11 ALASAN RENCANA KUDETA AKAN GAGAL

Beberapa hari menuju 4 November 2016 muncul isu bahwa gerakan menuntut hukuman tegas kepada Ahok akan berembes pada gerakan mengkudeta presiden yang sah, Jokowi. Konon, gerakan 4 November merupakan gabungan beberapa kekuatan, (1) faksi gagal move on sejak 2014; (2) lawan Ahok di Pilkada DKI 2017; (3) kelompok yang butuh pembenaran atas buruknya sistem demokrasi dan selanjutnya mari memilih sistem khilafah; (4) pengusaha hitam yang belum siap berbisnis sesuai etika umum dan merasa disakiti oleh sosok Ahok dan Jokowi; (5) pihak yang belum legowo dan menemukan jawaban jernih kenapa mesti junior ku yang menjadi Kapolri; (6) mantan penguasa yang tidak ingin kinerjanya direndahkan karena penguasa sekarang lebih sukses dalam segala bidang, termasuk bidang keamanan.

Rencana kudeta besok, sudah tercium oleh pihak istana, makanya telah dilakukan beberapa gerakan untuk mengantisipasinya. Kehadiran Jokowi ke kediaman Prabowo untuk memberi banyak pesan kepada khalayak. Bukan sekedar makan nasi goreng dan naik kuda gratis, tapi bahwa sosok yang dikunjungi mungkin termasuk aktor dibalik agenda drama 4 November. Kehadrian JK ke SBY juga untuk menyempurnakan pesan diatas.

Upaya kudeta akan gagal besok karena banyak syarat materil yang tidak terpenuhi, berikut analisanya:

  1. Respon kelas menengah

Hampir semua gerakan sosial yang sukses selalu karena dukungan kelas menengah yang massif. Saat ini, kelas menangah tidak merasa dizalimi oleh rezim Jokowi. Justru mereka mulai melihat harapan, dengan kemudahan berbisnis atas berbagai kebijakan paket ekonomi yang sudah berjalan. Kelas menengah juga dibiarkan berkompetisi secara bebas, tanpa ada batasan dan halangan dari negara. Mereka bebas berbicara dan pasang status apapun.

2. Sikap Mahasiswa

Jika mahasiswa jujur, membandingkan konteks 1998 dengan 2016 saat ini, ada banyak hal yang berbeda. Sampai saat ini, tidak ada mahasiswa yang diculik ato dibunuh oleh rezim Jokowi untuk mengamankan dan mempertahankan kekuasaan, sebagaimana perilaku Soeharto saat itu. Harapan mahasiswa lebih pada memaksimalkan kinerja dan menjaga independensi dalam mengeluarkan keputusan.

Gerakan 4 November lebih digerakkan oleh kelompok Islam tertentu yang menafsirkan ucapan Ahok sebagai penistaan. Adapun ormas Islam terbesar di dunia, NU dan Muhammadiyah sudah memberi sikap tidak tergabung dalam gerakan besok.

Hari ini, ribuan mahasiswa dari PB PMII, PP GMNI, PP GMKI, PP PMKRI, PP HIKMAHBUDI, serta PP KMHDI melaksanakan Apel Kebangsaan Mahasiswa Indonesia, di Tugu ProklamasiJakarta Pusat. Mereka sangat sadar bahwa Indonesia lahir dan besar karena kebhinekaan, maka isu SARA tidak boleh merobek tenun kebangsaan kita.

Foto: id-id.facebook.com

Foto: id-id.facebook.com

3.      Jokowi saat ini sedang surplus prestasi.

Jokowi sedang meyakinkan seluruh pihak yang selama ini terpinggirkan karena menganggap hanya Jakarta dan Jawa disayang oleh penguasa di Jalan Merdeka Utara. Beberapa bandara dan pelabuhan yang sudah diresmikan, termasuk sistem satu harga BBM di Bumi Papua merupakan fakta keseriusan Jokowi membahagiakan seluruh warga yang hidup di negeri ini.

Progream E-Tilang, Tol Laut, Amnesti Pajak, ketegasan solusi atas kasus Lapindo dan Sinabung, melawan pencuri ikan, dll merupakan bagian bukti yang membuat masyarakat membaca bahwa Jokowi masih punya niat baik untuk negeri ini.

4.      Posisi partai politik. 

Mayoritas partai politik ada dalam lingkaran kekuasaan Jokowi, pasca kubu KMP terpecah. Dengan dukungan mayoritas tersebut, sulit muncul gerakan untuk menjatuhkan Jokowi. Apalagi beberapa data dosa masa lalu elit partai, termasuk yang pernah jadi menteri, dll sudah ada di tangan Jokowi.

 5.      Tidak ada tokoh pemersatu

Gerakan besok hanya gabungan beberapa kekuatan, tapi tidak memiliki tokoh inti yang berkarakter solidarity maker. Tidak ada tokoh sekaliber Fethullah Gulen di Turki. Karena ketidakjelasan pemimpin maka gerakan besok hanya akan menjadi pertunjukan kekuatan yang terbatas daya dobraknya.

Jika Jokowi diturunkan di tengah jalan, maka tidak jelas siapa pengganti yang bisa membawa negeri ini lebih baik, lebih aman dan bisa diterima oleh seluruh stakeholders di negeri ini.

 6.      Kendali BIN, POLRI dan TNI.

Gerakan kudeta yang sukses  selalu atas dukungan nyata dari pihak aparat, termasuk militer. Saat ini BIN dikuasai oleh seseorang yang sangat loyal kepada petinggi PDIP, Bu Mega yang merupakan mantan ajudannya. Kepala BIN paham betul bahwa posisinya sebagai wakapori dan kemudian kepala BIN atas keringat dan garansi tingkat tinggi PDIP yang kemudian diaminkan Jokowi.

Kapolri juga merupakan sahabat dekat Jokowi. Saat Jokowi menjabat “Ketua BEM” DKI Jakarta, maka Pak Tito merupakan penanggungjawab tertinggi kepolisian. Persahabatan dan dialektika bersama membuat mereka memiliki kondisi kebatinan yang selalu mirip dalam melihat kondisi bangsa saat ini dan ke depan.

Begitu halnya, panglima TNI yang masih mengiyakan nasehat Soekarno, bahwa tentara tidak boleh ikut-ikut politik. “...angkatan perang tidak boleh ikut-ikut politik, tidak boleh di ombang-ambingkan oleh sesuatu politik, angkatan perang harus berjiwa yaa berjiwa, berapi-api berjiwa, berkobar-kobar berjiwa tapi ia tidak boleh ikut-ikut politik”.

Para elit pengamanan negara tersebut tidak membaca bahwa Jokowi selalu berjalan ke arah yang membahayakan negara, tapi justru Jokowi sedang bekerja untuk membersihkan negeri dari para mafia. Jokowi sedang melakukan berbagai terobosan dalam menata negeri ini, bahkan Jokowi harus melanggar pakem, sebagaimana kisah pengangkatan Kapolri dan Panglima TNI. Tentu mereka bahwa diangkatnya mereka oleh Jokowi sebagai Panglima Tertinggi merupakan suatu kebaikan yang harus dicicil balasannya, bukan justru dirusak dengan pengkhianatan.

sumber gambar: http://linka08.deviantart.com

sumber gambar: http://linka08.deviantart.com

 7.      Posisi NU dan Muhammadiyah

Sejarah menjelaskan bahwa posisi dua ormas keagamaan terbesar di dunia ini menentukan nasib penguasa. Fatwa Ulama dalam momen 10 November di Surabaya, kepada umat Islam untuk berjihad melawan penjajah tercatat dengan rapi dan selalu diperingati sebagai hari pahlawan.

Saat ini, sudah ada sikap tegas NU dan Muhammadiyah bahwa mereka bukan bagian dari gerakan 4 November, karena mereka sudah memiliki data lengkap bahwa gerakan besok sudah bercampur kuat dengan kepentingan politik praktis.

Gerakan dalam momen 4 November ini telah menambah data Jokowi, siapa yang loyal kepadanya, dan siapa yang main dua bahkan tiga kaki. Semua menteri, relawan, koalisi partai, ormas pendukung, akademisi, tokoh agama, dll sedang diuji level kesetiaan dan nasionalismenya. Data itu sangat penting untuk gerakan dan visi politiknya di masa depan.

 8.      Kondisi Rakyat Miskin.

Rakyat miskin saat ini, sedang merasakan manfaat dari beberapa kartu yang dibagikan Jokowi. Mereka juga mengalami secara langsung, bagaimana bisa berobat gratis, operasi sesar gratis, dan berbagai fasilitas gratis yang dicanangkan Jokowi. Rakyat miskin melihat bahwa upaya Jokowi untuk membuat mereka terlayani dengan baik sedang digalakkan. PNS yang suka minta pungli kepada mereka, satu persatu menjadi pesakitan di kantor polisi.

9.      Sikap Asketis Jokowi

Gaya hidup Jokowi yang asketis membuat masyarakat masih percaya dengannya. Hidupnya yang zuhud mematikan api kecemburuan masyarakat terhadapnya. Beberapa waktu lalu ia masih terlihat membeli sepatu yang harga 200 ribuan. Anaknya juga masih konsisten menjadi penjual martabak, dan tidak masuk dalam urusan politik memanfaatkan kekuasaan orang tuanya, sebagaimana yang dipertontonkan hampir semua elit negeri ini.

Keluarga dan kerabat Jokowi tidak memonopoli sumber daya ekonomi dan politik sebagaimana yang dipertontonkan Soeharto beberapa tahun silam. Saat ini semua pihak bisa menjadi elit dan sukses tampa perlu melapor ke rumah Jokowi, sebagaimana dulu Cendana menjadi pintu untuk meraih mimpi-mimpi.

10.  Jokowi Tidak Melanggar Konstitusi

Jokowi tidak melakukan pelanggaran konstitusional sebagai presiden. Sebagaimana yang diatur dalam konstitusi bahwa presiden bisa diberhentikan, Pertama, apabila presiden dan atau wapres melaksanakan pelanggaran hukum yang berat, pengkhianatan terhadap negara, korupsi, menerima suap dan pelanggaran-pelanggaran hukum yang berat lainnya; Kedua, apabila melakukan perbuatan tercela. Ketiga, apabila sudah tidak lagi mampu mengemban tugas sebagai presiden dan wapres secara jasmani dan rohani.

screenshot_2016-11-04-17-45-02-43

 11.  Posisi Pak JK

Pak JK bukanlah figur yang diharapkan oleh PDIP untuk menjadi 01 negeri ini. Karena tentu lebih mudah mengkomunikasikan segala visi dan kepentingan partai kepada Jokowi yang merupakan kader PDIP dan juga anak dari satgas PDIP Solo, daripada Pak JK yang merupakan kader senior Golkar.

Pak JK saat ini bukan penentu di partai manapun. Pasca Ade Komaruddin, kalah dalam munas, maka Pak JK kehilangan kekuasaan di Golkar. Maka energi untuk ikut bermain dalam tarian politik sangat terbatas.

Pak JK bukan tipe politisi yang suka menghalalkan segala cara. Saat SBY-Budiono berkuasa, dan Pak JK di posisi sebagai tokoh yang ditinggalkan SBY karena tidak diajak untuk maju di periode kedua, JK selalu meminta jejaring politiknya agar jangan pernah melakukan gerakan inkonstitusonal terhadap SBY. Bagi JK, sebagai tokoh perdamaian, kudeta bukanlah solusi bagi suatu bangsa yang mau maju, tapi justru awal untuk suatu konflik yang tidak jelas akhirnya. Kudeta hanya akan menyisakan dendam untuk beberapa generasi, maka syarat stabilitas politik untuk berjalannya ekonomi hanya akan menjadi mimpi.

***

Momen 4 November telah melengkapi data intelejen, seberapa besar berpengaruh kelompok intoleran, faksi anti Pancasila dan pro Khilafah di negeri ini. Gerakan besok dan juga proses beberapa minggu belakangan sudah membuka peta mereka. Siapa pengusaha, politisi, parpol, akademisi, LSM, media yang masuk dalam jejaring mereka. Menanamkan makna nasionalisme yang utuh merupakan bagian dari Revolusi Mental Jokowi, maka momen 4 November sudah sukses membuka sesuatu yang selama ini masih abstrak.

Proyek 4 November juga memperjelas siapa pihak yang tidak senang dengan tarian politik Jokowi selama ini. Siapa yang masuk koalisi tapi penuh dengan topeng. Data atas cara merespon seluruh pihak atas momen ini sangat dibutuhkan Jokowi sebagai senjata dalam memimpin negeri yang besar, multi etnis dan agama ini.

Salam NKRI

Jakarta, 3 November 2016.

a.zulkarnain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *