untuk berkuasa. Jika ada kekurangan Pak SBY, tunggulah sampai ia mengakhiri masa jabatannya (2014). Sambil itu, segera siapkan figur terbaik yang disukai rakyat sehingga bisa dipilih di TPS saat pemilu. Gerakan di TPS adalah people power di era demokrasi. Sebagaimana pada pilpres 2019, ada 150-an juta rakyat keluar rumah dan masuk TPS untuk terlibat memberi arah bangsanya di lima tahun ke depan.

2. TAK ADA KRISIS EKONOMI

Jika belajar pada gerakan rakyat pada momen 1965 dan 1998, persoalan perut menjadi penentu. Orang miskin ada dimana-mana. Pengusaha banyak yang bangkrut, yang lain hidup dalam ketidakpastian. Maka untuk menciptakan hal yang pasti, mereka setuju adanya gerakan mengganti di tengah jalan penguasa yang sah.

Saat ini mall dan pasar masih ramai. Masyarakat bisa belanja segala kebutuhan sehari-hari dalam harga yang masih terjangkau. Semua orang masih bisa makan sesuai dengan selera makanya.  

Foto: www.tribunnews.com

3. ELIT YANG SOLID

Secara umum, saat ini bisa dibaca bahwa tidak ada keterbelahan yang keras di level elit. Mereka baik-baik saja. Apalagi momen bulan ramadhan membuat mereka sering bertemu di acara buka puasa bersama.

Pak Jokowi telah memperlihatkan bahwa pasca dirinya, ia tidak mempersiapkan pelanjut dari keluarganya. Ia tak memiliki partai politik, anaknya tak ada jadi menteri, sehingga politisi yang lain, termasuk politisi muda yang ada di negeri ini, silahkan berkarya untuk publik sejak sekarang dan jadikan itu sebagai modal meyakinkan publik di TPS di pemilu selanjutnya.

4. NUANSA PUASA

Puasa mengajarkan tentang hakekat menahan. Hal tersebut membuat masyarakat sulit untuk dipaksa marah karena hakekat puasa adalah menahan hal tersebut. Apalagi informasi resmi dari Bawaslu bahwa data tentang kecurangan dari pihak yang merasa dirugikan tidak kuat sebab hanya mengandalkan berita media online.

Selanjutnya, umat pasti bisa membaca bahwa pihak yang mau diserang serta yang aparat yang mengamankan juga adalah orang yang sama-sama berpuasa. Sama-sama pengangum nabi Muhammad, saw. Sama-sama sedang bahagia dengan bulan ramadhan dan menanti untuk bisa mudik dan berkumpul bersama keluarga.

5. UMAT TIDAK LAWAN ULAMA

Jika ada gerakan menolak hasil pilpres yang memenangkan 01, maka sejatinya yang dilawan juga adalah kelompok Islam, karena kader ormas Islam terbesar di dunia ada di koalisi tersebut. Masyarakat rasional bahwa jika semangat menjaga marwah dan dakwah Islam di negeri ini, maka diantara 4 sosok yang ada di dalam kertas suara capres/cawapres, KH. Ma’ruf Amin lah yang teruji. Indikatornya pada 2015 semua ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) memilihnya menjadi ketua. Jadi yang mengakui, menyetujui dan mengangkat KH Ma’ruf jadi pemimpin ulama di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia adalah ulama, bukan orang biasa yang baru belajar agama.

Alhamdulillah untuk pertama kalinya, ulama, bahkan ketua Majelis Ulama Indonesia bisa menjadi wakil presiden. Ini adalah capaian terbesar dalam politik umat Islam. Kalau kata Pak JK, Pak Jokowi sangat menghargai umat Islam, sebab pada saat pilpres 2014 memilih Ketua Dewan Masjid (DMI) sebagai wakilnya, sekarang, 2019 naik level, karena memilih Ketua Majelis Ulama (MUI) sebagai pendampingnya.

6. KOALISI 02 SUDAH PECAH

Pertemuan tokoh Partai Demokrat dan PAN dengan Presiden Jokowi menjadi sinyal kuat bahwa koalisi 02 sudah tidak kompak lagi. Sulit untuk melakukan gerakan yang lebih besar dan beresiko jika kekuatan internal sudah terbelah. Saat pidato Pak Prabowo dan Pak Sandi terkait keputusan KPU, banyak tokoh inti yang tak ikut. 

Partai yang lain tidak ingin dikenang dalam sejarah sebagai partai yang tidak fair dalam berkompetisi. Mereka tidak ingin masuk dalam memori publik sebagai politisi yang ambisius dengan kekuasaan dan menghalalkan segala cara deminya.

Foto: https://m.kaskus.co.id

7. PARTAI TAK MAU DICAP PEMBERONTAK

Partai yang ada di kubu 02 pasti tidak mau dicatat sejarah sebagai partai yang katanya pro demokrasi, tapi ternyata menjadi pemberontak karena melawan mekanisme politik yang dibuatnya sendiri sebagai politisi senayan.

Partai ingin bernafas lebih panjang, olehnya itu pasti menghindari dibubarkan di tengah jalan oleh negara karena terbukti melawan negara. Orang parpol pasti paham bahwa berpolitik adalah berkonstitusi. Sejarah mencatat bahwa pernah ada politisi yang dipenjara dan parpol yang dibubarkan karena terbukti melakukan makar.

8. BARANG BUKTI KECURANGAN

Sistem hukum mengenai pembuktian, siapa pun yang mengatakan ada kecurangan, pihak tersebut harus bisa membuktikan kecurangan di hadapan hakim. Kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif, pihak tersebut harus dibuktikan di MK.

Membuktikan kecurangan di 800 ribu TPS sangatlah sulit. Selisih suara hampir 17 juta merupakan angka yang sangat besar.

9. KELAS MENENGAH BAIK-BAIK SAJA

Beberapa waktu lalu saya ketemu beberapa tokoh bangsa dan elit kelas menengah yang gelisah dan siap membiayai gerakan toleransi di negeri ini. Yang mereka takutkan bukan kekuasaan Pak Jokowi, namun kelompok yang membunuh ruang publik dengan narasi benci kepada kelompok selainnya.

Kelas menengah merasa aman di rezim ini. Mereka bisa berbisnis dengan lebih mudah, karena perizinan dipersingkat dan pungli semakin berkurang. Yang terutama sekali, karena mereka tidak perlu berkompetisi dengan keluarga presiden yang memanfaatkan fasilitas negara dalam berbisnis, sebab anak presiden lebih memilih menjadi penjual martabak, pisang goreng dan kopi. Fakta ini tentu sangat berbeda dibandingkan dengan zaman orde baru, dimana restu Cendana penentu nasib pengusaha.

10. MEDIA MASIH BEBAS BEREKSPRESI

Media adalah penopang demokrasi. Dalam sejarah gerakan melawan pemerintahan yang sah, selalu dibutuhkan dukungan media. Sampai saat ini, media bebas mengkritik pemerintah. Bebas menyiarkan apapun.

Insan pers justru terganggu dan terintimidasi oleh aksi sekelompok orang yang melarang wartawan meliput kegiatannya.  

11. PAKET DATA TERJANGKAU

Di zaman internet of things. Anak muda milenial sangat membutuhkan paket data yang terjangkau. Jika paket data mengalami inflasi, maka ini bisa memicu pemberontakan milenial. Saat ini, hampir semua provider memiliki paket hemat data bagi milenial. Artinya, hobi mereka untuk main game, berselancar di medsos tidak diganggu oleh rezim ini, bahkan dimudahkan.

Milenial saat ini sibuk dengan bisnis online, tampil menjadi Youtuber, dan berkarya di berbagai bidang.

12. MILENIAL SUDAH CAIR

Tanggal 19 Mei kemarin, anak milenial, termasuk dari kubu 01 dan 02 berkumpul untuk memperingati 111 tahun Hari Kebangkitan Nasional di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta. Acara yang diinisiasi oleh tokoh milenial, Mas drg Arief Rosyid ini mengangkat tema “Milenial Melangkah Maju”. Peserta merupakan undangan lima puluh organisasi dari berbagai latar belakang: aktivis pemuda dan ormas Islam, pengusaha, pegiat start-up, profesional dari berbagai bidang, serta politisi muda dan relawan, baik pendukung pasangan 01 dan 02. Hadir juga mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, Rektor IPB Arif Satria dan Pak Esa Kusumawijaya dari Kemenpora.

Dalam pidatonya, Arief Rosyid, inisiator acara, menyerukan persatuan dan kolaborasi lintas kelompok. Arief menekankan, sekeras apapun sebuah perhelatan demokrasi, tujuannya tidak lain untuk memperkuat simpul kebangsaan. “Kami ingin meminjam semangat kebangsaan Boedi Oetomo. Kami ingin segera move on, melangkah maju dari pembelahan politik yang terlalu tajam. Jika belum bisa dari atas, kami mendorong persatuan dari bawah,” ujar Arief yang juga co-founder Aktivis Milenial.

Milenial tentu paham bahwa perjalanan mereka masih panjang, maka kolaborasi diantara milenial harus terus terjaga. Menghormati proses pemilu, tawadhu saat menang dan berjiwa besar saat kalah adalah karakter yang perlu dijaga. Selanjutnya, milenial butuh stabilitas agar bisa terus berkarya.

 

Foto: https://m.republika.co.id

13. MILITER AMAN

Tahun ini anggaran untuk militer merupakan terbesar kedua setelah dana infrastruktur. Artinya perhatian Presiden Jokowi sangat tinggi. Dalam APBN 2019, anggaran untuk Kementerian Pertahanan Rp 108,36 triliun atau sebesar 4,4% dari total anggaran belanja pemerintah sebesar Rp 2.461,1 triliun. Anggaran Kementerian Pertahanan tersebut merupakan terbesar kedua setelah anggaran Kementerian PUPR senilai Rp 110,7 triliun.

Para pensiunan militer juga akan kembali mendapatkan tunjangan hari raya. Sesuatu yang tidak ada pada pemerintahan sebelumnya. Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) mengenai pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13 untuk pegawai negeri Sipil (PNS), anggota TNI dan Polri serta pensiunan.

Isu people power telah membuat kalangan militer aktif dan pensiunan semakin solid. Bagi mereka Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. Siapapun yang ingin merongrong keamanan negara harus dilawan bersama.   

14. JAWA NON JAWA

Jika narasi yang dibangun untuk menjatuhkan Pak Jokowi adalah isu anti Jawa, maka itu keliru besar. Karena Pak Jokowi adalah pemimpin asli Jawa yang memimpin sendiri gerakan dan aksi untuk mengubah haluan pembangunan dari Jawa sentris menjadi nusantara sentris. Hal itu dibuktikan dengan pembangun tol Papua, tol Sumatra, kereta api Sulawesi, dll.

Pada 2016, jumlah alokasi transfer ke daerah meningkat menjadi Rp 776,3 triliun. Untuk pertama kalinya dalam sejarah jumlah alokasi transfer ke daerah lebih besar dibandingkan belanja kementerian/lembaga di pusat.

Kemudian, rencana besarnya untuk memindahkan ibu kota negara keluar dari Pulau Jawa juga adalah upaya beliau agar janji  kemerdekaan untuk kemakmuran seluruh rakyat di semua pulau di negeri ini bisa terwujud.

15. KUBU 02 JUGA UNGGUL

Sejatinya, Kubu 02 juga unggul di pemilu serentak ini di sektor legislatif. Kemampuan Gerindra menduduki posisi no dua dengan angka 12,57%, kemudian PKS yang awalnya diprediksi tidak lolos ambang batas parlemen, namun suaranya meningkat menjadi 8,21%. Demikian pula PAN dan Demokrat sudah lolos masuk Senayan dengan suara 6,84% dan 7,77%.

Mereka sisa mempersiapkan diri untuk menang di pemilu 2024. Itu waktu yang tak lama dalam politik, sebab banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk berkantor di istana merdeka. Yang pasti di pemilu selanjutnya tidak ada petahana, maka peluang menang bisa lebih besar. Kekuatan politik di pemilu saat ini, sisa dirawat baik-baik, nanti dicari tambahan lagi untuk menang.

16. SANDI DAN MESIN PILPRES 2024

Jika AHY datang ke istana menggunakan mobil dengan plat 2024, maka Sandi sejatinya jauh lebih maju sebab agenda 2024-nya lebih siap, bukan hanya plat mobil. Sandi sudah punya mesin politik sendiri di 34 provinsi. Sandi juga sudah punya pengalaman bersentuhan langsung dengan masyarakat nusantara di 1500 titik. Itu adalah modal politik yang cukup mewah untuk momen 2024.

Sandi merupakan politisi muda yang paling dibicarakan sejak 2017 kemarin. Tiga tahun menjadi media darling membuat Sandi masuk dalam top of mind masyarakat. Selanjutnya, Sandi disiapkan untuk menjadi ketua umum Gerindra, sehingga dia akan memiliki mesin politik yang cukup kuat dan nyata. Gerindra sebagai partai terbesar kedua di bangsa ini tentu menjadi modal yang sangat luar biasa untuk pemilu 2024. Olehnya itu, wajar jika Sandi tidak terlalu ngotot dalam debat curang dan tak curang pasca pilpres ini.

17. PAK PRABOWO DAN PARTAI TERBESAR KEDUA

Capaian Gerindra sebagai partai dengan suara terbesar kedua merupakan karya terbaik Pak Prabowo untuk Gerindra. Pak Prabowo telah menyiapkan infrastruktur yang sangat baik untuk beliau berkompetisi di pemilu selanjutnya atau beliau bisa menjadi mentor bagi kader terbaiknya di 2024, sebagaimana pilihan Bu Mega pada pilpres 2014.

Pak Prabowo adalah tentara yang tentu paham doktrin keamanan negara.  Beliau adalah Patriot yang bisa benci dan marah pada suatu kondisi, namun pasti beliau tahu batasan atas kekecewaannya. Kecintaan pada NKRI adalah yang tertinggi diatas segalanya.

***

Perbedaan pilihan politik dan kekecewaan pada beberapa proses politik, harusnya tidak membunuh mimpi kita, bahwa kita berIndonesia untuk beribu-ribu tahun lamanya.

Salam

www.republikmanusia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *